oleh

Cinta Yang Salah

Oleh: Hassya Candrawati Putri

Sejak Ibu meninggal, Bapak menjadi lebih bahagia.

Aku menginjakkan kaki di atas ubin vinyl berwarna cokelat muda yang membuat gema seisi rumah. Aku berhenti di sebuah pintu kamar berbahan dasar kayu jati, mengintip sedikit pada jendela tinggi ramping tepat di samping pintu. Terlihat seorang lelaki tua duduk di ranjang, tangan kanannya memeluk boneka beruang besar bewarna cokelat. Dengan kaku, tangan satunya meraih bunga kertas yang berada di nakas ranjang, menghirup-hirup bunga kertas layaknya bunga asli. Ia tertawa, terlihat senang dengan apa yang Ia lakukan barusan.

Terlihat bahagia sekali, bukan?

Aku menghirup napas dalam-dalam, melepasnya perlahan. Ini sudah rutinitas kesekian kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Tapi tetap saja aku belum terbiasa sedikit pun. Perlahan kubuka pelan pintu kamar.

“Kau!”

Nyatanya tetap sama saja. Tak peduli, aku tetap membuka pintu yang masih setengah terbuka.

“Kau siapa?! Mana larasati? Kau kemanakan dia?”

Lelaki tua itu bersiap melemparkan bonekanya ke arahku.

“Ini aku, pak.” Suaraku tercekat, menahan seluruh rasa yang terasa amat sesak tiap mendengarnya bicara.

“Siapa?”

“Aku, pak! Adam, anakmu.”

“Aku tidak tanya … !” Lelaki itu berteriak marah, “Pergi kamu!”

Lagi-lagi seperti ini. Berteriak-teriak bertanya, ketika dijawab justru semakin marah. Tapi aku memakluminya karena berbeda keadaan. Memaklumi pula jika Ia tak menganggapku anaknya. Aku tersenyum getir untuk kesekian kalinya, menerima seluruh makian yang menggema di seisi ruangan kamar.

Tiba-tiba seseorang memanggil namaku dengan keras. Aku tidak menoleh, jelas mengetahui siapa yang baru saja memanggilku.

“Aduh! Sudah kubilang jangan masuk sendirian tanpa didampingi. Kau tidak ‘dihujani’ sesuatu kan?”

Itu Dokter Ryan. Ia beralih mendekati lelaki itu, menenangkan, kemudian menyuruhku untuk keluar dari ruangan.

Dokter Ryan menutup pintu ruangan, membiarkan lelaki itu tetap di dalam dengan boneka dan bunga kertasnya. Dokter Ryan menghela nafas, menatapku.

“Lain kali hubungi aku dahulu sebelum masuk, Adam. Apa susahnya tinggal menelepon. Aku selalu khawatir denganmu.”

“Khawatirlah dengan Bapakku, Dok.”

Dokter Ryan tertawa kecil. “Itu sudah pasti, Ia prioritas utamaku.”

Aku kembali menatap jendela, mencoba mengintip kedua kalinya. Berbeda sekali keadaannya sekarang, seakan lupa bahwa tadi baru saja ada orang asing masuk ke ruangannya. Tangan kakunya kembali memeluk boneka cokelat, mulutnya bergerak-gerak seakan mengajak bicara benda mati di hadapannya. Bapak tertawa-tawa lagi di hadapannya.

Lihat, bahkan benda mati lebih dihargai olehnya dibanding aku.

“Keadaanya tetap baik. Makan, mandi, dan hal lainnya Ia turuti selalu tanpa memberontak. Hanya saja, kau sudah tahu aturan mainnya, bukan?”

Aku mengangguk lemah.

Aturan main yang menyakitkan. Ada satu hal yang membuat Bapak tidak terkendali. Yaitu aku, anaknya sendiri. Bapak tetap bertingkah normal selagi aku tak terlihat di matanya. Berbeda jika aku muncul di hadapannya. Ia akan otomatis melempar barang yang ada di dekatnya dengan teriakan-teriakan penuh amarah—menyuruhku segera pergi dari hadapannya. Bahkan mendekati Bapak untuk sekadar memegang tangannya itu suatu hal yang mustahil bagiku.

“Kau masih ingin tetap disini atau pulang?”

Aku diam. Pilihan ini selalu sulit. Aku tak ingin pulang secepat ini, tapi percuma saja aku berlama-lama di tempat ini. Toh, Bapak tidak akan peduli dengan anaknya yang setiap hari datang untuknya.

Aku putuskan untuk pulang.

***

Bapak berubah ketika mendengar kabar Ibu telah meninggal. Ibu meninggal karena kista yang bersarang di rahimnya pecah. Penanganan Ibu terlalu lambat sehingga pendarahan yang dialaminya berujung kematian. Sehari setelah Ibu dimakamkan, Bapak lebih banyak diam menatap foto pernikahan mereka 28 tahun silam. Rutinitasnya hanya berdiam duduk di ruang keluarga di bawah cahaya remang sambil memandang pilu foto-foto yang terpajang di dinding. Setelah itu Bapak mulai bertingkah ganjil layaknya anak kecil. Boneka beruang cokelat milik anakku dibawanya untuk menemaninya duduk di antara pigura-pigura foto hitam-putih ruang keluarga, diajaknya bicara seakan-akan itu adalah Ibu. Bukan lagi Bapak yang dulu. Sampai suatu hari di mana Bapak benar-benar membenciku.

“Siapa kamu?”

Pertanyaan Bapak sontak membuatku tidak percaya.

“Pak, Ini Adam!”

“Siapa Adam?”

“Aku anakmu!”

“Aku ini tak punya anak. Siapa kamu?”

“Aku anakmu, Pak! Anak satu-satunya Larasati dengan Malim!”

Bapak mendadak gusar, matanya berkilat marah.

“Beraninya kau menyebut nama Larasti! dimana Ia?! Mana larasati?!”

Bapak dengan cepat mengambil vas bunga kaca yang berada di atas meja, melemparkannya ke arahku. Untunglah aku tidak terkena lemparannya. Tetangga sekitar yang mendengar suara keributan dari rumah kami langsung membantu menenangkan Bapak.

Hari itu aku tahu Bapak benci dengan semua hal yang menyangkut Ibu.

Aku berupaya mengobati Bapak. Kukirim dokter yang akan menemaninya setiap saat di rumah. Dari sanalah aku tahu Bapak mengidap penyakit skizofrenia. Bapak merindukan Ibu. Dalam hidup dan jiwanya hanya terisi wajah Ibu, melupakan wajahku.

***

Aku memutuskan kembali menjenguk pada malam hari.

Sebulan terakhir aku belum pernah menjenguknya di malam hari sampai Dokter Ryan mengambil jalan terbaik kapan waktu terbaikku melihat kondisi Bapak. Yaitu saat Bapak tengah tertidur.

Aku menghela nafas, membuka daun pintu, menyalakan lampu kamar. Aku tersenyum kecil. Akhirnya aku bisa masuk tanpa disambut oleh barang-barang yang ada. Di sana, di atas ranjang, Bapak tertidur membelakangiku dengan boneka beruang cokelat. Aku beringsut mendekatinya. Terlihat jelas wajah Bapak yang tidur amat tenangnya. Padahal seingatku Dokter Ryan pernah berkata bahwa penyakit Bapak membuatnya kesulitan tidur. Entahlah, tapi kali ini aku melihatnya sedang bermimpi indah. Aku menatapnya cukup lama, kapan lagi aku bisa melihat wajah tenang Bapak?

Kresek…..!!!!

Sesuatu jatuh melayang dari tangan Bapak. Dengan cepat aku mengambilnya sebelum jatuh masuk kebawah kolong ranjang.

Sebuah foto hitam-putih berukuran 3×4.

Kulihat lebih jelas bahwa itu adalah foto Ibu. Hatiku berdesir.

Aku tidak tahu seberapa besar cinta Bapak pada Ibu. Aku tidak tahu seberapa jauh perjalanan cinta mereka. Bapak tidak pernah menceritakannya padaku seutuhnya. Tapi jauh di atas hal itu, aku mulai percaya bahwa manusia bisa gila karena cinta. Contoh nyatanya adalah Bapak. Dari Bapak aku belajar satu hal bahwa cinta dapat membunuh karena saking cintanya. Aku tidak menyalahkan Bapak, terlebih menyalahkan Ibu. Yang jelas, Bapak salah mengartikan kata cinta sejati.

 

Kutatap lamat-lamat Bapak yang masih terlihat tidur nyenyak. Tapi perasaan ini ganjil sekali. Aku meraih tangan Bapak. Dingin.

Saat itulah aku percaya Bapak telah menjemput Ibu di sana, menjemput cintanya yang membuat Ia tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang halusinasi. Bapak telah lama memedam rasa ini sendirian. Aku terisak.

 

Hassya Candrawati Putri. Lahir di Yogyakarta pada 01 September 2003. Hari ini sedang menempuh pendidikan di MA IGBS Darul Marhamah Cileungsi, Bogor. Senang menulis apa saja sekaligus penggemar berat Tere Liye sejak duduk di bangku Tsanawiyah. HP/WA: 082337852940

 

Komentar

News Feed