Covid-19 Diprediksi Jadi Endemi, Warga Pamekasan Diminta Tetap Patuhi Prokes

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) SEMAKIN MEMBAIK: RSUD SMart hanya merawat satu orang pasien terinfeksi Covid-19 asal Kecamatan Proppo.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN –Pamekasan saat ini sudah berstatus level 1 dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Itu artinya Pamekasan terbilang zona aman. Salah satu indikatornya yaitu jumlah pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan hanya satu orang.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 RSUD SMart dr. Syaiful Hidayat menuturkan, pasien tersebut perempuan asal Kecamatan Proppo berusia 52 tahun. Dia sudah empat hari menjalani perawatan di RSUD SMart. Namun, menurutnya, pasien tidak mengalami gejala berat, hanya saja memiliki komorbid darah tinggi.

Pria yang akrab dipanggil dokter Yayak itu menjelaskan, Covid-19 pada akhirnya tidak akan lagi menjadi pandemi, melainkan akan menjadi endemi. Endemi sendiri menurutnya tidak akan berbeda dengan penyakit biasa yang tumbuh di kawasan dan periode tertentu, sebagaimana demam berdarah dan tuberkulosis (TBC).

“Maka nanti Covid-19 ini menjadi flu biasa,” ucap dokter Yayak.

Saat Covid-19 sudah menjadi endemi, maka penerapan protokol kesehatan (prokes) hanya akan diterapkan saat musim endemi itu terjadi. Penentuan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi sendiri ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Kendati begitu, dokter Yayak meminta agar masyarakat tetap mematuhi prokes..

Sebab menurutnya, Covid-19 akan terus mewabah meski berubah status menjadi endemi. Menurutnya, untuk menjadi zona aman semua daerah harus mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok. Sementara herd immunity sendiri akan tercapai jika program vaksinasi sudah mencakup 70 persen di seluruh Indonesia.

Meski pemerintah pusat menargetkan bulan Desember mendatang Indonesia mencapai herd immunity, namun dirinya tidak yakin itu bisa terwujud. Sebab, selain program vaksinasi yang mengalami banyak kendala di lapangan, pada bulan Desember diperkirakan akan terjadi lonjakan kasus baru oleh varian Mio.

Ia menerangkan, di beberapa negara lain, Covid-19 varian baru mulai mewabah kembali dan menelan banyak korban. Hal itu disebutnya sebagai lonjakan kasus gelombang ketiga. Menurutnya, jika pemerintah pusat tidak memperketat akses keluar masuk warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA), maka gelombang ketiga akan terjadi.

“Bulan Desember ini akan ada libur panjang juga. Pemerintah harus memperketat keluar masuk antarnegara,” tugas Dokter Yayak.

 

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *