oleh

Dedikasi Abdul Rozak Sebagai Pemuda Pelopor dan Dirikan Kampung Tengger

Kabarmadura.id/Sampang-Abdul Rozak merupakan pemuda asal Desa Banjar, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten sampang yang saat ini menjadi pemuda pelopor tingkat Provinsi jawa Timur (Jatim). Adapun dedikasi yang dibawa untuk menjadi pemuda pelopor tersebut, Abdul Rozak menuturkan banyak hal yang dilakukan perubahan di desanya. Diantaranya merubah pola pikir masyarakat setempat ke hal yang lebih baik, seperti tidak menikahkan anaknya diusia dini, dan tidak menjadikan anaknya sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Selain itu pemuda lulusan kampus Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut menjadikan desa kelahirannya menjadi kampung tengger yang mana, di desa tersebut banyak pagar yang berwarna-warni bercorak Madura. Selain itu, ada beberapa kegiatan yang menonjolkan budaya Madura.

Berkat dedikasi yang dilakukan selama empat tahun tersebut setiap ada kegiatan seperti budaya, akhirnya disepakati oleh tokoh masyarakat, tokoh ulama, dan juga kepala desa untuk mengembalikan budaya Madura, khususnya di desa setempat.

“Saya buat kampung pagar warna-warni di sepanjang kampung yang bercorak Madura. Dan juga disana ada kesepakatan untuk berbusana sesuai dengan kebiasaan adat Madura. Yakni mengedepankan sopan santun,” ungkapnya Kamis (3/9/2020).

Tidak hanya itu, dengan keinginan yang kuat serta semangat yang terus melekat demi masa depan anak desa, yang notabene jauh dari perkembangan, pihaknya membuat taman baca serta sanggar seni. Hal itu karena ia menginginkan anak-anak yang ada di desa merasakan pendidikan yang tidak pernah sebelumnya diajarkan.

Namun, dengan begitu sebelumnya belum ada kesadaran dari masyarakat, sehingga ada sebagian masyarakat yang menolak. Dan itu dijalani selama kurang lebih tiga tahun. Tetapi pada tahun 2019 lalu, dengan jangka panjang dan ketekunan yang dilakukan akhirnya pola pikir masyarakat mulai sadar. Sehingga akhirnya antusiasnya sangat mengapresiasi.

“yang paling sulit itu ada mengubah mindset masyarakat, tetapi dengan program jangka panjang, mindset masyarakat untuk membangun desa, dengan mengedepankan budaya gotong royong, serta melibatkan anak-anak ditaman baca, dan sanggar seni untuk anak usia dini akhirnya, masyarakat sangat mengapresiasi. Dan Yang menjadi semangat saya, anak desa, harus lebih semangat untuk berproses, dimana yang tidak pernah saya rasakan bisa merek rasakan. Dan saya tidak ingin anak desa nikah dini, dan jadi TKI atau TKW,” imbuhnya.

Dikatakan Rozak, soal rencana besar atau grand design tentang program senyum desa Indonesia, yang memang fokus pada bidang sosial dan kemanusian. Adapun berdirinya senyum desa Indonesia ini didirikan pada tahun 2017. Dengan perkembangan yang melesat saat ini anggota yang ada di senyum desa se-Indonesia ada 700 anggota dari 20 koordinator wilayah.

“Saya adalah pendiri senyum desa Indonesia. kampung Tengger dan juga kegiatan-kegiatan selama empat tahun ini adalah kegiatan yang diadakan oleh senyum desa Indonesia itu sendiri,” tuturnya (mal/mam).

Komentar

News Feed