Demi Tingkatkan Kualitas Pendidikan Madura, Ubah Pola Pikir Sempit Kaum Muda

  • Whatsapp
KOMPAK: Kru Kabar Madura Biro Sumenep saat mewawancarai Ketua Yayasan Kudsiyah Bahaudin Mudhary di Kampus STIEBA-MADURA, Achsanul Qosasi, Kamis (13/9).

Kabarmadura.id – Di tengah kegiatannya yang padat, Achsanul Qosasi selaku Ketua Yayasan Kudsiyah Bahaudin Mudhary, masih tampak cukup intens mengurus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi KH Bahaudin Mudhary (STIEBA)-MADURA.

Pria yang akrab disapa AQ tersebut, kini lebih sering pulang ke tanah kelahirannya di Kecamatan Lenteng, Sumenep, yang juga menjadi lokasi berdirinya kampus tersebut.

Bacaan Lainnya

Untuk mengulas lebih jauh tentang STIEBA-MADURA, Kabar Madura berkesempatan berbincang lebih dalam dengan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia ini.

Apa mimpi AQ terhadap STIEBA-MADURA?

Ini adalah bagian dari rencana orangtua saya (KH Bahaudin Mudhary, red) untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Madura. Apa yang saya lakukan untuk STIEBA, merupakan mimpi saya; bagaimana memberikan pengetahuan kepada masyarakat Madura, khususnya kaum muda yang akan menghadapi masa depan panjang. Supaya mereka memiliki cara berpikir yang tidak sempit.

Secara global, lebih menitikberatkan perkembangan pengetahuan di luar. Sehingga suatu saat, mereka percaya diri berhadapan dengan pesaing-pesaing dari luar Madura. Selama ini, cara pendidikan Madura, masih kurang disambut oleh lapangan kerja. Makanya, STIEBA lebih menikikberatkan kepada praktik, kepada studi banding, dan diskusi, karena arahnya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan, lima sampai 10 tahun ke depan.

Mengapa memilih ilmu ekonomi, tidak jurusan lain?

Karena potensi-potensi ekonomi di Madura sangat luar biasa. Ternyata, mengembangkan potensi-potensi itu adalah memajukan dan mengembangkan sikap dan sifat enterpreneurship di Madura. Itu kami mulai, nanti bisa diikuti jurusan lain, seperti sains dan lain sebagainya. Tapi, tahap awal adalah pola pikirnya dulu.

Makanya, kami sampaikan ke mahasiswa dan pengelola kampus, cara berpikirnya harus betul-betul berbeda dari yang lain.

Bagaimana kesiapan sarana dan prasarana, tenaga pendidik dan lainnya?

Sudah siap. Saya lihat rekrutmen terhadap dosen juga sangat bagus. Bahkan saya juga sudah berdiskusi dengan dosen-dosen.

Seperti apa strategi untuk memajukan kampus, adakah model yang berbeda?

Kami akan perbanyak kerja sama dengan yang membutuhkan pekerjaan, seperti sejumlah perusahaan. Saya nanti akan sesuaikan dan melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan. Termasuk akan kami perbanyak kerjasama dengan pihak yang memiliki keahlian di bidang-bidang tertentu untuk memberikan pengajaran di STIEBA.

Lebih spesifik, target apa yang ingin dicapai dari lulusannya?

Fokusnya ada dua hal. Pertama, pola pikir dan sikap mereka sudah harus berbeda dari yang dulu. Bisa mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya, dan bisa mengembangkan potensi yang ada di Madura. Caranya, melalui lembaga pendidikan. Tidak ada lain.

Di Madura, khususnya di Sumenep kampus banyak dan persainganya ketat. Apa yang akan dilakukan STIEBA?

Kami tidak mau bersaing. Tapi hanya menjalankan cara kami dengan sistem yang kami punya. Kalau itu bagus, kami bersyukur. Tapi yang pasti, kami tidak akan mengikuti cara pendidikan yang diterapkan seperti saat ini. Di STIEBA pasti akan berbeda.

Kampus baru cenderung kurang diminati oleh masyarakat, bagaimana meyakinkan publik bahwa STIEBA-MADURA layak?

Faktanya memang seperti itu. Kalau kampus baru tidak punya fasilitas, publik tidak akan percaya. Makanya, STIEBA ini dijalankan ketika seluruhnya selesai, sarprasnya lengkap, bahkan perpustakaannya lengkap. Mungkin kampus lain tidak melakukan itu, mungkin ruangannya pinjam. Tapi kalau di sini tidak seperti itu, saat ini fasilitas sudah ada semua dan milik sendiri.

Apa makna Tera’ Tak A-dhamar yang menjadi tagline STIEBA Madura?

Tera’ Tak Adhamar itu artinya bercahaya tanpa lampu. Ilmu itu akan menyinari walaupun gelap. Ilmu itu nur, maka di mana pun akan bersinar, di tempat gelap sekalipun, ilmu akan bercahaya.

Kenapa mengambil tagline itu?

Itu dari orangtua saya, sebagaimana di dalam buku Tera’ Tak Adhamar. (ong/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *