oleh

Darah daging siapa?

By: aien azha*

Mentari menyapaku dalam diam. Aku duduk sendiri di teras depan, menikmati sejuknya panorama. Dengan khayalan yang menjulang tinggi entah sampai dimana, sudah di bulankah? Begitu pertanyaanku ketika aku sedang melamun sendiri. “plak” tiba-tiba tamparan pagi mendarat di pipi kiriku. Ingin sekali aku memarahinya, tapi dia adikku yang baru berumur 4 tahun. Bikin gemas diriku saja, dari pada terus berlanjut pada yang ke dua ku tinggalkan saja dia dalam tatapan diam. Ini bukan hanya pertama kalinya, tapi tiap kali keinginannya tidak terpenuhi dengan segera oleh ibuku dia akan menampar, menendang atau bahkan memukul siapa saja yang ada di dekatnya. Bahkan nenek sekalipun akan jadi korbannya

Hari itu aku libur kuliyah, dan sengaja aku tidak pergi ke kantor (begitulah teman-teman menyebutnya) tempat biasa kita kumpul, karena aku ingin di rumah. Ingin merasakan hangatnya bersama keluarga. Namun ketika itu pula aku harus menerima ocehan hangat ibu dan bapak tiriku karena adikku. Masalahnya sederhana, adikku meninjuku dan kena mata. Secara refleks langsung saja ku dorong adikku sampai terjatuh dan menangis, sehingga akulah yang disemprot habis-habisan oleh ibuku, sambil marah dia berucap “coba kalau adikmu sudah begitu pindah tempat saja!”. Aku yang waktu itu sedang menonton televisi langsung saja bangkit dan berlalu kekamarku dengan tetesan air mata.

***

Mentari belum sepenuhnya bersinar, tapi aku sudah siap dengan diriku untuk pergi ke kampus karena ada acara. Tapi sebelnya, sebelum aku pergi keluar rumah adikku sudah menarik tasku dan melarangku pergi. Ku paksa saja menarik tasku dan berlalu, tapi dia malah nangis dengan kerasnya sambil teriak “mbak gak boleh berangkat.” Ku diamkan saja, dan ku nyalakan sepedaku. “siapa kamu, dari kemarin slalu ngajak aku berantem dan ujungnya aku yang disalahin.” Gumamku dalam hati. “cepatlah bergegas, uang sakunya minta sama kakeknya.” Ujar mama dari dalam rumah, kebetulan saat itu aku masih di halaman, dan aku tak menjumpai kakek tuk sekedar minta uang bensin. “ada bensinnya?” tanya nenekku yang kemudian keluar dari kamarnya karena mendengar suara sepedaku. “tidak ada nek, kakek kemana?” tanyaku memelas. “dia baru saja pergi ke sawah, biar nenek carikan pinjaman di tetangga dulu”. Jawabnya sambil berlalu. Aku diam, “harusnya yang ngasih uang saku itu ibu, bukan nenek atau kakek. Ah, kejam sekali hidupku ini.”

Setelah menerima uang saku yang hanya cukup untuk membeli bensin itu, aku berangkat. Dalam perjalanan seperti saat itu sering kali aku berfikir aku darah daging siapa? Kenapa ibuku selalu saja memanjakan adik dan suaminya. Tidak sadarkah bahwa kakakku yang juga anaknya sudah punya anak yang menjadi cucunya. Tapi pada nyatanya dia tidak pernah memikirkan itu, ibuku masih saja berpangku tangan pada kakek dan nenekku sedang usia mereka sudah tua, tenaga mereka sudah mulai lelah untuk terus di gunakan bekerja. Tapi ibuku tidak pernah sadar akan hal itu, jika saja waktu itu aku ikut ayah, saat mereka berpisah. Ah, ini takdir yang harus ku jalani dan harus ku syukuri. Yang lalu biarlah berlalu.

Tak terasa aku sudah sampai di kampus. Lamunan dalam perjalanku membuatku tidak menyadari bahwa acara sudah mulai. Aku terlambat, tapi tak apa. Karena yang lain juga banyak yang terlambat. Untuk menghilangkan fikiran negatif ku tentang ibu, aku langsung saja berbaur dengan teman-temanku aktifis permak. Ku lupakan semua masalah keluarga ku yang sering menyita waktu, “syukuri saja.”  Begitulah kata sahabat dekatku ketika aku bercerita tentang keadaaanku di rumah.

Keesokan harinya, aku berkumpul dengan teman-temanku di organisasi ekstra kampus yang aku ikuti. Aku diam saja saat itu, karena memang lagi ingin diam. Masalah dalam keluargaku membuatku kadang jadi pemberontak dan kadang juga jadi pribadi yang selalu diam. “mbak aien sekarang banyak diamnya, kenapa mbak?” tanya syafa adik kelasku yang juga aktif di organisasi ekstra kampus itu, kebetulan dia wakil ketuanya. “gak papa dik, hanya ingin diam saja, silahkan kita lanjut rapat buletinnya. Kan sudah ada pembina.” Ucapku datar, dia diam seakan mengerti. Kemudian melanjutkan rapat buletin edesi ke III nya.

***

“kalau kamu mau beli notebook, minta sama kakekmu. Mumpung dia lagi punya uang hasil jual sapinya.” Ujar ibuku pagi itu. Aku hanya diam, “sebenarnya aku anak ibu apa anak kakek?” tanyaku dalam hati. “kata kakekmu sebagian uang itu buat kamu beli notebook.” Ucapnya lagi karena aku tak langsung merespon ucapannya. “iya bu, biar nanti saja saya tanya kakek.” Jawabku datar. Usai mendengar jawabanku ibu langsung berlalu dari kamarku. Hal itu membuat ku sering menangis sendiri. “kapan ya, aku bisa membahagiakan kakek dan nenekku yang merawat ku dan merawat kakakku sejak kecil.” Tangisku malam itu, usai ibu ku memberitahukan perihal aku akan membeli notebook dengan uang kakek.

“coba ien, kamu jangan ladenin adikmu itu. Pindah tempat saja, tidak usah nonton TV.” Ujar ibuku malam itu karena adikku terus memukuliku. Dan aku harus masuk kamarku, mengurungkan niatku untuk nonton TV. Dengan ponsel yang sudah jadul itu, ku telvon saja kontak-kontak yang masih setia bisa ku hubungi, tapi hasilnya nihil, tidak ada yang mengangkat. Ku rebahkan saja diriku hingga aku terlelap. Dan berharap esokku adalah hari yang cerah dimana semua keadilan tercipta utamanya dalam keluargaku. Dan aku selalu berharap bahwa aku memang anak kandung ibuku yang akan selalu di sayang. Seperti aku masih T.K dulu sebelum ibuku menikah lagi. Aku berharap aku bukan anak yang di pungut di gunung seperti kata orang, tapi aku darah daging ibuku yang selalu di manja meski pada nyatanya aku seperti anak angkatnya.

Aku tahu Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk ku lalui. Dan saat ini aku hanya ingin sendiri, merangkai aksara dengan bait kata yang  bisa di pahami dunia. Meski ku tahu bahwa aku tak semahir penulis dan mahasiswa lain di kampusku. Bagiku sekarang, bagaimana caranya aku mendapat pengakuan ibuku bahwa aku anak kandungnya yang butuh perhatiannya, yang butuh tempat sandaran darinya. Aku yang merindukan dirinya dan berbagai kemanjaannya untukku tidak hanya untuk adikku.

Rasanya senja sudah berlalu, dan aku berharap angin membawa kabar gembira untuk masa depanku yang lebih indah. Sehingga mentari selalu menyapa pagi dengan sumringah, tanpa kabut tanpa tetes air mata langit. Dan dunia kembali indah dalam pelukan sang pencipta. Menebar kesejukan dalam nuansa penuh cinta. Bukan lagi berbicara tentang luka dan nestapa. Dia ibuku, aku terlahir dari rahimnya. Walau selama 17 tahun hidupku bergantung pada kakek dan nenekku. Begitukah hiruk pikuk kehidupanku dalam suratan dan siratan takdirNya. Wallahua’lam.

*penulis bernama Ainiyatur Rohmah lahir di Sumenep tanggal 12 Maret 1996.

Aktifis IPPNU di Kab. Sumenep.

Alumni INSTIKA Guluk-guluk tahun 2018.

 

 

Komentar

News Feed