Daring Memberatkan dan Luring Tidak Efisien, Disdik Disibukkan Cari Pola

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) MEMBINGUNGKAN: KBM tatap muka jadi pilihan efektif untuk dilaksanakan sebagaimana rekomendasi Disdik Sumenep.

Kabarmadura.id/SUMENEP/SAMPANG-Pelaksanaan model pembelajaran di luar tatap muka melalui daring, rupanya cukup membebani siswa. Pasalnya guru memberikan tugas beruntun di setiap jam pelajaran.

Sebagaimana disampaikan salah seorang siswa SMA di Sumenep, Moh Firdaus, tugas yang bertubi-tubi membuatnya terkadang harus menyelesaikan sampai dini hari.

Bacaan Lainnya

“Saya pernah sampai pukul 02:00 dini hari, itupun masih belum selesai, paginya kemudian selesaikan dengan ditulis hingga dua lembar. Tugasnya itu dikirim ke HP dan disuruh salin dengan tulis tangan, tiap hari kadang sampai empat tugas atau empat materi yang harus dikerjakan,” katanya, Selasa (4/8/2020).

Merasa terbebani dengan pola baru itu, dia sudah tidak sabar ingin kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka kembali diterapkan. Karena selain yang dipelajari mudah dipahami, ujar Firdaus, juga mengurangi tugas-tugas seperti yang dialami saat ini.

Menanggapi persoalan itu, Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Jawa Timur di Sumenep Syamsul Arifin mengatakan, telah menyosialiasikan format pembelajaran daring ke setiap kepala sekolah.

Bahkan telah menyarankan agar tidak memberatkan siswa. Instruksi itu tidak ada pengecualian bagi sekolah unggulan atau bukan unggulan. Pihaknya juga memantau kinerja guru melalui laporan dari kepala sekolah.

“Dulu saya sudah sampaikan ke setiap kepala bahwa maksimal tugas itu adalah dua materi setiap hari, bahkan efektivitas tidak harus ditunjukkan dengan tugas, banyak cara model yang bisa ditempuh oleh guru,” paparnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang masih terus mencari pola pembelajaran yang lebih efektif diterapkan di tengah wabah Covid-19. Pasalnya, tidak semua sekolah bisa melaksanakan pembelajaran melalui daring, bahkan pembelajaran di luar jaringan (luring) juga dinilai kurang efisien.

Saat ini, sedang dicoba menerapkan pola pembelajaran kalaborasi, yakni menggabungkan pembelajaran daring dan luring. Semisal pada pekan pertama bulan Agustus menerapkan daring, maka pada pekan keduanya sekolah harus menerapkan pembelajaran luring, tujuannya agar pembelajaran lebih efektif, efisien dan hasilnya maksimal.

Plt Kepala Disdik Sampang Nur Alam yang dikonfirmasi melalui Kasi Kurikulum SD Moh. Yanto mengatakan, pembelajaran untuk SD hingga kini masih didominasi luring, karena yang menerapkan pembelajaran daring relatif terbatas.

Alasan menerapkan dua metode sekaligus, daring dan luring, ulas Yanto, karena sama-sama dibutuhkan dalam situasi saat ini. Harapannya bisa menutupi sisi kelemahan masing-masing metode, sehingga pembelajaran lebih efesien dan efektif.

“Di sejumlah sekolah sudah menerapkan kalaborasi pembelajaran daring dan luring, karena kalau hanya daring dan sebaliknya masih dirasa kurang efektif, makanya situasional saja dalam menerapkan metode pembelajaran,” ucap Moh. Yanto, Selasa (4/8/2020).

Mengenai teknis penerapan model pembelajaran kalaborasi itu, sepenuhnya dipasrahkan ke setiap sekolah, dengan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada serta melihat kebutuhan para siswa. Semisal memberikan materi melalui daring, maka pengecekan kepada siswa harus luring, apakah siswa sudah paham atau belum.

“Prinsipnya pembelajaran di tengah wabah ini harus tetap efektif dan efisien, tapi tidak perlu mempersulit diri, yang terpenting materi bisa dipahami dan dimengerti oleh anak-anak,” urainya. (ara/sub/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *