oleh

Covid-19 di Pamekasan dan Sampang Mulai Merembet Jadi Klaster Pasar Tradisional

Kabarmadura.id/PAMEKASAN/SAMPANG–Tambahan pasien terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 di Kabupaten Pamekasan, diyakini bakal memunculkan klaster baru dalam penyebaran wabah Covid-19. Sejauh ini, sudah 14 orang terinfeksi Covid-19 setelah ada 2 tambahan baru per 20 Mei 2020. Keduanya teridentifikasi sebagai pasien ke-13 dan 14 Pamekasan, atau kemudian disebut Pasien 13 dan 14.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodirdjo (RSUD Smart) Pamekasan dr. Syaiful Hidayat menjelaskan,dari hasil pelacakan, keseharian Pasien 14 bekerja sebagai pedagang di Pasar Kolpajung. Dia diduga kuat tertular oleh pasien terinfeksi lainnya yang yang berasal dari Desa Pangorayan.

Sebab, Pasien 14 merupakan tetangga dari pasien terinfeksi Covid-19 sebelumnya dari klaster haji, bahkan dikabarkan saling mengenal.

“Itu tertular dari pasien positif sebelumnya, dia kan dari Pangorayan, masih tetangga itu, di Pangorayan kan ada empat pasien positif, jadi itu,” ungkapnya.

Dengan begitu, ujar Syaiful, pelacakan langsung  dilakukan di Pasar Kolpajung dan rapid test sudah dilakukan kepada orang-orang yang berkontak dengannya.Jika di kemudian hari terdapat pasien dalam pengawasan (PDP) atau terdapat pasien terinfeksi Covid-19 yang terlacak dari Pasar Kolpajung, maka dapat dipastikan ia ditulari oleh Pasien 14.

Sehingga menurutnya, di Kabupaten Pamekasan bakal terdapat sub klaster baru yang berawal dari klaster haji,untuk selanjutnya dimungkinkan klaster Pasar Kolpajung.

“Jadi nanti ini jika ada yang PDP atau ada yang positif di Kolpajung berarti akan ada klaster baru, yang berawal dari klaster haji,” ungkapnya.

Sebelymnya, dua pasien terinfeksi Covid-19 tambahan itu, satu pasien  berasal dari Desa Pangorayan, Kecamatan Proppo.Kini tengah dirawat isolasi di RSUD dr Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan.Pasien ke-14 tersebut berjenis kelamin perempuan berusia 52 tahun.

Sedangkan satu lagi adalah pria asal Desa Blumbungan, Kecamatan Palengaan berjenis kelamin pria berusia 66 tahun. Keduanya dinyatakan terinfeksi berdasarkan hasil swab tenggorokan dari Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Kesehatan Surabaya milikKementerian Kesehatan (Kemenkes).

Sementara itu, Plt. Kapala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan Achmad Marsuki mengaku pelacakan atau tracing kepada semua pedagang di Pasar Kolpajung yang berjualan di sana.

Tetapi dia menjelaskan, dalam tatalaksana pelacakan tidak harus dilakukan dengan rapid test atau tes cepat.Namundia mengaku telah melakukan pelacakan sesuai dengan tatalaksana yang telah ditetapkan.

“Tracing sudah kami lakukan, semua pedagang pasar Kolpajung kami tracing, untuk menghindari kemungkinan tersebarnya wabah Covid-19. Tracing sudah ada protabnya, dan yang kami lakukan sudah sesuai protab, tidak harus dirapid,” ulasnya.

Bahkan, kata Marsuki,jika terdapat pengunjung Pasar Kolpajung yang merasakan gejala kesehatan yang sekiranya perlu penanganan tim medis, segera dilaporkan agar bisa segera diperiksa, hal itu menurutnya demi mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19.

“Jika ada pengunjung pasar atau pembeli yang pernah berkontak dengan pasien ini tunjukkan atau laporkan ke kami, biar kami lakukan tracing, agar penyebaran ini bisa dihentikan, syukur-syukur kalau ada yang mengaku tanpa ditanya, itu bisa membantu tugas kamu,” tutupnya.

Pasien 12 Sampang dari Klaster Pasar

SAMPANG-Belum genap satu bulan ditetapkan menjadi kawasan zona merah wabah Covid-19. Langsung terjadi lonjakan pasein terinfeksi Covid-19 di Sampang.Hingga kini, sudah tercatat sebanyak 454 orang dalam pemantauan (ODP), 11 pasien dalam pengawasan (PDP)  dan 12 pasien yang sudah dinyatakan terinfeksi Ccovid-19.

Penyebaran wabah Covid-19 di Sampang itu, melalui klaster pasar tradisonal, Surabaya, Bangkalan, acara pernikahan dan perjalanan dari zona merah. Tapi kebanyakan pasien yang terinfeksi itu dari klaster perjalanan dari zona merah. Untuk penambahan pasien terinfeksi Covid-19 yang teranyar dari klaster pasar.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Wabah Covid-19 Sampang Djuwardi mengatakan, pasien terinfeksi Covid-19 ke-12 itu berjenis kelamin perempuan, warga Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang.

Sebelumnya, pasien 12 itu sempat di rawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Mohammad Noer (RSMN) Pamekasan, kemudian yang bersangkutan di bawa ke Sampang untuk menjalani rawat isolasi di Balai Latihan Kerja (BLK) Sampang.

“Kalau pasien 12 terinfeksi Covid-19 ini masuk dalam klaster pasar, karena orangtuanya berjualan di Pasar Srimangunan Sampang. Tapi kalau mayoritas dari klaster perjalanan dari zona merah,” kata Djuwardi kepada Kabar Madura, Kamis (21/5/2020).

Dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19 itu, pihaknya akan meningkatkan pengawasan dan kedisiplinkan masyarakat untuk mematuhi anjuran pemerintah sesusi tatalaksana kesehatan, selalu menggunakan masker, rajin cuci tangan dan di rumah saja.

Masyarakat juga diimbau untuk terus waspada dan mawasdiri, seiring mengingat kasus Covid-19 di  Sampang belakangan terakhir. Sebab,pemkab hanya menanggung biaya pemakaman dan memberi bantuan sembako bagi keluarga korban Covid-19, tidak menyediakan santunan.

“Prinsipnya, kami terus tingkatkan pengawasan, terus memberikan penyadaran kepada masyarakat agar kasus penyebaran wabah Covid-19 ini bisa terus diminimalisir dan segera teratasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRD Sampang, Moh. Iqbal Fatoni menyoroti kinerja dari tim gugus tugas selama ini. Menurutnya, terkesan coba-coba dalam mecegah penyebaran wabah. Bahkan, disebut belum memiliki konsep dan perencanaan yang matang dalam hal penanganan terhadap pasien dalam pemantauan (PDP) dan pasien terinfeksi Covid-19.

Hal itu dibuktikan dari tindakan ceroboh yang memperbolehkan seorang pasien terinfeksi Covid-19 untuk pulang dari ruang isolasi, karena dianggap sudah sembuh. Padahal hasil swab tes dari laboratorium belum keluar.

“Harus ada langkah cepat dan tepat dalam penanganan Covid-19 ini, maka konsep dan perencanaannya harus matang, jangan sampai kelabakan dan kewalahan dalam menangani lonjakan pasien covid-19,” terangnyan. (ali/sub/waw)

 

Komentar

News Feed