oleh

Cheng Ho: Islamkan Nusantara

Peresensi: Ashimuddin Musa

Pada tahun 1968, terbit sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Slamet Muljana “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”. Buku itu mengajukan argementasi kontroversial. Bahwa Walisongo  yang kita kenal sebagai penyebar Islam di Jawa adalah keturunan Tionghoa. Segeralah buku Muljana ini menimbulkan respon hangat dari para sejarawan.

Di tengah suasana politik dan kebudayaan sangat antikomunis dan anti-China yang tengah berkecamuk saat itu, penguasa Orde Baru langsung saja menyetop peredaran buku tersebut, dan bahkan melarang diskusi terbuka mengenai isu yang dianggap kontroversial itu. Alasannya klasik, “demi menjaga keamanan dan ketertiban”. Sebuah alasan untuk membatasi kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Kini keadaan telah berubah. Suasana lebih terbuka pada masa pasca-Orde Baru seperti yang sedang kita nikmati bersama seperti sekarang ini, memberikan kebebasan menyampaikan pendapat, betapapun kontroversialnya topik yang kita kemukakan. Dalam udara kebebasan yang begitu loggar itu, buku kontroversial tersebut diterbitkan kembali, yaitu pada tahun 2006.

Topik tentang adanya arus China dalam Islamisasi di Asia Tenggara itu menimbulkan ketertarikan sebagian sejarawan akan tokoh yang bernama Cheng Ho. Buku ini menggambarkan dengan baik bagaimana peran Cheng Ho dalam proses Islamisasi di Nusantara. Adanya pengaruh Islam dari China -seperti ditegaskan Agus Sunyoto, “Atlas Wali Songo“- yang tidak boleh dilewatkan adalah yang berhubungan dengan kunjungan Laksamana Cheng Ho yang dimulai tahun 1407 M, yang sebelum ke Jawa singgah terlebih dahulu ke Samudera Pasai menemui Sultan Zainal Abidin Bahiansyah dalam rangka afiliasi politik dan perdagangan.

Pengaruh muslim Tionghoa dalam penyebaran Islam, setidaknya terlihat pada bukti-bukti arkeologi. Pada masjid-masjid kuno yang dibangun pada perempat akhir abad ke-15 seperti Madjid Agung Demak, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Kudus, dindingnya banyak ditempeli piring porselen dari Dinasti Ming. Gaya Atap bertingkat banyak merupakan karakteristik arsitektur China dan Jawa selama beberapa abad; dan ini tidak dikenal di Timur Tengah (hlm. 218).

Selain misi Cheng Ho untuk penaklukan Nusantara juga ada misi dakwah Islam, tetapi Islam (Syafi’iyah, berbeda dengan madzhab China) sudah berkembang dengan baik terutama di pesisir Jawa, maka Cheng Ho merasa cukup dan kemudian hanya ekspedisi atau pelawatan di Nusantara.

Pascakematian Cheng Ho, muslim China terbelah menjadi dua, sebagian bersikukuh tetap menjadi entitas China muslim yang eksklusif, tertutup dan lebih melihat ke dalam, dan karenanya berlanjut untuk tetap  terpisah dari arus utama masyarakat Jawa. Sebagian sepakat lebih terbuka untuk mendekati masyarakat Jawa yang lebih luas.

Akhirnya, dari China muslim yang progresif inilah kemudian berhasil membentuk sebuah kelompok yang nantinya memulai sebuah gerakan kebangkitan pembarunan agama. Mereka segera mendirikan komunitas pertama muslim berbahasa Jawa dan mempelopori gerakan Islam Jawa. Kelompok itu juga mendirikan negara Islam pertama di Jawa, yakni kesultanan Demak pada akhir abad ke-15. Banyak dari tokoh kelompok itu dianggap sebagai guru-guru sufi dan meningkatkan statusnya menjadi orang-orang suci yang disebut sembilan wali (Walisongo) (hlm 354).

Buku ini menyajikan informasi lebih lengkap dari penelitian sebelumnya tentang proses penyebaran Islam khususnya di Nusantara. Dengan diterbitkannya buku ini, Dr. Tan telah memperkuat asumsi, dengan didasarkan pada penelitian atas bukti-bukti tertulis, mengenai adanya “arus ketiga” di wilayah ini. Selama ini kita hanya mendengarkan dua arus utama, yakni arus India atau Gujarat dan arus hubungan langsung dengan Timur Tengah melalui kontak perdagangan.

 

Penulis merupakan alumnus Instik Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep.

 

Keterangan Buku:

Judul Buku: Penyebar Islam dari China ke Nusantara

Penulis: Tan Ta Sen

Penerbit: Kompas Media Nusantara

Tahun: 2018

Tebal: 428

ISBN: 978-602-412-414-4

Komentar

News Feed