Damkar Pamekasan Harus Beli Air Dulu sebelum Padamkan Kebakaran

News50 views

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN -Ketersediaan satu sumur bor sebagai sumber air untuk pemadam kebakaran di Pamekasan, menjadi masalah  dalam memadamkan kebakaran. Karena minimnya jumlah sumber air itu, membuat petugas pemadam kebakaran harus membeli air untuk stok pemadaman.  

Sementara, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Pamekasan Misyanto, anggaran yang tersedia cukup minim. Pembelian ait itu dilakukan jika terjadi kebakaran yang lokasinya  cukup jauh dari sumur bor yang dimiliki tim damkar. 

Untuk itu, pada tahun anggaran berikutnya akan mengusulkan agar ada sumur bor di masing-masing kecamatan. Sumur bor itu disediakan khusus untuk penanganan kebakaran. Sehingga apabila terjadi kebakaran di wilayah tersebut, bisa lebih cepat teratasi. 

Baca Juga:  Kasus Narkoba Semakin Banyak, BAANAR Pamekasan Ajak Masyarakat Ikut Andil Mengatasinya

“Kami punya bor satu, di kantor satu paket dengan tandonnya. Masing-masing tandon berukuran 5.300 liter. Untungnya, satu sumur itu selalu ada airnya. Tapi kami masih harus beli air lagi, untuk wilayah kebakaran yang jaraknya cukup jauh. Karena kalau balik lagi ke kantor tidak akan efektif,” ungkapnya kepada Kabar Madura, Senin (20/11/2023). 

Misyanto menerangkan, pengajuan sumur bor tersebut masih dalam tahap pembahasan. Namun jika pengajuannya diterima, diperkirakan bisa terealisasi di tahun depan. Jika pun nanti tidak disetujui, dia berharap setidaknya satu wilayah bisa dibangun sumur bor sebagai pusatnya. 

Baca Juga:  Kebakaran dalam 3 Bulan Terakhir Meningkat, Damkar Pamekasan Pernah Tangani 5 Kebakaran dalam 24 Jam

“Setidaknya satu titik di wilayah pantura ada, selatan juga ada. Jika ada di masing-masing daerah kan enak kalau ada kebakaran di sana, bisa lebih cepat,” terang Misyanto. 

Sepanjang tahun 2023, kurang lebih terdapat 180 kebakaran yang terjadi di Pamekasan. Penyebabnya, mulai dari karena puntung rokok dan lain sebagainya. Rata-rata terjadi di wilayah tanah lapang dan dekat pemukiman. Sehingga medan sulit dilalui oleh armada.  

“Armada  tangki ada dua unit. Satu ukuran 6.000 liter dan satunya 4.000 liter,” tambahnya. 

Pewarta: Safira Nur Laily 

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *