Cerita M. Ghufron, Kader Senior Pagar Nusa yang Istikamah sebagai Anggota Pasukan Inti Pengawal Kiai

(FOTO: GHUFRON FOR KM) KETAT: M. Ghufron, saat menjadi bagian dari pasukan inti yang mengawal ulama dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

KABARMADURA.ID | Terpilih sebagai pasukan inti pengawal kiai merupakan sebuah keberuntungan tersendiri bagi M. Ghufron. Sebab, tidak sembarang orang yang ditunjuk dan diamanahi mengawal ulama. Untuk masuk sebagai pasukan inti pengawal ulama diseleksi ketat.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

            Para pengawal tersebut biasanya mengenakan kostum hitam dan berdasi hijau. Sebelumnya, mereka telah dipilih khusus dan diberikan pelatihan serta pendalaman materi. Pasukan inti tersebut dibentuk dari Banom Nahdlatul Ulama; baik dari GP Ansor, Banser, dan Pagar Nusa.

Bacaan Lainnya

Saat seleksi, mereka akan ditempa terlebih dahulu dengan pelatihan materi dan strategi. Kemudian, setelah dinilai mampu beradaptasi, akan dilanjutkan dengan penetapan. Mereka akan dipilih secara acak untuk bergabung di setiap tim.

Pria yang akrab disapa Ghufron itu mengaku sudah lama menempati posisi sebagai pasukan inti Pagar Nusa. Ia menambahkan, menjadi bagian dari pasukan inti merupakan keinginan para anggota senior Pagar Nusa.”Ini sudah jadi impian banyak anggota senior, suatu kebanggaan bagi kita,” ucapnya.

Kata Ghufron, pengawalan kepada para kiai bukan hanya pengawalan biasa. Tetapi ada strategi yang dilakukan agar kiai yang dikawal benar-benar terlindungi. “Kita hanya bertugas mengamankan. Tidak boleh ada yang mendekati dari luar anggota kita,” paparnya.

Tidak hanya itu, ia mengungkapkan, salah satu strategi pengawalannya yaitu dengan menerapkan jarak minimal setengah meter antara kiai dengan orang-orang ketika sedang dikawal. Selanjutnya, pihaknya juga siaga dalam mensterilkan panggung atau tempat yang akan disinggahi oleh kiai. Setelah sampai di lokasi dan menaiki panggung, ada juga pengawalan pasukan inti yang berjaga di belakang kiai. “Biasanya ada yang model U, model berbaris, model lapis, dan model segitiga,” terang Ghufron.

Pasukan inti (Pasti) merupakan tim yang sengaja dibentuk sebagai ring pertama pengamanan kiai atau ulama. Ghufron menilai, lapisan ring pertama tersebut tidak bisa ditembus karena semua personel dituntut untuk selalu siaga.

“Kalau sudah diberikan mandat ini, tentu kita harus pertaruhkan semua, tidak boleh ada kesalahan,” ulasnya.

Ia merasa bangga termasuk bagian dari pasukan inti. Sebab menurutnya, ada kesempatan untuk berharap aliran barokah dari kiai. “Meski satu tim hanya berlima, kita harus bisa solid dalam waktu singkat, karena kita harus berbagi dan saling menjaga,” pungkasnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.