Ciptakan Pestisida dari Rempah Tradisional, Mahasiswa UTM Permudah Petani Basmi Hama

  • Whatsapp
KREATIF: Para mahasiswa UTM saat meracik pestisida dari bahan tradisional di Desa Gili Barat, Kecamatan Kamal, Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Masyarakat Desa Gili Barat dikenal luas rata-rata berprofesi sebagai petani. Sebagai petani, masyarakat tentu membutuhkan pestisida sebagai pembasmi hama untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman. Umumnya, pestisida terbuat dari ,bahan kimia dan berbahaya terhadap kesehatan dan tidak ramah lingkungan. Tetapi mereka tetap menggunakannya karena tidak memiliki pilihan lain.

Sehingga problematika itulah yang mendorong para mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang sedang melakukan praktik kuliah kerja nyata (KKN) tematik di desa tersebut membuat terobosan baru.

Bacaan Lainnya

Para pemuda itu menggandeng perwakilan anggota balai penyuluhan pertanian untuk mengedukasi masyarakat tentang pembuatan pestisida nabati. Yakni pestisida yang terbuat dari bahan alami tanpa campuran bahan kimia sehingga tidak berbahaya.

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura Fakultas Pertanian Fariha Sya’bania menjelaskan, bahan dasar dari pestisida nabati tersebut adalah kunyit, lidah buaya, jahe dan bawang putih yang semuanya itu mengandung unsur bau yang menyengat sehingga bisa membunuh hama.

“Bahan yang dipilih memang dari rempah, agar masyarakat mudah membuatnya juga,” tuturnya.

Semua bahan diberi air dan kemudian proses penghancurannya menggunakan blender. Setelah itu dimasukkan dalam wadah yang tertutup rapat dan didiamkan selama 2 hari. Baru setelah 2 hari bisa digunakan sebagai pestisida.

“Proses fermentasi ini adalah proses pentingnya, karena itu waktunya harus tepat,” jelasnya.

Selain itu Novika Librayani yang juga menjadi anggota di kelompok tersebut menuturkan bahwa kegiatan itu dilakukan untuk memberikan pengetahuan segar sekaligus inovasi baru bagi para petani. Sehingga bisa memanfaatkan hasil tanaman yang ada di sekitar dan sekaligus meminimalkan biaya untuk pembelian pestisida.

“Karena menggunakan bahan rempah, jadi biayanya juga tidak banyak, dan bahkan juga aman untuk tanamannya,” paparnya

Perempuan yang akrab disapa Novika itu berharap agar kelompok tani yang ada di Desa Gili Barat mampu membuat pestisida dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang tidak berbahaya serta tidak mencemari lingkungan.

“Pestisida nabati ini relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residunya mudah hilang dan aman dikomsumsi manusia,” tandasnya.

Ketua kelompok tani Sumber Rejeki Moh Rohli menyampaikan bahwa dirinya semula tidak percaya dengan pestisida yang dibuat para mahasiswa itu. Tetapi setelah dicoba, ternyata terbukti bisa mengusir hama wereng.

“Saya awalnya tidak percaya, karena bahannya juga terlalu sederhana,” ungkapnya.

Tetapi setelah terbukti, Rohli malah berharap agar para pemuda juga bisa menciptakan pestisida untuk mengusir hama tikus. “Kalau seperti ini saya malah butuh juga untuk bahan tikus,” pungkasnya. (hel/maf)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *