oleh

Covid-19 Runtuhkan Daya Beli Warga Madura

Covid-19 dan Runtuhnya Daya Beli

Kabarmadura.id-Penetapan siaga darurat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Jawa Timur sejak 22 Maret 2020 lalu, juga dibarengi dengan diberlakukannya protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19.

Protokol atau tatalaksana kesehatan itu diantaranya, diberlakukannya work of home atau bekerja dari dari rumah untuk beberapa sektor, pembatsan jarak fisik dan juga aktivitas sekolah harus dijalani dengan sistem pembelajaran jarak jauh.

Sejak wabah mulai mendera Indonesia, utamanya di Madura, lambat  lauttatalaksana kesehatan Covid-19 mulai menyentuh sendi ekonomi. Terjadi penurunan daya beli warga Madura terhadap beberapa komoditas tersier. Utamanya, minat pembelian kendaraan bermotor dan  perhiasan.

Sejumlah toko emas dan dealer penjualan motor, mengungkapkan bahwa terjadi penurunan daya beli warga sejak Maret lalu. Pada periode Maret, tren penurunan daya beli warga Madura terhadap motor dan perhiasan mulai megnalami penurunan mencapai 20 persen.

Hal itu, sebagaimana disampaikan Yudi Kristiawan kepada Kabar Madura, akibat adanya shock warga atas pemberlakukan siaga darurat Covid-19. Menurut manajer pemasaran salah satu dealer motor di Madura itu, adalahtren penurunan daya beli warga juga makin turun tajam memasuki April.

Yudi mencatat, pada April terjadi penurunan angka penjualan mencapai 50 persen dari biasanya. Bahkan, memasuki Mei bulan ini, target penjualan juga pesimis dicapai dan prediksinya justru aka nada penurunan angka penjualan.

Dampak dari menurunnya jumlah penjualan, terdapat beberapa dealer mulai merumahkan  karyawannya. Bahkan, sebagian juga melakukan rasionalisasi pembayaran tunjangan hari raya (THR) dengan sistem terutang pada akhir Desember.

Penurunan daya jual juga terjadi pada perhiasan berupa emas. Sejumlah toko emas di Madura juga mencatat penurunan penjualan emas. Omset rata-rata sebelum masa darurat Covid-19 juga mengalami penurunan mencapai 50 persen pada medio April.

Meski tren penurunan daya beli warga terhadap komoditas tersier, nyatanya, pemerintah kabupaten di Madura, sebagian masih akan melakukan survei untuk melihat kemampuan daya beli warganya. (bri/waw)

Terpaksa Berikan THR di Akhir Tahun

(FOTO: KM/ALI WAFA)
MEROSOT: Perekonomian masyakarat Pamekasan mengalami kemerosotan di tengah wabah Covid-19.

PAMEKASAN-Dampak adanya wabah Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19,membuat laju perekonomian di Kabupaten Pamekasan menjadi terkendala.Salah satu entitas yang merasakan dampaknya adalah pihak Prima Mobil Madura yang bergerak di bidang penjualan motor dan mobil.

Staf Administrasi Prima Mobil Madura Arik Sandi mengatakan, kemerosotan terjadi dan bahkan sangat terasa akibat wabah Covid-19.Penurunan yang menurutnya paling drastis yaitu di bulan April, mencapai hingga 50 persen.

Arik mengaku, di bulan-bulan sebelumnya, pihaknya bisa menjual 120 hingga 130 unit motor dalam sebulan.Tetapi pada bulan April lalu, pihaknya hanya mampu menjual 52 unit motor dalam sebulan.

Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya, saat bulan puasa, pihaknya bisa menjual 130 hingga 150 unit motor dalam sebulan, tetapi di tahun ini hasilnya nihil.

“Secara global, untuk penjualan menang menurun, bahkan untuk motor menurun hingga 50 persen. Jadiselama satu bulan stok yang keluar hanya sekitar 50 persen dari jumlah unit yang kami miliki,” ucapnya.

Di sektor penjualan mobil, justru mengalami penurunan sejak bulan Maret lalu.Menurutnya, jika di bulan-bulan sebelumnya saat belum ada Covid-19 bisa terjual 25 hingga 30 unit dalam sebulan, saat Maret lalu hanya berhasil menjual 12 unit.Kemudian pada bulan April pihaknya hanya bisa menjual enam unit mobil dalam sebulan.

Dampak penurunan daya jual tersebut, kata Arik, berakibat pada kebijakan perusahaan.Bagaimana tidak, perusahaan sempat merumahkan satu karyawan karena merasa perusahaan sedang berada dalam kondisi sulit.

Tidak hanya itu, tunjangan hari raya (THR) yang pada tahun sebelumnya diberikan kepada karyawan saat menjelang Idul Fitri, kini seluruh karyawan Prima Mobil Madura harus bersabar dan berbesar hati untuk menerima THR pada akhir tahun 2020.Menurutnya, kebijakan tersebut telah diinformasikan kepada seluruh karyawan.

“Memang banyak karyawanyang menyayangkan, seperti teman-teman karyawan yang membutuhkan untuk persiapan Idul Fitri bersama keluarga, ya tapi mau bagaimana lagi. Di Pamekasan sendiri ada sekitar 50 orang karyawan, semuanya THR akan diberikan pada akhir tahun nanti,” ujarnya.

Di lain pihak, Toko Emas Surabaya Pamekasan turut mengalami dampak serupa.Bahkan, penurunan pendapatan diakui oleh pemilik toko Hilal, mencapai lebih dari 50 persen.Kemerosotan dirasakan pada satu bulan terakhir.Dia mengaku, tokonya sepi dan pendapatan menjadi sangat berkurang.

“Penurunan sangat kami rasakan, bahkan lebih dari 50 persen penurunan pendapatan yang kami rasakan, ini karena dampak Covid-19 ini, toko jadi sering sepi, tidak ada pengunjung,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Fathorrahman mengatakan, pihaknya belum menerima laporan bahwa kondisi perekonomian di lapangan saat ini sedang mengalami degradasi akibat wabah Covid-19.

Bahkan ia menuturkan, pihaknya masih akan melakukan survei terhadap beberapa instansi terkait dan ke lapangan langsung untuk mengetahui ketimpangan-ketimpangan ekonomi yang terjadi akibat Covid-19.Sejauh ini, dia melihat, perekonomian di Kabupaten Pamekasan masih adem ayem tanpa masalah yang pokok.

“Sejauh ini, kami belum menerima laporan dari dinas-dinas terkait bahwa terjadi ketimpangan ekonomi di lapangan, karena yang tahu secara detail mengenai teknis dinas, kami juga masih akan melakukan survei langsung ke lapangan agar bisa melihat langsung,” ulasnya.(ali/waw)

Tanpa Rencana Pemulihan Ekonomi

(FOTO: KM-JAMALUDDIN)
COVID-19 : Dampak Covid-19, kondisi penjualan turun drastis

SAMPANG-Kondisi perekonomian masyarakat setelah merebaknya wabah Covid-19, banyak masyarakat yang mulai kehilangan tempat penghasilan setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang menerapkan anjuran jaga jarak fisik atau physical distancing dan mengindari kerumuman.

Pimpinan Marketing dealer Honda CV. Al-Amin, Muafi mengatakan bahwa wabah Covid-19 ini kondisi penjualan di dealernyamenurun drastis. Diduga perekonomian yang tidak stabil,membuat masyarakat lebih mengutamakan pembelian pangan sebagai kebutuhan utama.

“Penurunannya itu 50 persen, bukan hanya itu, orang berkunjungpun hampir 50 persen. Sangat berbeda dengan dulu, kalau dulu perputaran perekonomian masyarakat kan normal, tapi sekarang anjlok, sehingga masyarakat lebih memilih kebutuhan pokok seperti pangan,” ungkapnya, Senin (18/5/2020).

Namun, semua yakni 27 karyawan di CV. Al-Amin tidak ada yang di-PHK, atau dirumahkan, yakni tetap dipertahankan.

“Kondisi ini sangat berpengaruh, anggap saja kalau dilogikakan, pembeli diwaktu normal setiap harinya ada 11-12 pembeli, sekarang paling ada 1-2, itu pun kalau ada,” ungkap Muafi.

Tapi untungnya, ada tim tenaga marketing yang bisa kelapangan dan mempromosikan melalui media sosial untuk memberikan pelayanan yang mudah pada konsumen dan tetap dirumah saja sebagaimana imbauan pemerintah.

“Alhamdulillah disini masih bisa bertahankan karyawan, sebab kalau di daerah lain ada yang dirumahkan, ada yang di-PHK, tapi bertahannya tidak bisa dipastikan,” imbuhnya.

Selain itu, owner toko emas di Sampang, Lukman, mengaku kondisi penjualan emas sangat menurun hingga 25 persen. Bahkan dari awal mula berdirinya toko emas tersebut, tidak pernah mengalami penurun seperi ini.

Bahkan hal itu terjadi dibulan Ramadan dan mendekati hari raya Idul Fitri biasanya sangat ramai, namun dengan kondisi ditengah wabah Covid-19.

“Kalau kondisi keuangan masyarakat tidak atabil pasti toko emas kami sepi, semisal kondisi pertanian ada kendala, maka terancam sepi. Kecuali orang perantauan yang membeli, tapi kalau sekarang kondisi keuangannya juga anjlok, jadi toko emas kami turun 75 persen,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Sampang Juwaini mengatakan, untuk kondisi perekonomian memang ada penurunan, namun untuk langkah kedepan, pihaknya belum memiliki rencana.Sebab, pihaknya hanya menfasilitasi seperti teknis yang diajukan oleh dinas terkait.

“Untuk teknis tidak tahu, sebab dari Dinas Koperasi belum melakukan koordinasi untuk teknis kedepan, bahkan untuk mendorong dalam pembelian kami belum tahu,” pungkasnya.(mal/waw)

Andalkan Bansos untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

(FOTO: KM/Razin)
MENURUN: Jumlah pengunjung di toko emas semakin berkurang seiring dampak merebaknya wabah Covid-19 yang belum mereda.

SUMENEP-Wabah Covid-19 ini sudah benar-benar berdampak pada perekonomian masyarakat. Salah satunya transaksi di sejumlah toko yang mengalami penurunan sangat drastis.

Penurunan tersebut salah satunya terjadi di toko emas dan dealer kendaraan bermotor. Bahkan penurunannya bisa sampai 50 persen dari masa sebelum wabah Covid-19.

Salah satu pegawai di toko emas di Sumenep, Joko  Prasetyo menyampaikan, pada masa Covid-19 ini, pendapatan di tempat dia bekerja sudah terbilang tidak normal seperti sebelumnya, karena memang masyarakat sendiri sudah tidak sepadat dua bulan yang lalu.

Meskipun pada dasarnya, antara penjualan dan pembelian masih terbilang seimbang, karena di toko tempat dia bekerja itu juga menerima penjualan dari masyarakat.

“Biasanya di sini full, di tempat antrean juga full tapi untuk sekarang tidak mengurang, yang membeli dan yang menjual ke sini sekitar 50 persenan penurunannya dari sebelum masa Covid-19 ini,” katanya, Senin (18/5).

Joko menambahkan, untuk pendapatan tertinggi yang diperoleh setiap harinya sebelum masa Covid-19 itu mencapai Rp500 juta per hari atau penjualan kerap dengan jumlah cukup banyak pada setiap pembeli.

Meskipun menurutnya, pada masa wabah Covid-19 ini tetap ada yang membeli dengan jumlah yang cukup banyak tetapi itu tidak sesering masa-masa sebelumnya.

“Biasanya terbanyak ada yang membeli satu on, tapi sering tapi kalau sekarang ada yang membeli sebanyak itu tapi jumlahnya sedikit kalau dibandingkan dengan masa Covid-19 ini,” imbuhnya.

Hal serupa disampaikan salah seorang promotor dealer Ainur Rahman. Dia mengatakan, pada masa Covid-19 ini, penjualan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Sama di sini juga menurun, apa kalau sekarang tidak ada yang terdampak, semuanya terdampak apalagi penjualan dengan harga motor dan barang-barang mahal lainnya,” paparnya.

Menanggapi itu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Sekretariat Kabupaten (Setkab) Sumenep menyampaikan, sejauh ini pihaknya tidak dapat memprediksi sampai kapan wabah Covid-19 ini akan berlangsung. Tetapi sebagai upaya penanganan stabilitas perekonomian, berjanji akan memaksimalkan program bantuan sosial yang ada.

Termasuk pihaknya akan memberikan penguatan modal kepada masyarakat terutama yang tergabung dalam usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Ya itu saja untuk sementara ini, karena ini kan sudah masalah nasional, bukan hanya di sini saja, bantuan-bantuan dari berbagai sumber sudah mulai didistribusikan,” tanggapnya. (ara/waw)

Minat Jual Emas Lebih Tinggi

(FOTO: : KM/ISTIMEWA)
TERDAMPAK: Salah satu toko perhiasan di Bangkalan yang sepi pengunjung.

BANGKALAN-Akibat Covid-19 yang sudah mewabah di Bangkalan selama 2 bulan terakhir, cukup berdampak terhadap berbagai aspek. Salah satunya yakni lesunya perekonomian di Bangkalan. Menjelang hari raya Idulfitri 1441 Hijriyah, jual beli perhiasan terlihat menurun.

Pemilik toko perhiasan Surya Mas Bangkalan Zainal Abidin menuturkan, jual beli perhiasan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Katanya, tahun-tahun sebelumnya yang meningkat daya belinya ketika menjelang Lebaran, namun saat ini daya jual perhiasan lebih tinggi dibandingkan daya beli.

“Yang menjual perhiasan lebih banyak daripada membeli. Mungkin karena wabah Covid-19, jadi masyarakat banyak yang membutuhkan uang,” katanya, Senin (18/5/2020).

Selain itu, harga perhiasan saat ini mengalami penurunan. Untuk per gramnya, emas dengan kualitas rendah seharga Rp450 ribu. Sedangkan, untuk harga pehiasan seperti emas murni mencapai Rp900 ribu per gram.

“Kalau rugi tidak, karena tingkat keramaian sama. Hanya saja, masyarakat yang ke sini cenderung menjual perhiasan, bukan membeli,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setdakab Bangkalan Iskandar Ahadiyat menuturkan, banyak barang yang tidak laku selama wabah Covid-19 ini. Baik barang sembako maupun bahan kebutuhan lainnya, seperti perhiasan dan kendaraan. Dia mengatakan, daya beli masyarakat cenderung menurun.

“Termasuk daging ayam potong juga menurun. Karena faktor pakan ayam yang ndak laku. Berdasarkan hasil terjun ke lapangan, banyak pedagang yang mengeluhkan sepi pembeli,” paparnya.

Mengenai berapa persen tingkat penurunan daya beli masyarakat tersebut, lelaki yang kerap disapa Yayat ini mengaku belum menghitung. Dia mengungkapkan, banyak bahan pokok yang mengalami penurunan, termasuk harga perhiasan.

“Awal puasa itu mengalami kenaikan, tapi menjelang lebaran ini lebih turun harganya. Berapa turunnya, kami belum kroscek, hanya laporan yang kami terima mengalami penurunan,” terangnya.

Masih menurut Yayat, minimnya daya beli masyarakat ini karena adanya ruang gerak yang dibatasi seperti phyishical distancing. Selain itu, dampak Covid-19 di masyarakat kecil benar-benar dirasakan.

Yayat juga menuturkan, pendapatan masyarakat yang menurun akibat banyaknya karyawan yang di rumahkan juga menjadi salah satu faktor daya beli masyarakat menurun.

“Langkah dari kami, kami sudah melakukan kerja sama dengan salah satu jasa jual beli online seperti shopee. Hal tersebut untuk memfasilitasi UMKM dan pedagang yang pembelinya menurun agar tetap bisa menjual barangnya di tengah penerapan physhical distancing ini,” pungkasnya. (ina/waw)

 

 

 

 

Komentar

News Feed