oleh

Dana Minim, Kekerasan Perempuan dan Anak Naik

Tahun Ini Hanya Dua Kali Sosialisasi

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Peringatan hari Raden Ajeng (RA) Kartini setiap tanggal 21 April sebagai hari emansipasi wanita, masih banyak ditemukannya kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Bangkalan.

Pada tahun 2019, Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DKBPPA) mencatat setidaknya ada 4 kasus, antara lain 1 kekerasan terhadap perempuan dan 3 kasus pelecehan anak di bawah umur.

“Karena semakin menyusutnya anggaran untuk melakukan sosialisasi, pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak inipun semakin kecil pula,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DKBPPA Bangkalan, Ismanto.

Ismanto menyimpulkan bahwa kekerasan pada perempuan dan anak yang kerap terjadi karena kekerasan terjadi dari faktor kurang pedulinya orang tuanya. Untuk meningkatkan rasa kepedulian orang tua ini, perlunya sosialisasi agar pengetahuan terhadap perempuan dan anak ada.

Namun sayangnya, untuk tahun ini, pihaknya hanya menganggarkan 2 titik sosialisasi saja. Untuk 2 titik tersebut, akan menitikberatkan pada kecamatan yang sering terjadi kasus kekerasan pada perempuan dan anak.

“Tahun ini menyusut sekali dananya, kalau tahun lalu (2018, red) bisa mencapai 4 sampai 8 titik. Untuk pendampingannya saja kita hanya punya dana di bawah Rp1 juta,” tuturnya.

Untuk tahun ini 2019, Ismanto menuturkan hanya sanggup mendanai kasus kekerasan pada perempuan dan anak sebanyak 13 kasus. Jika ada kasus lebih dari itu, harus dianggarkan pada tahun berikutnya.

“Seperti kasus yang terjadi pada tahun 2018 lalu, di Kecamatan Socah ada kekerasan anak di bawah umur  4 tahun oleh pelaku yang berumur 34 tahun dengan dititipkan ke tetangga, dan kemungkinan akan kami dampingi pada tahun ini,” ujarnya.

Ismanto berharap agar pemerintah mau merealisasikan ajuan dana yang telah dikirimkannya pada musrenbang kemarin. Dengan dana yang ada sekarang, menurutnya tidak mencukupi untuk memenuhi kegiatan pendampingan korban hingga kasus terselesaikan. Namun harus ada sosialisasi dan forum anak agar dapat mencegah semakin suburnya kekerasan pada perempuan dan anak.

“Harapan semakin besar anggaran agar kami semakin besar melangkah. Upaya kami agar tidak sia-sia. Anggaran kita semoga dimasukkan ke APBD agar bisa menabah sosialisasi. Kami sudah mengirimi surat agar dimasukkan di musrenbang. Mudah-mudahan nanti terealisasi. Jika dibantu untuk anggaran sosialisainya insyaAllah kita kuat untuk meurunkan kasus,” janji Ismanto.

Sementara itu, berdasarkan data yang diungkap Kasi Pemberdayaan Perempuan dan Anak DKBPPA Bangkalan Endang, pada tahun 2018 saja ada 20 kasus kekerasan pada perempuan dan anak. 20 kasus tersebut dengan rincian 15 kasus kekerasan pada anak dan 5 kasus kekerasan pada perempuan. Kasus paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Bangkalan.

“Biasanya kekerasan pada anak bisaterjadi karena pelecehan seksuak, kekerasan fisik, penculikan dan penelentaran anak. Sedangkan pada perempuan biasanya kekerasan seksual dan KDRT,” tuturnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed