oleh

Defisit APBD Sampang Capai Rp86 M

Kabarmadura.id/Bangkalan-Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sampang, untuk tahun 2020 anggaran belanja diproyeksikan lebih besar dari pendapatan yang ditarget. Tercatat, APBD Sampang mengalai defisit sebesar Rp86 miliar.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Sampang menunjukkan, pendapatan asli daerah (PAD) Rp198 miliar, dana perimbangan Rp1,2 triliun, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp393 miliar, sehingga total pendapatan Rp1,8 triliun.

Sementara belanja daerah selama satu tahun mencapai Rp1,9 triliun. Rinciannya, belanja tidak langsung, meliputi belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja tidak terduga Rp1,06 triliun, dan belanja langsung, meliputi belanja pegawai, barang dan jasa serta modal Rp890 miliar.

Alhasil, pendapatan dalam APBD Sampang lebih kecil dari kebutuhan belanja daerah atau defisit hingga Rp86 miliar.

Kepala BPPKAD Sampang Saryono mengatakan, sebenarnya defisit anggaran masih sebatas rencana atau estimasi kebutuhan anggaran selama satu tahun kedepan, guna mendanai berbagai program kerja dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh setiap organisasi perangkat daerah.

Kata dia, defisit tersebut, sebenarnya sudah bisa ditutupi dengan sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) pada tahun anggaran sebelumnya. Hanya saja hal itu belum diperhitungkan, karena harus melalui mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

“Defisit ini tidak ada masalah dan mempengaruhi keuangan, karena nanti dapat tertutupi dengan Silpa tahun kemarin, jadi anggaran masih berimbang,” kelit Saryono kepada Kabar Madura, Kamis (13/2/2020).

Dirinya menjelaskan, selama ini PAD Sampang hanya bisa menyumbang 10 persen terhadap kebutuhan anggaran. Makanya, kebutuham anggaran masih sangat ketergantungan terhadap dana dari pemerintah pusat atau perimbangan.

Sambung Saryono, Silpa tahun 2019 relatif cukup tinggi, yakni mencapai Rp151 miliar. Maka, dana Silpa itulah, nantinya yang akan dimasukkan lagi pada APBD tahun ini, agar dapat digunakan lagi sesuai pengalokasiannya.

“APBD Sampang ini sekitar 90 persen masih bergantung kepada dana perimbangan dari pusat, jadi defisit ini pasti ada, karena PAD hanya bisa menyumbang sekitar 10 persen kebutuhan anggaran,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang Fadol meminta, pemerintah daerah harus lebih serius lagi dalam merealisasikan dan menyerap anggaran yang tersedia, pihaknya berharap kedepan Silpa dapat diminimalisir.

Di sisi lain, pihaknya terus mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD dari berbagai sumber, semisal sektor pariwisata dan lain sebagainya. Realisasikan program kerja, baik fisik dan non fisik harus sesuai dengan perencanaan, sehingga tidak lagi menyisakan Silpa dan PAD terus ditingkatkan.

“Tingginya Silpa ini, karena lemahnya perencanaan. Maka kedepannya, harus lebih serius dalam merealisasikan program dan terus menggali potensi-potensi daerah yang bisa menyumbang pendapatan, sehingga ketergantungan terhadap dana pusat bisa diminimalisir,” jelasnya. (sub/pin)

 

Komentar

News Feed