oleh

Cerita Perawat yang Ketakutan di Tengah Wabah Covid-19

Kabarmadura.id/Bangkalan-Semenjak adanya wabah Covid-19 para perawat selalu siaga agar penyebaran Covid-19 mudah teratasi. Wabah Covid-19 terkadang membuat  masyarakat takut untuk berobat kerumah sakit, kabarnya masyarakat takut tertular oleh Covid-19.

Hal itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat saja, semua perawat juga merasa ketakutan, sebab rumah sakit atau pun puskesmas, tempatnya orag sakit, baik yang sakit jantung sampai ke Covid-19.

Keluh kesah itu tentang bagaimana perjuangan para tenaga medis maupun perawat saat menjadi garda terdepan dalam penangan Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh salah satu perawat Supriadi, dia merasa ketakutan ketika sudah waktunya bekerja, namun ketakutan yang ada di dalam pikirannya tidak membuatnya putus asa.

“Saya memang takut ketika melayani masyarakat, sebab Covid-19 mudah menular kapan saja dan dimana saja, ketika orang lain berkontak langsung dengan pasien yang Terinfeksi Covid-19,” ujarnya Kamis (21/5/2020).

Diceritakannya,  bahwa dia sempat disuruh berhenti oleh kedua orang tuanya untuk menjadi seorang perawat, sebab kedua orangnya sangat khawatir kepada buah hati yang bekerja sebagai perawat.

“Selama adanya Covid-19 saya sama kedua orang tua saya disuruh berhenti menjadi seorang perawat, tapi mau bagaimana lagi,  membantu serta merawat orang sakit itu sudah menjadi kewajiban dan tugas mulia,” tuturnya.

Supriadi mengaku bahwa saat ini tugasnya mengecek pasien serta mendata pasien yang pernah melintas di zona merah, bahkan yang keluar masuk kota.

“Rasaya takut saya semakin bertambah ketika saya mendata orang yang datang dari zona merah, walaupun takut, saya tetap aktif dan waspada,” curhatnya.

Selama bertugas pihaknya akui berkontak langsung dengan pasien yang dinyatakan bergejala atau tidak itu sudah biasa. Ketika kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi Covid-19 sudah biasa karena itu sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban.

Dirinya selalu meminta doa restu saat perjalanan beragkat kerja sebagai perawat. Ia tidak lupa meminta kepada doa kepada sang ibu agar didoakan selamat.

“Setiap berangkat kerja saya sering memeinta doa kepada ibu saya sebab, doa ibu yang mudah dikabulkan, setiap hari selalu begitu,” ungkapnya.

Dikatakannya, ketika bertugas sambil menggukan APD yang lengkap dirinya mengaku  tidak nyaman selain sumuk juga pernafasan tidak enak sepeti biasanya.

“Perjuangan seorang perawat tidak mudah sebab kita menjemput Pasien ataupun melayani pasien selelu menggunakan APD yang lengkap, untuk menjaga diri agar tidak mudah tertular dengan adanya virus tersebut,”  paparnya.

Untuk hari raya memnang menjadi hal yang menyedihkan bagi para perawat, sebab bagi perawat yang bertugas mau tidak mau harus masuk kerja.

“Perawat itu harus siaga mas  tidak peduli hari apa, walaupun lebaran perawat tetap beraktifitas,  menolong sesama lebih bahaiga darai yang lainnya ,” ujarnya.

Keluh kesahnya dirinya mengaku   gaji untuk kerja kerasnya tidak sama dengan kegiatannya gajinya, dirinya mengaku walaupn pihaknya masih berstatus sukarelawan.

“Tapi ya biarlah sepantasnya, sebab  yang  pegawa negeri sipil saja,  tidak akan mau jaga posko Covid.,” jelas Supri.

Dirinya enggan membuka berapa gaji perbulannya namun raut wajah lelah tergambar di keningnya.

“Kalau gaji di Puskesmas mungkin mas sudah paham berapa,untuk APD sudah banyak mendapatkan bantuan dari pada donatur baik dari Madura maupun luar Madura.  meskipun awalnya hanya APD pas pasan saja,” curhatnya. (sae/mam/waw)

Komentar

News Feed