Darul Hasyim Fath; Sang Pejuang Ideologi Kerakyatan

  • Whatsapp
VOKAL: Darul Hasyim Fath saat mengemukakan inspirasinya.

Anak pulau terlarang mudah menyerah, meskipun badai kerap datang tanpa isyarat, gelombang sesekali tak berpihak, musim pancaroba mewarnai keseharian anak-anak yang tumbuh di gugusan kepulauan.” (Darul Hasyim Fath)

MOH TAMIMI, SUMENEP

38 tahun silam, lahir seorang bayi laki-laki di Pulau Masalembu. Tak ada yang menyangka bahwa kelak ia akan menjadi seorang legislator PDI Perjuangan. Ia lahir di pulau yang kerap dipersepsikan bagian dari segitiga bermuda dunia, siapa sangka nasibnya akan seperti sekarang.

Darul Hasyim Fath, namanya. Karirnya di bidang politik penuh tantangan, polemik politik praktis yang tak berkesudahan, namun ia tetap berpegang teguh atas komitmennya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Terbukti, melampaui tiga pemilu, ia tetap tak beranjak dari kandang banteng, partai besutan Megawati Soekarno Putri dengan gagasan Marhaenisme tegak lurus berbakti.

Mewakili kepulauan Masalembu, Raas dan Sepudi, ia tak pernah surut berdiri untuk kepentingan masyarakat pulau. Baginya, parlemen adalah jalan untuk memperjuangkan ideologi kerakyatan

Pernah suatu ketika, ia ditempatkan di komisi pemerintahan. Ia memantik kontroversi, saat memimpin panitia khusus struktur organisasi perangkat daerah. Hubungan legislatif dan eksekutif merenggang, organisasi perangkat daerah diyakini terlalu gemuk, itulah sebabnya harus dirampingkan, jalan berliku dan lobi tanpa henti berujung suasana tak berpihak.

Ia juga menjadi bagian dari inisiator peraturan daerah perlindungan hukum bagi masyarakat tidak mampu.

Menurut Darul, PDI Perjuangan merupakan partai jalan juang bagi setiap generasi yang meyakini bahwa anugerah kemerdekaan adalah jalan kemanusiaan untuk hidup egaliter dan berpihak pada kaum dhuafa yang papa.

Usia belia menjadi legislator dari pulau, tak membuat sulit bergaul dengan sejumlah legislator lainnya dengan rata-rata jauh lebih tua darinya, sikap bersahaja terus lekat padanya.

Terus belajar dan menjadikan siapapun, guru langgam hidup yang tak terganti. Diktum hidup itu pula yang menempanya menjadi politisi cakap dalam bergaul dan teguh dalam komitmen politik yang bernas.

“Politik adalah jalan berpihak bagi kaum lemah yang layak dibela, sebagaimana kekhasan politisi PDI Perjuangan pada umumnya ia pantang berwajah ambigu. Sikap teguh di parlemen mewarnai dinamika politik kabupaten,” ungkap Darul, Selasa (10/9).

Marhaenisme, ajaran Bung Karno yang menjadi sintesis dari sekian ideologi besar dunia, termanifes ke dalam Trisakti, berdaulat secara politik, berdikari dari sisi ekonomi dan berkepribadian dalam wajah kebudayaan, tugas sesungguhnya bagi setiap legislator PDI Perjuangan.

Hal yang membedakan birokrasi dan legislator itu satu saja bagi Darul. Ia berpandaangan, kalau aparatur sipil negara digaji karena kehadirannya, tetapi kalau legislator digaji karena bicaranya. Apabila ada legislator rajin datang ke kantor tetapi menempuh jalan sunyi senyap tanpa sikap, maka subhat gaji yang ia terima. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *