oleh

Cerita Tentang Nasib Orang-orang Gaza

Oleh Amhad Farisi*

Secara psikologis, lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadapimajinasi seorang penulis, lebih-lebih penulis karya sastra. Kebanyakan, apa yang ditulis oleh para penulis sastra, adalah apa yang sedang ia alami dan sedang ia lihat di lingkungan sekitarnya. Bukti konkretnya adalah sejak kita memasuki era pandemi Covid-19 ini.

Yang mana, di koran-koran, di media online, atau bahkan di dalam buku-buku antologipuisidancepen,bencana sosial yang dialami oleh seluruh umat manusia ini menjadi topik dan bahasan yang tak ada habisnya bagi penulis sastra kebanyakan.

Ya, begitulah karya sastra. Ia selalu memosisikan diri sebagai alat rekam terhadap fenomena sosial yang sedang terjadi melalui pola pikir dan imajinasi penulis karya sastra itu sendiri. Tak terlebih dengan karya sastra berbentuk novel hasil kerja-kerja kreatifKirana Mahdiah Sulaeman ini, yang menceritakan tentang nasib dan kehidupan orang-orang Gaza, yang secara sosial politik sedang genting-gentingnya menghadapi kekejaman dan keberingasan tentara zionis Israel.

Posisi sosialnya sebagai perempuan yang lahir di Iran, telah mendorongnya untuk turut serta mendokumentasikan apa yang sedang ia saksikan, lihat dan dengar tentang Gaza (negeri tetangga Iran) dalam bentuk karya sastra.

Bagi saya, apa yang ditulis oleh Kirana adalah apa yang sedang terjadi di Gaza. Dengan kata lain, narasi-narasi sedap yang tersaji dalam buku novel ini benar-benar dicatut dari sekian peristiwa-peristiwa yang sedang dan sudah menjadi bagian dari nasib buruk orang-orang Gaza. Karena itu, membaca novel ini, kita akan diajak berpetualang menyusuri Gaza yang penuh dengan ancaman,kegetiran, rasa takut, puing-puing bangunan yang runtuh, dan bercak darah yang berhamburan di sana sini.

Menurut Kirana, (penulis novel ini yang merupakan perempuan kelahiran Qam, Iran, pada bulan November 2000 yang saat ini sedang menempuh program studi ilmu politik di Universitas Padjajaran), nasib buruk yang menimpa masyarakat Gaza bermula sejak Israel memblokade Gaza pada tahun 2007. Sejak itulah kata Kirana kemerdekaan orang-orang Gaza benar-benar mulai terampassecarahakiki.

Aktivitas-aktivitas yang dinilai menyuarakan perlawanan terhadap kekejaman tentara Israel mendapatkan ancaman. Bahkan, aktivitas di media sosial sekalipun juga tak luput dari intaian tentara Israel itu. Dikisahkan, akun FacebookNisreen, seorag aktivis mahasiswayang telah memiliki ribuan pengikut tiba-tiba diblokir. Yang letak masalahnya tidak jelas. Dikatakan, katanya postingannyamelanggar aturan standar komunitas. Padahal, postingannya—kurang lebih—hanayalah soal kebebasan dan kemerdekaan sebagai manusia.

Terampasnya kebebasan orang-orang Gaza pasca blokade Israel (2007) bukanlah satu-satunya nasib buruk yang dipotret oleh Kirana dalam novel ini. Susahnya air bersih, dan kebutuhan-kebutuhan primer lainnya yang hanya bergantung pada bantuan PBB, dan terganggunya aktivitas kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah dan universitas adalah hal lain yang tak luput dari perhatian Kirana. Kirana dengan cukup apik telah cukup sempurna memotret realitas sosial yang sedang terjadi di Gaza dengan tetap tanpa kehilangan nilai-nilai sastrawinya.

Buku ini, dalam hemat saya, adalah jalan lain—setelah atau sebelum informasi-informasi yang diberitakan oleh media-media mainstream lainnya—untuk memahami Gazadan nasib-nasib masyarakatnya yang hidup dengan kegetiran dan kegelisahan di sana.

Namun, bagi saya, selama karya sastra itu adalah produk manusia. Bukan produk Tuhan. Maka tak ada yang sempurna. Begitupun dengan buku ini. Meskipun karya Kirana ini telah sepenuhnya apik dalam menyajikan peristiwa-peristiwa empirik yang menimpa Gaza, dalam beberapa bagian Kirana tampak tidak konsisten dalam menyajikan data-data penting.

Sebagai contoh, misalnya, Kirana menyebut bahwa Gaza mulai diblokade oleh Israel sejak 2006. Namun, pada bagian selanjutnya, Kirana menyebut tahun yang berbeda perihal blokade yang dilakukan Israel, yakni pada 2007, (Yang benar 2007).Entah ini karena salah ketik ataupun yang lainnya, jelas ini adalah setitik noda hitam yang membuat baju putih menjadi tak lagi indah. Karena itu, kesalahan ini adalah catatan penting bagi karya inidikalarevesi.

*)Pegita literasi di Garawiksa Institute Jogjakarta

Judul               : Seketza Gaza

Penulis             : Kirana Mahdiah Sulaeman

Penerbit           : Diva Press, Jogjakarta

Cetakan           : September, 2020

Tebal               : 172 halaman

ISBN               : 978-602-391-976-5

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed