oleh

Dampak Murahnya Harga, Petambak Garam Ogah Beli Geomembran

Kabarmadura.id/Sampang-Seiring murahnya harga garam, para petambak garam enggan membeli geomembran untuk meningkatkan kualitas serta produksi garam

Ketua Forum Petani Garam Madura (FPGM) Yanto menyampaikan, lantaran petani garam di Sampang berencana tidak berproduksi, sehinga tidak ingin membeli geomembran, kecuali kondisi harga garam sudah stabil

“Geomembran itu memang bagus, tapi untuk saat ini kami tidak akan membeli itu, karena akan rugi,” ungkapnya. Rabu (5/2/2020).

Bahkan ia juga mengatakan, saat ini garamnya masih menumpuk dan tidak tahu harus bagaimana. Yanto hanya bisa berharap ada upaya dari pemerintah, karena garam tersebut yang jadi sumber penghasilannya.

“Kami bingung, kalau kondisinya terus-terusan seperti ini, kami bisa berhenti, dan saya tidak menyalahkan siapa-siapa, namun saya berharap saja semoga pemerintah ada rasa kasihan pada para petani garam,” ungkapnya, Rabu (5/2/2020).

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Sampang tidak bisa memberikan upaya lain ke para petambak garam, karena problem yang terjadi tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Bahkan, Kepala Bidang (Kabid) Perikanan dan Budidaya DKPP Sampang M. Mahfud mulai enggan membahas masalah garam. Sebab, apapun peernyatan yang dia sampaikan, tidak banyak berdampak kepada petambak garam.

“Sudah jangan membahas garam, kalaupun dibicarakan panjang lebar, hanya menghabisakan energi saja, karena itu kewenangan pusat yang menjadi problem itu,” ungkapnya.

Padahal, DKPP sudah melaksanakan berbagai program untuk meningkatkan produksi serta kualitas garam. Namun justru dihadapkan pada kendala serapannya.

“Secara kualitas dan kuantitasnya, garam di Sampang sudah bagus, namun kendala di harganya,” imbuhnya.

Namun menurutnya, meskipun pemerintah minim untuk membantu sarana, namun jika harga garam stabil seperti tahun 2018, senilai  Rp1.500 per kilogram, petambak akan mandiri  meskipun tidak dibantu pemerintah.

Bahkan tahun 2018 lalu, banyak yang membeli geomembran, tanpa dibantu oleh pemerintah. Karena masyarakat sudah bisa membeli sendiri untuk peningkatan produksi dan kualitas garam itu

“Lebih banyak yang beli ketimbang yang dibantu, namun ntuk tahun 2019 sampai 2020 ini tidak ada yang beli geomembran sama sekali, karena tidak nututi untuk balik mudalnya,” pungkasnya. (mal/waw)

 

Komentar

News Feed