Curiga Absensi TPP Diakali Pegawai, Wacanakan Mesin Identifikasi Retina

News17 Dilihat

KABARMADURA.ID | BANGKALANAkibat masih terserapnya 100 persen anggaran tunjangan pokok pegawai (TPP) pegawai meski tingkat kehadirannya rendah, memunculkan wacana agar absensi tidak cukup hanya dengan mesin absensi sidik jadi atau fingerprint.

Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Mohammad Hotib mengatakan, pengawasan tingkat kehadiran ini harus lebih diperketat. Dia mengusulkan penggunaan absensi yang berbasis wajah, sidik jari hingga retina mata.

Keinginan agar mesin absensi yang dipasang bukan sekedar mengidentifikasi sidik jari ataupun wajah biasa, karena dengan identifikasi retina, maka akan sulit untuk dimanipulasi. Sehingga setiap pegawai Pemkab Bangkalan diharuskan menunjukkan retina mata untuk mengisi absensi kehadiran setiap harinya.

“Apalagi yang kami temukan banyak absensi sidik jari yang terpasang tidak dimanfaatkan dengan baik. Harus ada pengawasan ketat dari pimpinan OPD dan Badan Kepegawaian supaya kinerja mereka bisa tampak, bukan sekedar penikmat TPP dan gaji saja,” imbuh Khotib.

Baca Juga :  Sudah Diresmikan, Sentra PKL Pamekasan Kurang Diminati Pedagang

Sebelumnya dia curiga ada manipulasi absensi pegawai yang dilakukan di sejumlah OPD. Sebab, melihat tingkat kehadiran pegawai yang sangat rendah, maka seharusnya TPP tidak akan terbayar secara penuh.

“Kami curiga pimpinan OPD menutupi ketidakhadiran pegawainya, laporan kehadiran yang diberikan pada badan kepegawaian merupakan data palsu. Karena fakta yang kami temukan, saat sidak tingkat kehadiran di bawah 50 persen,” ungkapnya, Kamis (1/12/2022).

Rendahnya tingkat kehadiran itu diketahui saat rombongan Komisi A DPRD Bangkalan menginspeksi sejumlah kantor OPD untuk memantau tingkat kehadiran pegawai pada 18 November 2022 lalu. Dalam inspeksi itu, mereka menemukan beberapa OPD yang kosong, tidak ada aktivitas pegawai.

Sementara itu, Sekretaris Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Aparatur (BKPSDA) Bangkalan Ari Murfianto menjelaskan bahwa belum pernah ada laporan mesin fingerprint rusak ke pihaknya. Meski begitu, jika rusak, ada surat edaran yang memperbolehkan pengajuan TPP menggunakan absensi manual.

Baca Juga :  Perkasa Raih Penghargaan Jaga Desa

“Sepertinya ada surat yang mengatur agar TPP bisa diajukan pakai absensi manual, masih menggunakan fingerprint. Selama ini belum ada laporan OPD yang rusak fingerprint. Semuanya masih dimanfaatkan secara normal,” jelas Ari.

Kata Arik, akurasi absensi menggunakaan fingerprint memang rendah jika dibanding dengan identifikasi wajah atau retina mata. Tetapi kembali lagi pada kebijakan masing-masing OPD.

“Kalau pakai retina, masak ada pegawai mau titip retina matanya untuk absen, kan tidak. Tentu akurasinya tinggi, tapi belanja itu dikembalikan ke kebijakan masing-masing OPD,” pungkasnya.

Reporter: Fathurrohman

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *