CSR Petronas Caligari Belum Dirasakan Masyarakat Terdampak

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) PROTES: Sejumlah aktivis dan nelayan daerah pantai utara (pantura) Kabupaten Sampang, mempertanyakan wujud program  corporate social responsibility (CSR) sumur bukit tua di Ketapang.

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Sejumlah aktivis dan nelayan, mengatasnamakan aliansi nelayan pantai utara (pantura) melakukan audiensi ke Kantor DPRD Sampang. Mereka menilai, realisasi corporate social responsibility (CSR) tidak jelas realisasinya, Selasa (23/02/2021).

Dalam pertemuan itu, dihadiri sejumlah aktivis, nelayan, anggota Komisi II, Ketua DPRD Sampang,  Fadol dan Petronas Caligari yang diwakilkan ke Bidang Pengadaan dan Hubungan Bisnis Petronas, Indrayana, serta Humas Petronas Andiyono dan sejumlah bidang lainnya.

Bacaan Lainnya

Sukandar salah satu aktivis dan pemuda Sokobanah mengatakan, program CSR Petronas Caligari tidak berwujud. Beberapa kegiatan bantuan, dinilai realisasinya tidak jelas kepada masyarakat terdampak.

Padahal, CSR Petronas diberikan kepada delapan desa di daerah pantai utara (pantura). Sebanyak 3 desa di Kecamatan Banyuates, dua desa di Kecamatan Ketapang dan tiga desa di Kecamatan Sokobanah. Petronas dan pemerintah mengklaim program CSR sudah terealisasi.

Salah satunya, kegiatan penggemukan sapi. Sebanyak 20 sapi yang terbagi di dua kecamatan. Sepuluh sapi diberikan di Kecamatan Ketapang, dan sepuluh sapi di Kecamatan Sokobanah. Sedangkan, di Kecamatan Banyuates, warga terdampak meminta pembangunan pemecah ombak atau bright water. Namun sampai saat ini belum terealisasi.

Menurutnya, dari program diatas, sejumlah petani dan nelayan mengaku tidak mengetahui adanya bantuan yang disalurkan Petronas Caligari. Bahkan, hanya sebagian nelayan saja yang dilibatkan dalam sosialisasi yang dilakukan Petronas.

“Kalau memang ada penggemukan sapi dimana realisasinya. Kami ingin tahu, dimana lokasi penggemukannya. Sampai saat ini, kami belum menemukan adanya bantuan sapi,” ungkap Sukandar.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sampang, Agus Khusnul Yakin mengatakan, petronas harus memahami CSR itu, untuk masyarakat terdampak atau nelayan terdampak. Sehingga, ada pemilahan khusus untuk penentuan kegiatan CSR. Dinilai, adanya bantuan penggemukan sapi tidak dirasakan oleh nelayan.

“Untuk lokasi eksploitasi sumur bukit tua, adanya program penggemukan sapi kurang tepat sasaran. Karena tidak dirasakan langsung oleh nelayan. Kalau nelayan yang merasakan dampak dari lokasi sumur gas milik petronas, memang iya,” responnya.

Selain itu, pihaknya meminta ada pendampingan dalam realisasi CSR. Sehingga, bentuk kegiatan dan sasaran bantuan tidak salah. Termasuk, efektifitas dalam penyaluran dana CSR. Jika tidak, maka realisasi CSR tidak efektif dirasakan oleh nelayan secara langsung.

“Nelayan merasakan langsung adanya pengurangan hasil tangkapan. Sehingga, perekonomian mereka menurun. Sementara petani, hanya merasakan dampak karena ikan mahal. Itu, akibat ikan semakin sedikit. Jadi perlu adanya pendamping agar realisasi CSR tepat sasaran,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Bidang pengadaan dan Hubungan Bisnis Petronas Cal;igari, Indrayana mengaku, selama ini sudah merealisasikan CSR yang difasilitasi pemerintah. Menurutnya, mengenai lokasinya sudah jelas di sejumlah desa.

“Untuk sumur bukit tua, kami sudah realisasikan CSR. Selanjutnya, kami akan melibatkan warga setempat,” responnya.

Sedangkan untuk tahun ini, CSR belum terealisasi. Sebab, masih proses pembahasan. “Untuk sumur Hidayah II, saat ini masih proses eksplorasi. Jika kandungan gas cukup untuk dikembangkan, akan kami libatkan warga setempat,” janjinya. (man/ito)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *