oleh

Cerita Orang Madura di Tengah Lockdown Arab Saudi

Cerita Orang Madura di Tengah Lockdown Arab Saudi

Kabarmadura.id – Arab Saudi tengah menerapkan lockdown di tengah wabah Covid-19 yang diterapkan berjenjang. Itu sejak 15 Maret 2020. Saat ini, terutama kondisi Kota Makkah tengah lockdown total. Kendaraan tidak bisa seenaknya berlalu-lalang atau harus membayar denda sebesar Rp40 Juta.

Orang Madura banyak bekerja di Arab Saudi, termasuk pria asal Kecamatan Lenteng, Sumenep Chmal Musthofa. Dia bekerja di proyek pembangunan Binladin Group yang tengah menggarap perluasan Masjidil Haram. Namun, pekerjaannya tengah terhenti di tengah masa lockdown.

Bagaimana ceritanya? Jurnalis Kabar Madura Syahid Mujtahidy berhasil mewawancarai secara eksklusif Musthofa yang tinggal di Kota Makkah, Arab Saudi itu.

Bagaimana kondisi Makkah, Arab Saudi sekarang?

Di sini lockdown sudah tidak kerja sebulanan. Di sini lockdown sejak tanggal 15 Maret (2020), tapi bukan lockdown total; hanya semua jamaah yang ada di sini sudah dipulangkan semua. Kakbah sudah ditutup waktu itu. Pokoknya terakhir lockdown total itu saat saya berhenti bekerja, sekitar tanggal 20 Maret 2020.

Bagaimana proses lockdown di Arab Saudi?

Kalau di sini itu proses sih. Kalau lockdown total pertama, dimulai dari kendaraan umum; semua taksi selain kendaraan pribadi, tidak boleh keluar, termasuk juga bis-bis itu, pokoknya kendaraan umum sudah tidak boleh waktu itu, yang boleh hanya kendaraan pribadi.

Terus seminggu berikutnya diubah lagi menjadi kendaraan pribadi tidak boleh jalan dari jam 7 malam sampai jam 6 pagi. Seminggu berikutnya dimajukan hingga jam 3 sore sampai jam 6 pagi. Baru sminggunya lagi menjadi lockdown total, tidak boleh keluar kecuali hanya beli sembako. Itu berlaku di zona merah.

Apakah di daerah Anda termasuk zona merah?

Kalau saya di Makkah sekarang rata-rata sudah zona merah. Saya awalnya di camp perusahaan, lalu dikarantina dipindah ke hotel. Di hotel kami di sini, sudah tidak boleh nongkrong di luar selama 24 jam, kecuali beli sembako, beli makan.

Bagaimana pekerjaan-pekerjaan di situ di tengah masa lockdown?

Kalau masalah pekerjaan itu emergensi. Yang masih kerja adalah rumah sakit, tempat makan, dan super market, tapi yang jual sembako. Di sini super market ada dua; lantai satu sembako, lantai duanya baju-baju, yang di atas itu tidak boleh dimasukin. Kalau saya di proyek pembangunan di Binladin dihentikan sementara, yang perluasan Masjidil Haram.

Jika tidak bekerja, bagaimana Anda menyambung hidup?

Kalau khusus pekerja Binladin, perusahaan tempat saya bekerja, memang sejak saya ada di sini masalah makan ditanggung perusahaan. Makan dan kendaraan, pokoknya semua ditanggung, kecuali alat mandi. Itu ditanggung perusahaan.

Iya sampai sekarang tetap juga ditanggung perusahaan, termasuk gaji tetap terhitung, hanya tidak bisa cair bulan ini, mungkin nunggu sampai Covid-19 hilang, tapi tetap dihitung gajinya.

Bagaimana nasib pekerja lain dari Madura di situ?

Banyak. Tapi kan di sini, di Makkah sendiri itu ada pekerjaan yang memang diambil khususnya orang Madura. Ada kerja di hotel, di rumah makan, di restoran, di pembangunan, dan pembimbing jamaah umroh.

Iya, sebenarnya pembimbing umroh itu tidak masuk pekerjaan di sini, di negara Saudi. Artinya bukan profesi, tidak terdaftar di kerajaan.

Apakah ada subsidi dari kerajaan?

Subsidi masuk ke perusahaan, tidak masuk ke perorangan. Kalau saya baca beritanya itu kemarin, kerajaan menanggung 60 persen dari tanggungan perusahaan kepada karyawan. Kalau kondisi tetap seperti ini ada kemungkinann akan dicutikan semuanya.

Kemarin perusahaan liburnya sampai tanggal 15 April, cuman ini belum selesai ditambah lagi. Tidak tahu ini sampai kapan, kerajaan itu kemarin mengeluarkan pengumuman dari tanggal 20 April selama 6 bulan ke depan. Perusahaan diberikan kelonggaran untuk mencutikan karyawan. Artinya dipulangkan ke negaranya masing-masing. Itu dalam kurun waktu 6 bulan paling lama.

Bagaimana sanksi yang melanggar peraturan lockdown?

Kalau yang kendaraan yang tidak punya surat jalan, di sini kan yang bagi kerja emergensi harus punya surat. Ketika nanti di pemeriksaan itu tidak punya surat, dia disanksi sebesar 10 ribu Reyald atau sekitar Rp40 juta. Kalau keluar tanpa surat khusus kendaraan. Kecuali kendaraan mengantarkan air, makan itu tanpa surat, tapi biasanya dikawal sama polisi.

Saya kemarin waktu dipindah dari camp dikawal polisi karena memang tidak boleh kendaraan tanpa izin. Kalau sudah jam 3 sore sepi. Kalau pagi dari pukul 6 sampai jam 3 sore, masih bisa kendaraan-kendaraan tertentu.

Bagaimana perkembangan kondisi penyebaran Covid-19 di Arab Saudi?

Kalau melihat statistik pasien, setiap hari itu bertambah terus. Walaupun di sini, angka kematiannya kecil tapi yang terinfeksi Covid-19 itu ada, bisa sampai 100 orang se-Saudi. Cuman hebatnya di sini alatnya agak canggih ya, yang meninggal sedikit, lebih banyak yang sembuh.

Bagaimana Anda komunikasi dengan teman-teman dari Madura lainnya?

Kalau saya dengan teman-teman dari Madura memang ditanggung sama perusahaan ya, cara makan dan kebutuhan-kebutuhan selama lockdown memang ditanggung. Cuman teman-teman lain yang kerja di luar terutama yang profesinya itu pembimbing umroh atau yang mereka itu ilegal, memang sendiri-sendiri.

Sekarang yang ilegal itu dilepas sama polisi yang kena tangkap. Iya cuman yang dilepas itu bukan narapidananya, cuman yang ilegal-ilegal, tetapi dia tetap dapat fasilitas gratis ketika dikena Covid-19, tetap boleh periksa ke rumah sakit negeri atau swasta secara gratis. Yang ilegal itu hanya tergantung masalah kebutuhan makan, karena subsidi dari pemerintah itu ke perusahaan.

Tapi di sini teman-teman yang dari Madura istilahnya makan di luar. Ada sebagian orang. Misalnya perusahaan A, tapi saya makannya di luar tidak menumpang ke perusahaan. Otomatis uang yang dikasih untuk makan itu dikasih sebagai gantinya.  Yang seperti itu, tidak dapat sekarang, iya tetap dihitung lewat gajinya saja. Misalnya gajinya 1 juta anggaran makannya 200, nanti dikasih 1 juta 200 tetap, tidak dapat jatah dari perusahaan lagi. (nam)

Komentar

News Feed