Dampak 10 Hari PPKM Darurat Madura

  • Bagikan
(KM/GRAFIS AKBARIMAN)

KABARMADURA.ID – Sejak pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, jumlah kasus baru terpapar dan kasus meninggal karena virus Covid-19 di Bangkalan menurun. Diketahui sebelum PPKM darurat, kasus baru mencapai 90-100 setiap hari. Sedangkan kasus kematian juga rata-rata mencapai 70 orang dalam sehari. Namun, semenjak PPKM darurat diberlakukan, jumlah kasus menurun hingga 30 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan Sudiyo menjelaskan, efek PPKM darurat tidak bisa langsung dirasakan dari naik turunnya kasus. Sebab menurutnya, hal itu hanya untuk mengurangi mobilitas sosial masyarakat.

“Itu kan hanya untuk mengurangi keramaian, sehingga dampaknya tidak bisa langsung kami rasakan,” katanya.

Dampak PPKM darurat diklaim baru terasa setelah 10 hari. Selain kasus baru, kasus kematian juga berkurang, dari yang semula 60 hingga 70 kasus meninggal setiap hari, kini hanya sekitar 30 sampai 40 saja se-kabupaten. Sedangkan untuk kasus sembuh, memang tidak bisa dipastikan, karena masa pemulihan setiap pasien berbeda.

Sedangkan ketersediaan ruang isolasi berdasarkan laporan RSUD Syamrabu mulai longgar. Dari 360 ruangan yang dimiliki, ada 229 yang disediakan untuk pasien Covid-19. Sisanya untuk yang sakit non Covid-19.

“Masing-masing masih ada ruang kosong, jadi masih ada ruang yang bisa digunakan jika ada kasus baru,” terangnya.

Kemudian untuk tenaga kesehatan (nakes), 55 dokter dan 699 perawat yang siap bekerja. Sehingga masih bisa diatasi tanpa perlu bantuan.

“Nakes kita aman, dengan kasus yang melandai ini, kami masih mampu,” tandasnya.

Pasien Meninggal Tidak Berkaitan PPKM

PPKM di Sampang juga  dinilai efektif menurunkan jumlah kasus Covid-19. Jumlah pasien di rumah sakit  menurun dibanding bulan lalu. Per Juli 2021, jumlah kematian pasien Covid-19 sebanyak 17 orang. Sementara bulan Juni sebanyak 25 orang.

Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 Sampang, selama tahun 2021, sudah ada 17 orang yang dimakamkan dengan protokol Covid-19.

Efektivitas PPKM darurat itu diakui Kepala bidang P2P Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Sampang dr. Yuliono, meskipun jumlah kematian meningkat.

“Untuk sementara masih terlihat efektif. Buktinya sudah mulai ada penurunan yang masuk ke rumah sakit. Ini salah satu indikator penyebaran berkurang, “ungkapnya.

Namun menurut dia, pasien Covid-19 yang meninggal tidak ada kaitannya dengan dengan PPKM, karena sudah masuk dampak dari penyebaran sebelumnya.

Baca juga  Sumenep Langsung Siap Menerapkan

Kasus Kematian Hampir Setiap Hari

Humas RSUD Dr. H. Mohammad Anwar (MA) Sumenep Arman Endika Putra mengatakan, pasien Covid-19 yang baru masuk sebelum PPKM darurat sekitar 6-10 orang dan saat ini kisaran 1-6 orang.

“Dari sebelumnya (PPKM darurat) tidak ada yang meninggal hampir setiap hari menjadi ada hampir setiap hari,” katanya, Selasa Rabu (14/7/2021)

Dikatakan, pasien Covid-19 yang meninggal dari sejak Juni hingga per 14 Juli 2021 sebanyak 113 orang (rincian di grafis). Sedangkan 212 bed kapasitas RSUD MA Sumenep, ruang perawatan pasien Covid-19 disediakan sebanyak 94 bed, terpakai kisaran 50-60 bed.

Lampaui Aturan Kapasitas 20 Persen

Pemberlakuan PPKM darurat yang telah berlangsung selama 10 hari di Pamekasan, efeknya belum signifikan. Pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan masih cukup banyak.

Dari 88 bed atau tempat tidur perawatan pasien Covid-19 yang disediakan, belum cukup menampung pasien Covid-19 yang datang. Karenanya, RSUD SMart kembali menambah bed lagi menjadi 91 unit.

Menurut Kepala Satgas Penanganan Covid-19 RSUD SMart dr. Syaiful Hidayat, untuk merasakan dampak positif PPKM darurat, perlu menunggu hingga satu bulan. Kendati begitu, antrean di instalasi rawat darurat (IGD) mulai berkurang. Yang awalnya rata-rata mencapai 15 antrean, kini hanya ada empat antrian pasien.

“Tapi bisa saja karena masyarakat enggan ke rumah sakit karena takut dicovidkan. Ini kan mau lebaran. Biasanya begitu,” ungkapnya.

Pria yang karib dipanggil dr. Yayak itu mengungkapkan, RSUD SMart memiliki total 250 unit bed, 91 di antaranya digunakan untuk pasien Covid-19. Sementara dalam aturan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes), rumah sakit rujukan menyediakan minimal 20 persen dari total kapasitas untuk ruang perawatan pasien Covid-19.

Sejatinya, masih banyak bed yang tidak digunakan. Karena pasien non Covid-19 mengalami penurunan hingga 10 persen. Namun pihaknya tidak bisa menjadikan semua ruangan dan semua bed untuk pasien Covid-19, sebab jika menambah ruangan dan bed, maka perlu penambahan tenaga kesehatan (nakes), sementara nakes di RSUD SMart terbatas. Selain itu, pihaknya juga mempertimbangkan keselamatan nakes.

“Ada bed kosong, tapi itu untuk non Covid-19. Tapi kan nakesnya kita tidak memadai,” tukasnya.

Untuk diketahui, tumbuh kembang kasus Covid-19 di Pamekasan sejauh ini tercatat sebanyak 1.602 orang berstatus suspek, 10 orang di antaranya sedang dalam pengawasan. 1.481 lainnya telah selesai menjalani pengawasan dan 111 orang lainnya meninggal dunia.

Baca juga  Klaim Biaya Pemulasaran Jenazah Pasien Covid-19 Tidak Cair Penuh

Sementara warga yang terinfeksi Covid-19 mencapai 1.574 orang. 219 orang menjalani isolasi dan 1.912 orang lainnya dinyatakan sembuh. Namun, 136 orang lainnya meninggal dunia. Selama PPKM darurat diberlakukan, telah ada 45 orang yang terinfeksi Covid-19 dan satu orang meninggal dunia. (timKM)

Sisa Dua Ruang Steril dari Covid-19

BANGKALAN-Selama lonjakan angka pasien Covid-19 di Bangkalan, setiap hari diwarnai antrean di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan. Antrean pasien yang menunggu diperiksa itu rata-rata 25 sampai 30 orang setiap hari.

Kondisi itu membuat manajemen RSUD Syamrabu terus menerus menambah ruangan perawatan pasien Covid-19. Kini ruangan rumah sakit itu hanya tersisa dua tempat yang harus steril dari pasien Covid-19.

Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr. Nunuk Kristiani mengatakan, tempat tidur perawatan khusus pasien Covid-19 yang disediakan rumah sakit hanya 216. Sedangkan total keseluruhan tempat tidur rumah sakit ada 320.

Secara kasus, kata dia, pasien yang terinfeksi juga telah menurun. Hal itu terlihat dari bed occupancy rate (BOR) rumah sakit yang saat ini sudah di angka 55 persen. Kendati berkurang, nnamun tingkat keterisian tempat tidur perawatan pasien itu masih terhitung tinggi, karena dari 216 bed yang disediakan khusus untuk pasien Covid-19, harus menggunakan lima dari tujuh ruangan di rumah sakit tersebut.

“Yang non-Covid-19 atau steril hanya di ruangan kartini dan neonatus. Karena pasien-pasien semuanya yang non-Covid-19 diarahkan ke ruangan kartini semua,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Layanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan dr. Daniar Sukmawati mengungkapkan, rata-rata pasien yang datang ke puskesmas mengalami keluhan mirip gejala Covid-19. Layanan di puskesmas, khususnya oksigen sudah sangat gawat, karena banyak pasien yang sangat membutuhkan.

“Ini puskesmas sudah merawat pasien dengan notabene yang bergejala. Meski tidak memiliki ruang khusus, mereka mau tidak mau harus melayani,” jelas perempuan yang pernah menjabat sebagai kepala Puskesmas Bangkalan tersebut.

Diakuinya, masih ada masyarakat yang tidak mau discreening, tetapi pihak puskesmas berusaha merawat pasien, karena memang harus dilayani dan diselamatkan dengan sarana dan prasarana seadanya.

Baca juga  Kepala Kemenag Bangkalan: Aliran Dana Amal Masjid Sudah Jelas

“Jika diurus di rumah, memang akan menambah deretan penularan kasus Covid-19 secara tidak langsung,” tutupnya. (ina/waw)

Klaim Sebaran Covid-19 Turun

Selama PPKM darurat dilaksanakan, Sekretaris Satpol PP Bangkalan Ari Murfianto menilai, tingkat kesadaran masyarakat untuk mengikuti aturan pemerintah sudah mulai muncul, sehingga mobilitas sudah mulai berkurang.

Pengusaha kecil dan pemilik toko, restoran, dan kafe menyiasati dengan membuka warungnya lebih awal dan tutup sebelum razia jam malam. Petugas sudah jarang menemukan pemilik usaha yang ngeyel. Soal kesadaran bermasker, diklaim hampir 80 persen.

“Selama 10 hari ini, saya kira masyarakat sudah mulai sadar, dan memilih tidak keluar jika tak memiliki kepentingan mendesak,” ulasnya.

Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz melalui Kabag Ops Kompol Royke Hendrik Fransisco mengatakan, polisi melakukan beberapa tindakan saat pelaksanaan PPKM darurat. Seperti pembatasan aktivitas masyarakat di sejumlah lokasi keramaian. Mulai pasar hingga tempat tempat hiburan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep Agus Mulyono mengutarakan, sejak diberlakukan PPKM darurat, pasien Covid-19 menurun.  Klaim tersebut dikuatkan juga oleh Kasubbag Humas Polres Sumenep AKP Widiarti Sutioningtyas  yang mengaku bahwa selama pemberlakuan PPKM darurat sebaran Covid-19 menurun.

“Kami harap, sebaran Covid-19 menurun, dengan memaksimalkan pengamanan,” kata AKP Widiarti.

Harapkan Warga Hargai Penanganan Faskes

Sementara itu, Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr. Nunuk Kristiani menyarankan masyarakat untuk belajar mengenal tanda-tanda terinfeksi Covid-19, seperti memeriksa saturasi setiap saat. Jika tidak memiliki alat tersebut, bisa dikenali dari kondisi suhu tubuh atau lemas.

Jika suhu tubuh naik dan lemas, diharuskan segera pergi ke puskesmas untuk melakukan swab antigen untuk memastikan terinfeksi atau tidak.

“Jadi jangan takut untuk diswab, sebab pasien yang datang ke rumah sakit takut swab. Akhirnya memilih pulang, kalau dia terinfeksi kan bisa menyebarkan virus kemana-mana,” jelasnya mengenai gejala dan ciri-ciri terinfeksi Covid-19.

Seharusnya, imbuh wanita berkacamata ini, orang yang terinfeksi Covid-19 harus disembuhkan di layanan kesehatan dan tempat karantina bagi berstatus orang tanpa gejala (OTG), agar tidak menyebarkan ke orang lain. Tetapi, banyak sekali pasien yang dirujuk namun memilih untuk pulang. Hal tersebut dirasa dr Nunuk menyebabkan banyak yang terinfeksi Covid-19.

“Sampai sekarang masih banyak pasien Covid-19 yang datang dengan kondisi sedang dan berat,” ungkapnya. (timKM)

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan