oleh

Covid-19 dan Ancaman Hilangnya “Pol-Kompolan” Orang Madura

Oleh: Fitriatul Laili*

 

Sejak diumumkannya 2 orang asal Depok terkonfirmasi positif terjangkit virus dari Wuhan dalam jumpa pers oleh Presiden RI pada tanggal 03 Maret 2020 kemarin, lebih dari satu bulan Indonesia mengalami masa pandemi Coronavirus Desease 2019 (Covid-19). Sejak saat itu, himbauan-himbauan terus bermunculan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, bahkan sampai pemerintah kabupaten.

Penerapan social distancing (pembatasan jarak sosial) dan pyisical distancing (pembatasan fisik) oleh pemerintah dianggap akan memudahkan dalam memutus rantai penyebaran virus mematikan tersebut. Dengan hastag yang lagi viral saat ini “#dirumahaja” pemerintah menggerakkan petugas Satpol PP untuk membubarkan tempat yang menjadi kerumunan, seperti Cafe, warung kopi, dan taman hiburan. Bahkan alun-alun Kota Pamekasan pun sudah ditutup sejak 26 Maret 2020. Hal ini tidak lain untuk mencegah terjadinya kerumunan di tempat umum. Tidak hanya di Pamekasan, Kabupaten Sumenep dan Sampang yang saat ini masih dikategorikan zona hijau pun juga menerapkan hal serupa.

Kebijakan ini cukup baik untuk diterapkan di masyarakat, namun ada suatu kekhawatiran yang dianggap dapat memudarkan kebiasaan orang Madura. Sebagaimana yang kita tahu, Madura memiliki sistem kekerabatan dan jalinan sosial yang cukup erat antar masyarakat. Kebisaan “pol-kompolan” orang Madura menjadi cara untuk mengeratkan ikatan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Pol-kompolan ini biasanya dilakukan dalam kegiatan formal maupun non formal. Kegiatan formal yang dimaksud ialah seperti koloman (pengajian), arisan, dan sebagainya. Sedangkan non formal seperti halnya membantu tetangga, gotong royong atau bahkan duduk berkumpul untuk sekedar bercanda dan sebagainya.

Kebiasaan semacam ini sudah menjadi lazim untuk dilakukan oleh orang Madura. Pol-kompolan menjadi salah satu cara untuk tetap mengeratkan kekeluargaan orang Madura. bahkan kebiasaan ini juga dilakukan oleh orang Madura di daerah perantauan. Mereka mengadakan perkumpulan dalam bentuk arisan, pengajian sesama orang Madura, karena mereka menganggap semua orang Madura adalah saudara (taretan jhau:red).

Namun semenjak merebaknya penyebaran Covid-19, kebiasaan ini nyaris tidak terlihat lagi di beberapa wilayah di Madura. Koloman yang seharusnya diselenggarakan setiap minggu sekali atau setiap bulan, sekarang sudah ditiadakan hanya karena pandemi Covid-19 tersebut. Tidak hanya di kalangan masyarakat, koloman pemuda yang biasa disebut “ngopi” pun sudah mulai tidak terlihat lagi di beberapa cafe di Pamekasan, bahkan di kabupaten lainnya. Hal ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) pemerintah yang melarang untuk mengadakan kegiatan yang mengumpulkan banyak massa.

Hilangnya kebiasaan pol-kompolan di tengah pandemi Covid-19 ini dapat berangkat dari kemungkinan-kemungkinan tertentu. Pertama, masyarakat mematuhi himbauan pemerintah. Berangkat dari kemungkinan pertama ini, masyarakat enggan untuk melakukan perkumpulan, kecuali dalam situasi yang darurat dan memaksa. Selain itu, juga disebabkan adanya ancaman dengan beberapa sanksi yang akan diterapkan apabila mereka memaksa melakukannya, seperti apabila melakukan pesta pernikahan akan dipenjara 1 tahun 1 bulan.

Kedua, rasa takut dan khawatir yang begitu besar. Tidak perlu dihimbau, masyarakat yang memiliki rasa khawatir yang besar dengan sendirinya akan menghindari kerumunan. Mereka khawatir dengan adanya Covid-19 di antara mereka. Sehingga mereka lebih memilih untuk tidak berkumpul dengan orang-orang di luar rumah. Kemungkinan jenis ini, menurut saya lebih berbahaya dari yang pertama, karena rasa hati-hati yang berujung pada curiga sering kali mengganggu orang di dekatnya.

Pada dasarnya, kita tidak pernah tahu sampai kapan wabah ini akan terus berlanjut dan tidak tahu pula kapan akan berakhir. Namun yang paling jelas, semakin hari jumlah pasien wabah ini terus bertamah, seperti Pamekasan yang sampai tanggal 17 April 2020 ini sudah berjumlah 5 orang positif Covid-19. Sehingga, himbauan-himbauan dan pemantauan pemerintah semakin gencar dilakukan.

Semakin lama wabah ini berada di masyarakat, maka tradisi pol-kompolan orang Madura akan semakin lama pula menghilang di beberapa wilayah. Bahkan kita juga tidak tahu, apakah setelah wabah ini selesai, tradisi tersebut dapat dikembalikan lagi atau tidak? Karena tidak menutup kemungkinan, ketika orang sudah nyaman dengan kebiasaan individualnya, mereka akan tetap melakukan meskipun yang menjadi penyebab awal sudah hilang di masyarakat.

 

* Mahasiswa Prodi Tadris IPS Semester 6 IAIN Madura. Pengurus UKK LPM Activita, UKM PI & Riset, dan HMPS Prodi Tadris IPS IAIN Madura 2019-2020.

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed