oleh

Covid-19 dan Teologi Kematian

Oleh: Moh. Jufri Marzuki

Tadi malam, tepatnya ba’da shalat maghrib, saya menghadiri sebuah undangan di dusun sebelah. Orang sekampung lebih sering menyebutnya kondangan, karena acara intinya adalah do’a bersama dalam rangka memperingati 40 hari meninggalnya salah seorang almarhumah dari keluarga shohibil hajah atau pengundang. Dan yang pasti, duduknya lesehan.

Mungkin karena mengikuti himbauan Pemerintah Desa dan Polsek setempat, jumlah terundang yang hadir tidak banyak, dan di pintu masuk disediakan galon berisi air bersih. Di sampingnya, ada sabun cair untuk cuci tangan para hadirin sebelum duduk di tempat yang disediakan. Maklum, wabah Covid-19 sedang melanda. Inilah bentuk kehati-hatian tuan rumah, untuk menghindari penyebaran Virus Corona.

Tidak ada physical distancing, karena kapasitas tempat duduk yang sangat terbatas dan tidak memungkinkan untuk menciptakan jarak antara satu orang dengan orang lainnya. Jabat tangan pun yang biasa dilakukan secara massal, hanya berlangsung dalam skala kecil. Sebatas menghormati teman duduk di samping kanan dan kiri. Artinya, semua dilakukan serba hati-hati tanpa mengurangi hak pengundang untuk dihadiri.

Acara dimulai. Iftitah bisurotil fatihah, dipimpin oleh seorang ulama’ sekaligus tokoh agama kharismatik, pengasuh salah satu pesantren di daerah kami. Setelah mengkhususkan fatihah kepada al-marhumah dimaksud, sang tokoh menyempatkan diri memberikan pengantar sebelum melantunkan fatihah terakhir yang ditujukan untuk keselamatan bersama dari ganasnya predator berukuran mikro bernama Virus Corona.

“Fatihah yang terakhir mari kita khususkan kepada kita semua yang hadir di tempat ini, dengan harapan semoga Allah melindungi kita semua dari pandemi Covid-19. Virus Corona adalah makhluq ciptaan Allah, maka kita harus minta perlidungan kepada yang menciptakannya. Takutlah kepada Allah melebihi takut kita pada Corona, karena saat ini banyak orang yang lebih takut kepada Corona melebihi takutnya kepada Allah”. Kira-kira demikian redaksi tausiyah yang beliau sampaikan.

Seakan, beliau ingin mengatakan bahwa Corona telah melemahkan ketakwaan kita kepada Allah. Rasa takut akan terjangkit mewabahnya Virus Corona, seperti mengalahkan rasa takut kita kepada Allah.

Padahal, takut kepada Corona berbeda dengan takut kepada Allah. Takut kepada Allah dibuktikan dengan sejauh mana kemapuan kita dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan takut kepada Corona diwujudkan dengan bentuk ikhtiar maksimal kita untuk dapat terhindar dari virus tersebut. Seperti menjaga jarak sosial, pakai masker, rajin cuci tangan, menjaga kebersihan, berolah raga dan menjaga stamina.

Takut kepada Corona, seperti ditulis oleh Gus Hazmi, salah satu Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqoyah Guluk-guluk Sumenep di status Facebooknya, adalah seperti takut pada Polisi karena tidak memakai helem, takut kolesterol naik kalau makan udang, takut diserang singa kalau buka kaca di Taman Safari, dan semacamnya.

Artinya, takut kepada Corona adalah rasa takut yang bersandar pada Sunnatullah atau hukum sebab akibat. Sebab kita lalai terhadap anjuran tim medis maka akibatnya kemungkinan akan terancam wabah Covid-19 menjadi terbuka.

Sekedar analogi, saya pernah membaca buku karya Hasby As-Shiddiqie. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa di Meksiko terdapat sebuah bangunan kasino yang menjulang tinggi dan megah. Disampingnya, terdapat sebuah bangunan Masjid yang juga tinggi dengan kuba dan menara yang menjulang indah. Seperti layaknya kasino, di dalamnya banyak sekali kegiatan maksiat yang dilarang agama. Mulai dari judi, meminum alkohol hingga aktifitas yang mengarah pada pemuasan nafsu seksual.

Sedangkan masjid di sebelahnya, justru menyajikan pemandangan yang sangat kontras. Di dalamnya, aktifitas ibadah sangat khusyuk dilakukan oleh pengunjungnya. Hingga tak tampak sedikitpun perilaku yang mengarah pada dosa dilakukan disana.

Suatu ketika hujan deras terjadi, angin kencang menerpa dan petir besar melanda Masjid dan kasino yang jaraknya hanya bersebelahan itu. Orang-orang mengira, yang akan roboh dan hangus terbakar kilatan petir adalah kasino, karena sarang maksiat dan dosa. Bukan masjid, karena tempat suci ibadah dan lumbung pahala.

Tapi ternyata salah. Yang roboh dan hangus tersambar kilatan petir justru masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, dan kasino sebagai sarang kemaksiatan itu justru tetap tegak berdiri megah.

Setelah diperiksa, barulah diketahui penyebabnya. Ternyata kasino tersebut memiliki penangkal petir yang selama ini tidak dimiliki oleh masjid. Sehingga resiko tersambar petir lebih besar menimpa bangunan masjid, meski diidentikkan dengan tempat suci, rumah Tuhan serta pusat kegiatan beramal dan beribadah.

Sepertihalnya cerita di atas, ketakwaan yang dilambangkan dengan aktifitas ibadah di dalam masjid dan ketidak takwaan yang ekspresikan dengan perilaku amoral di dalam bar atau kasino tidak selalu simetris dengan takdir baik dan buruk seseorang. Bukan berarti karena mengandalkan ketakwaan lalu kita terhindar dari musibah atau marabahaya. Bukan berarti pula jika abai dan jauh dari ketakwaan lalu akan selalu apes, celaka dan tidak bisa lari dari adzab serta malapetaka.

Kaitannya dengan musibah Corona, maka sebagai pemeluk agama yang taat sikap terbaik adalah pasrah pada takdir. Dengan catatan, setelah melakukan serangkaian tata cara menangkal atau menghindar dari Covid-19. Secara umum, takdir Allah terjadi setelah melalui perantara hukum kausalitas atau hukum alam. Itulah yang kemudian disebut dengan sunnatullah.

Hukum sunnatullah di masa pandemi seakan mengajarkan sebuah rumus teologi kematian ; sebab kita patuh pada anjuran protokol tim medis penanggulangan persebaran Covid-19, maka akibat baik yang akan diterima adalah keselamatan nyawa kita dari kematian mengenaskan oleh predator liar bernama Virus Corona.

Jika kita mampu menampilkan perilaku hidup sehat sesuai prosedur, aturan, anjuran dan rambu yang berbasis ilmiah serta kode etik kesehatan yang dikeluarkan tim medis, maka Allah – menurut hukum sunnatullah – tidak segan-segan memberikan hadiah takdir kesehatan dan keselamatan dari wabah Corona sebagai hak wajib bagi kita. Dengan catatan, tetap diiringi dengan do’a yang berpangkal pada iman dan takwa kita kepada Allah yang Maha segalanya. Amin!

*) Penulis adalah penikmat “stay at home” bersama keluarga, hingga pandemi mereda.

Komentar

News Feed