oleh

Debat Kandidat Paslon Cabup dan Cawabup Sumenep, Perhatikan Empat Persoalan

KABARMADURA.ID, Sumenep -Kedua pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) di Kabupaten Sumenep akan berduel argumen pada debat pertama di Hotel Wijaya, Selasa (10/11/2020). Keduanya akan menawarkan solusi masing-masing dari tajuk, Meningkatkan Kesejahteraan dan Pelayanan Masyarakat.

Merespon adanya debat kandidat itu, muncul berbagai masukan dari empat elemen masyarakat. Yakni pengamat politik maupun aktivis eksternal dan internal kampus. Masing-masing, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Aliansi Badan eksekutif Mahasiswa (BEM), di kota dengan berbagai slogan tersebut.

Pengamat Sosial Politik Sumenep Mohammad Ali Al Humaidy mengaku melihat tema debat kandidat, sejatinya kedua paslon harus merefleksi kepemimpinan sebelumnya.  Menurutnya, indeks pembangunan masyarakat (IPM) yang harus ditingkatkan. Sesuai, pada data di Badan Pusat Statistik (BPS)  Jatim, IPM di daerah tahun 2019, 66,22.

“Hanya meningkat 0,93 dari tahun 2018. Karena IPM itu arahanya nanti ke sektor pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, ketika pengangguran itu semakin mengecil, berarti mereka punya lapangan pekerjaan, maka berdampak pada ekonomi keluarga,” jelasnya kepada Kabar Madura, Rabu (04/11/2020).

Selain itu, pengamat asal Kecamatan Batu Putih ini menambahkan, kedua paslon harus segera menemukan solusi terhadap disparitas pembangunan. Utamanya antara kepulauan dan daerah daratan. Sebab, diyakini akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat kepulauan.

Senada dengan Malhum menyoroti IPM, Ketua Cabang PMII Sumenep Ahmad Hariyanto memiliki pandangan yang lebih spesifik. Dia menyarankan agar petani dan nelayan mendapat perhatian lebih. Sehingga kesejahteraannya meningkat. Salah satu gambarannya, mengenai harga garam yang anjlok, yakni berkisar Rp200 ribu–Rp300 ribu per ton.

“Karena rata-rata di Sumenep kalau tidak menjadi petani, iya melaut. Seperti garam Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per ton. Kondisi ini butuh campur tangan daerah untuk mengangkat harga garam lokal meningkat,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Cabang HMI Sumenep Moh Syaehol Hadi juga ikut menyoroti soal petani dan nelayan. Di sisi lain, dia memiliki analisis yang sering dijadikan sebagai orasi ketika turun jalan. Yakni terkait program 1000 wirausaha muda. Menurutnya, program itu memang memiliki tujuan yang baik.

Namun realisasinya tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Bahkan, dia menjelaskan, wirausaha muda yang lolos seleksi tidak profesional. Dia pun memiliki bukti, penerima program itu tidak memanfaatkan bantuannya, melainkan dijual.

“Saya pernah melihat sendiri yang menjual barang bantuannya itu. Ini butuh juga untuk dikaji, karena bisa meningkatkan kesejahteraan, jika berjalan sesuai dengan harapan,” jelasnya.

Sedangkan, Ketua Aliansi BEM)\ Sumenep, Ahmad Kurdi Irfani menyoroti soal pentingnya peningkatan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan di Sumenep. Dia melihat, sumber daya manusia (SDM) yang terdidik bisa meningkatkan kesejahteraan. “Kualitas SDM guru maupun bentuk fasilitas sekolah,” tutup, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA), Madura ini. (idy/ito)

 

Komentar

News Feed