Cerita Pemilik Kafe yang Tutup Saat Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) Mohammad Hodli Direktur Kafe Afta Berkah 001

Kabarmadura.id/Pamekasan-Wabah Covid-19 telah memberikan banyak perubahan buruk terhadap banyak sektor kehidupan, termasuk keterperukan ekonomi yang dialami Mohammad Hodli, pemilik Kafe Afta Berkah 001.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bacaan Lainnya

Terpaksa harus tutup dan tidak memiliki pendapatan saat masa wabah Covid-19 menyerang Kabupaten Pamekasan, pria yang akrab disapa Hodli itu merasa kesulitannya hampir mencapai klimaks. Namun demi mengikuti anjuran pemerintah, ia memilih untuk mencari sumber pendapatan lain agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Selain karena anjuran pemerintah, Hodli mengaku karena peduli terhadap kesehatan dirinya dan keluarganya, tentunya juga kesehatan konsumennya. Hal itu lah yang membuatnya mengambil langkah menutup Kafe saat wabah Covid-19. Dia tidak

ingin hanya karena mementingkan urusan duniawi dan mengorbankan kesehatan keluarganya.

Selain itu, sebagai orang berpendidikan, pria yang lahir di Pamekasan pada 20 Mei 1987 itu juga mengerti bagaimana bahayanya Covid-19 ketika menyerang seseorang, serta ia juga tidak ingin jika ia memaksakan untuk membuka Kafe akan ditutup paksa aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Sebab, ia sering mendengar kabar terjadi Penutupan paksa oleh aparat keamanan bagi kafe yang tetap buka saat wabah Covid-19, ia tidak ingin hal serupa terjadi pada kafenya.

Beruntung, Mufarrohah yang tidak lain merupakan istri dari Hodli tidak kehabisan cara dalam membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga. Ia memilih untuk berjualan kosmetik secara online di saat wabah Covid-19, dengan begitu ia bisa sedikit meringankan beban suaminya di saat Kafe tidak lagi beroperasi lantaran wabah Covid-19.

“Saya tidak mau ambil resiko, daripada nyawa keluarga taruhannya, lebih baik saya mencari cara lain untuk bisa dapat penghasilan. Pekerjaan banyak kok, tergantung kitanya saja,” ungkap pria asal Desa Nyalabu Daya tersebut.

Akhirnya Tuhan berpihak kepadanya. Di tengah kesulitan yang dihadapi, ia diterima sebagai marketing perusahaan yang bergerak di bidang rangka atap, plafon dan kanopi. Untungnya pekerjaan itu freelance dan tidak mengharuskannya selalu bersentuhan dengan orang-orang. Dengan begitu ia masih tetap membersamai anak-isterinya.

Saat ini, Hodli mulai bisa sedikit bernafas lega karena tidak lama lagi pemerintah akan menerapkan kebijakan new normal yang akan kembali membuka kegiatan dan aktivitas sosial. Dengan begitu, ia bisa kembali membuka Kafe Afta Berkah 001 dan memiliki pendapatan harian lagi melalui kafenya.

Sembari menunggu dibukanya new normal, ia sudah mulai bersiap-siap untuk kembali membangkitkan usahanya. Sebab bukan hal mudah baginya untuk bangkit setelah keterperukan yang ia alami.

 

Namun, akan ada yang berbeda dengan Kafenya selama pemberlakuan new normal ke  depan. Sebab, orang-orang yang akan berkunjung ke kafe yang berlokasi di Jl. Raya Bettet tersebut akan banyak yang mengenakan masker dan tidak seperti biasanya, bahkan ia juga akan melengkapi kafenya dengan hand sanitizer demi menjaga kesehatan bersama.

 

“Setelah lama saya tutup kafe tanpa pendapatan, tidak mudah bagi saya untuk bangkit lagi. Ini perlu penataan dari awal, termasuk dalam penerapan protokol ke depannya,” pungkas alumnus Universitas Islam Madura tersebut.(pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *