Cerita Warga tentang Banyaknya Orang Meninggal, Belum Sebulan Sudah 30 Orang

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ IST) BERMUNAJAT: Ratusan warga Desa Larangan Luar mengelilingi kampung-kampung membaca burdah sambil membawa obor.

KABARMADURA.ID – Ajal memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan. Namun menjadi tidak wajar jika dalam suatu daerah banyak orang meninggal setiap harinya. Seperti yang diceritakan warga Desa Larangan Luar, Adi Bahri.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Tanda kecemasan cukup nampak pada raut kepala Dusun Buddagan, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Pamekasan ini. Hari itu, Selasa (6/7/2021), dia baru saja mendengar pengumuman di masjid tentang warganya yang meninggal dunia.

Pengumuman itu bukan kali pertama yang dia dengar di hari itu. Karena sebelumnya sudah ada pengumuman serupa. Yang membuatnya heran, kabar meninggalnya warga di kampungnya selalu ada setiap hari. Bahkan sehari sebelumnya, dikabarkan tiga orang meninggal dunia.

Kata Adi, dalam satu bulan terakhir ini, hampir setiap hari masjid di kampungnya mengumumkan berita duka atas meninggalnya beberapa warga.

Baginya, orang meninggal dunia memang wajar, karena setiap sesuatu yang bernyawa akan kembali kepada Tuhan sang pencipta. Pada awalnya Adi berpikir demikian. Namun, semakin ke sini, keheranan campur khawatir mulai muncul. Karena dalam satu pekan terakhir, dia menghitung orang meninggal di kampungnya mencapai 15 jiwa.

“Setiap makhluk memang akan kembali ke yang maha kuasa. Tapi kalau setiap hari, sepertinya beda,” ucapnya.

Bahkan Adi menghitung, dalam sebulan terakhir hampir 30 orang di kampungnya dikabarkan meninggal dunia. Sebagian besar di antara mereka adalah kelompok lanjut usia (lansia) yang diawali dengan menderita sakit biasa layaknya keluhan sakit seorang lansia.

Meski tidak sampai membuat warga setempat panik, namun banyaknya orang meninggal di kampungnya cukup membuat warga setempat cemas dan heran bertanya-tanya. Sebab tidak hanya di kampungnya, di sejumlah desa lain di Pamekasan juga dikabarkan banyak orang meninggal.

“Hari ini saja orang meninggal dua. Kemarin tiga. Kemarin lusa satu orang,” ungkap Adi.

Kendati begitu, beber Adi, di antara seluruh warga yang meninggal dunia, belum ada yang secara resmi dikonfirmasi terinfeksi Covid-19. Namun, seiiring dengan beredarnya berita peningkatan kasus Covid-19, membuat warga setempat semakin mawas diri dan mulai terbuka pikirannya untuk mengikuti protokol kesehatan (protkes).

“Tahlilan sampai harus bergiliran. Habis Magrib satu, habis Isya dua,” ungkap Adi.

Saking banyaknya warga meninggal dunia dalam waktu berdekatan, tokoh masyarakat setempat mengimbau agar warga Larangan Luar membaca salawat burdah sambil mengelilingi Desa Larangan Luar. Tidak tanggung-tanggung, ratusan warga ikut jalan kaki burdah keliling sambil membawa obor.

“Harapannya semoga wabah Covid-19 ini segera berakhir. Dan seluruh warga diberikan kesehatan, panjang umur,” ungkap Adi. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *