oleh

Dampak Covid-19, Penyisiran TBC Tersendat

KABARMADURA.ID, SAMPANG/SUMENEP-Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang kesulitan menyisir penderita penyakit tuberculosis (TBC). Wabah Covid-19 menjadi alasan kesulitan tersebut. Sementara, diperkirakan banyak warga enggan periksa ke rumah sakit maupun puskesmas.

Namun Dinkes memiliki catatan angka penderita TBC setiap tahunnya, bahkan diklaim mengalami kenaikan. Namun pada tahun 2020, tidak maksimalnya penyisiran akibat wabah itu, membuat jumlah yang terdeteksi jadi turun. Petugas pendataan angka TBC tahun 2020 dibatasi untuk turun ke lapangan dan masyarakat ketakutan periksa ke rumah sakit.

Sehingga Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sampang, dr Yuliono memprediksi, angka penderita TBC masih terbilang tinggi. Dinkes mengklaim jumlah penderita TBC hanya 812 orang, namun angka itu belum valid.

Soal penanganannya di tahun 2020 lalu, penderita melakukannya secara mandiri. Untuk TBC masuk pemberantasan penyakit, kemudian untuk Covid-19 masuk pada surveilans atau pengamatan dan menjaga imunisasi tubuh.

“Penanganan TBC dan Covid-19 ini tidak sama. Keduanya memikiki porsi masing-masing. Hanya saja untuk penyakitnya sama-sama menular,” imbuhnya. Rabu (24/3/2021).

Pengobatan penyakit TBC paling cepat enam bulan, kecuali ada komplikasi. TBC bisa menyerang bayi, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua, kemudian bersifat kronis. Gejala khasnya adalah batuk yang berlangsung di atas tiga pekan, disertai dahak yang kadang berdarah, demam ringan, keringat malam, serta kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan.

Dalam menanggulangi penyebaran TBC, selain penyisiran juga mensosialisasikan melalui kader-kader kesehatan serta siswa-siswa.

“Kami diminta untuk menyisir orang penderita TBC ini sebanyak-banyaknya. Tapi untuk sementara terkendala Covid-19,” pungkasnya.

Angka penderita TBC di Sumenep setiap tahun fluktuatif. Pada tahun 2021 ini, per Februari, sudah terdeteksi sebanyak 359 penderita.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Moh. Sufyan melalui Staf Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep Herman Pratikno megatakan, penaganannya TBC bisa dilayani di puskesmas.

“Alhamdulillah Sumenep saat ini dapat mempertahankan sebagai terendah jumlah penderita TBC,” ucap Herman, Rabu (24/3/2021).

Menurut anggota Komisi IV DPRD Sumenep M. Syukri, seharusnya Dinkes Sumenep perlu membuat program khusus mengenai pencegahan TBC. Misalnya mensosialisasikan di setiap kecamatan dengan mengundang masyarakat. Kemudian memberikan pemahaman atas bahaya penyakit TBC.

“Saya melihat selama ini tidak ada program yang menyentuh terhadap masyarakat mengenai TBC.,” ujar Syukri. (mal/imd/waw)

 

Komentar

News Feed