Dampak PPKM, Penumpang Pelabuhan Kamal Turun Drastis

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M) BERSANDAR: Lalu lalang penumpang yang turun dan naik ke kapal penyebrangan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Surabaya berdampak pada aktivitas penyeberangan Pelabuhan Kamal. Aktivitas penyeberangan tersebut sepi dari pengunjung. Berdasarkan catatan dari angkutan sungai danau dan penyeberangan (ASDP), penurunan penumpang tersebut mencapai 50 persen.

Manajer Usaha ASDP Eva Mardianty menuturkan, sebelum pemberlakukan PSBB sudah mengalami penurunan drastis. Hingga PPKM diberlakukannya mulai tanggal 11 Januari juga berdampak pada penumpang kapal. Katanya, satu kapal hanya menampung setengah dari kapasitasnya.

Bacaan Lainnya

“Normalnya penumpang terjadi hanya pada pagi dan sore hari karena waktu jam kerja para penumpang,” katanya, Selasa (12/1/2020).

Lanjut dia, jika sebelum PPKM, kapal yang disediakan bisa 3 kapal. Setelah wabah Covid-19 hanya bisa mengoperasikan 2 kapal saja. Akibatnya, jam operasional kapal juga dipangkas. Kini kapal tersebut beroperasi mulai jam 6 pagi hingga jam 7 malam saja.

“Biasanya kalau normal mulai jam 5 sampai jam 9 malam,” jelasnya.

Kalau penurunan saat PPKM ini penumpang mencapai 20 persen. Untuk kendaraan roda empat, sebelum PPKM bisa menampung 40 kendaraan roda empat dalam sehari dalam satu kapal. Kini hanya mengangkut 20 hingga 24 kendaraan roda empat saja.

Sedangkan, penumpang kendaraan roda dua, dalam sehari satu kapal hanya mengangkut kisaran 300 kendaraan saja. Selain itu, agar tetap menerapkan protokol kesehatan (protkes), mulai minggu depan pihaknya mewajibkan penumpang memiliki kartu e-toll.

Maka, pembayaran karcis penyeberangan pelabuhan Kamal bukan menggunakan tunai.

“Agar petugas tidak bersentuhan dan berhubungan langsung dengan calon penumpang,” jelasnya.

Terpisah, Wakil Bupati Bangkalan Mohni menyampaikan, untuk Bangkalan masih belum menerapkan PPKM sepenuhnya. Dia meminta, masyarakat agar membatasi aktivitas atau kegiatan ke Surabaya.

Namun, dia meminta, masyarakat membatasi jam operasional kegiatan saat malam hari untuk lokasi-lokasi yang menjadi tempat berkerumun, seperti pusat perbelanjaan atau cafe.

“Jangan melanggar pembatasan jam-nya, saling menghormati wilayah yang berbatasan dengan Bangkalan,” pungkasnya. (ina/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *