oleh

Cerita Mahasiswa Kristen di Madura yang Sering Ikut Berpuasa

KABARMADURA.ID – Madura dikenal dengan kultur islaminya. Salah satunya Bangkalan, wilayah yang menahbiskan diri sebagai Kota Dzikir dan Sholawat. Namun tidak semua warganya beragama Islam. Berdirinya perguruan tinggi negeri, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), cukup menambah ragam agama di Bangkalan.

FAIN NADOFATOL M, BANGKALAN

Munculnya komunitas non-muslim itu, salah satunya dari kalangan mahasiswa yang beragama Kristen. Mereka tergabung dalam Unit Kegiatan Kerohanian Kristen (UK3), salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di UTM.

Toleransi dengan agama lain mereka junjung. Selama Ramadan, perwakilan dari mahasiswa kristen UTM, Amos Leonardo Pakpahan, bercerita tentang indahnya menerapkan toleransi dan menghargai serta menghormati bersama kawan-kawannya yang beragama Islam.

Salah satu aktivitas yang dilakukan yakni membuat kegiatan bagi-bagi takjil dan ikut berpuasa sebagai bentuk penghargaan.

Inisiatif berbagi takjil dari UK3, kata Amos, merupakan kesepakatan bersama anggota. Hal tersebut sebagai tujuan dari UK3 itu sendiri, yaitu berbaur dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.

“Itu salah satu visi dan misi UK3. Biasanya setiap tahun wajib ada dari UK3. Tapi dikarenakan wabah Covid-19 seperti ini, kami membatasi kegiatan-kegiatan seperti berbagi takjil,” ujarnya, Selasa (20/4/2021).

Banyak pengalaman selama bulan Ramadan di tengah kaum muslim. Bahkan, dia juga sempat ikut berpuasa untuk menghargai teman muslim yang sedang menjalani ibadah puasa Ramadan. Amos pernah tidak makan dan minum karena saat berkegiatan bersama teman muslimnya mulai pagi hingga sore.

Dia menceritakan, waktu itu masih aktif kuliah luring sebelum wabah Covid-19, dia pernah kerja kelompok bersama teman-teman muslim. Pada saat itu, kegiatan kelompok bersama dikerjakan dari siang dan sore harinya baru selesai. Di situ dia juga ikut berpuasa, tidak makan siang ataupun minum.

“Karena saya tahu teman-teman saya sedang berpuasa maka saya menahan dahaga saya,” ujarnya.

Kemudian ketika mau berbuka, dia ikut diajak untuk buka bersama agar Amos bisa minum dan makan.

“Lalu saya ikuti saja mereka. Akhirnya kita makan bersama,” imbuhnya saat bercerita.

Selama bulan Ramadan di tengah-tengah rekan yang beragama muslim, dia juga mengingatkan anggota UK3 UTM untuk meninggikan toleransi. Dia juga mengingatkan agar menghargai teman-teman muslim yang sedang berpuasa dan tidak saling mengganggu. Seperti tidak makan dan minum di depan teman muslim.

Mahasiswi jurusan ilmu hukum ini juga sudah terbiasa dengan bulan Ramadan di saat teman-teman menjalani puasa.

Namun dia mengakui banyak yang menghadapi cobaan. Seperti warung-warung yang tutup dan sulitnya mencari tempat makan. Kalau adapun warung yang buka, katanya menu yang disajikan tidak seperti biasanya dengan pasti lauk yang sedikit.

“Dan untuk menghadapi warung-warung yang tutup, kami ada merencanakan masak sendiri di kos,” terangnya.

Banyak kesan yang dia dan teman-teman seagamanya alami selama menjadi mahasiswa UTM, utamanya saat berinteraksi dengan agama berbeda. Saat awal kuliah, belum terbiasa dengan lingkungan tersebut, karena harus ikut menahan lapar akibat banyak warung makan tutup.

Terkadang dia juga makan di depan teman-teman yang puasa karena lupa hidup di tengah masyarakat muslim. Namun, dia segera meminta maaf.

“Karena kami juga mungkin karena haus atau lapar jadi spontan makan sesuatu gitu di depan teman yang berpuasa,” tutupnya. (waw)

Komentar

News Feed