oleh

Covid-19, Iin Sultira Hadirkan Strategi Menyalurkan Ilmu

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Sebagai seorang sarjana Bahasa Inggris, menjadi suatu tantangan tersendiri bagi seorang Iin Sultira sebagai seorang fress graduate. Dia mengambil keputusan menjadi tenaga pengajar les bagi siswa sekolah dasar (SD) di tengah wabah Covid-19.

Hal tersebut dilakukannya semata-mata agar ilmu yang diapatakan di bangku kuliah bisa bermanfaat untuk orang banyak, terutama bagi para siswa yang rindu suasana belajar.

Selama menjadi guru les Bahasa Inggris, setiap perempuan kelahiran Desa Lembung Pamekasan ini harus bisa membagi waktu untuk anak didiknya. Ketulusan dan keikhlasan hati Tira, sapaan akrab Iin Sultira, sebagai seorang guru les benar-benar tidak bisa diragukan lagi. Apalagi di tengah wabah seperti sekarang ini.

“Layaknya seorang guru pada umumnya, menjadi seorang guru les harus memperbanyak sabar. Sebab, yang kita hadapi adalah anak kecil. Kita dituntut untuk bisa masuk ke dalam dunia mereka,” ujar Tira.

Menjadi guru les dengan objek anak yang masih duduk di SD, memang suatu tantangan tersendiri. Tira harus berhadapan dengan siswa-siswi yang tidak terikat dengan suatu peraturan dari sekolah; Tira harus banyak mempunyai strategi agar murid tidak bosan.

Strategi yang dia hadirkan ialah dengan tidak terlalu memberatkan mereka dalam proses belajar mengajar; apabila muridnya lelah, Tira dengan senyum kesabarannya tak segan menyuruh mereka untuk beristirahat.

Agar ilmu yang diajarkan benar-benar bisa dimengerti oleh anak didiknya, Tira memberi peraturan tersendiri yang tak terlalu membebani namun dapat menuntut mereka untuk mengikuti peraturan tersebut.

“Dalam proses mendidik anak usia SD, kita tak harus memaksa. Jika anak kecil semakin dipaksa, maka ia akan semakin membangkang dan tidak mau diatur. Apabila saya mendapati anak didik saya mengeluh capek, dengan senang hati mempersilakan mereka beristirahat. Namun saya juga sampaikan pada mereka apabila terlalu lama beristirahat, maka jam pelajaran semakin bertambah. Dengan kata lain, waktu bermain tentu akan semakin berkurang,” tegasnya.

Anak-anak yang notabenenya tak bisa melewatkan hari tanpa bermain, mau tidak mau harus mengikuti peraturan tersebut. Itulah salah satu trategi Tira dalam menepis kebosanan anak didiknya dalam kegiatan belajar mengajar.

Sebagai seorang guru les, Tira dituntut untuk menjadi sosok guru yang benar-benar sabar dan ikhlas. Tira tidak hanya memberikan ilmu kepada anak-anak secara tatap muka, namun ia kerap sekali menjadi tempat konsultasi bagi mereka yang mengalami kendala dalam proses pembelajaran secara daring.

“Walaupun menjadi guru itu terlihat mudah, namun jangan sepelekan guru. Apalagi di tengah wabah seperti sekarang ini. Meskipun saya hanya guru les saya yakin bahwa sebetulnya lebih mudah mengajar siswa secara tatap muka, walau proses belajar mengajar dilakukan secara daring guru bukan hanya bisa menyuruh, guru bukan hanya standby di depan gadget. Namun, mereka juga harus menyiapkan materi, stategi dan lain sebagainya,” urai Tira.

Atas kelihaiannya dalam menjadi seorang guru les di sekitar lingkungan rumahnya, saat ini Tira juga dipercaya untuk menjadi seorang guru privat oleh sebagian orang tua siswa. Walupun jarak yang ditempuh terbilang jauh, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam menyalurkan ilmu yang dia miliki. (02km/nam)

Komentar

News Feed