Demo Besar-besaran Petambak Garam Ditolak

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) MENGADU NASIB: Para petambak garam hanya menguras energi tanpa ada hasil yang maksimal.

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Rencana petambak garam mengadakan aksi besar-besaran menemui kendala serius. Pengajuan aksi ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep ditolak dengan alasan masih dalam wabah Covid-19.

Aksi tersebut rencananya akan ditujukan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep ditolak.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan Koordinator Aliansi Masyarakat Garam (AMG) sekaligus Ketua Asosiasi Petambak Garam Abdul Hayat.

Rencana demo itu tadinya untuk memprotes rendahnya harga jual garam dan banyaknya stok garam yang tidak laku terjual. Sehingga pemkab dan DPRD Sumenep dinilai perlu ditekan untuk ikut memperjuangkannya. Karena kondisi pertambak yang sudah sangatlah merugi.

“Kami sudah mengajukan untuk demo besar-besaran pada pemkab. Namun, tertolak karena alasan pandemi Covid-19,” katanya, Selasa (05/01/2020)

Sebelumnya, rencana aksi besar-besaran akan dilaksanakan pada 20 Juli 2020, namun, gagal. Setelah ditangguhkan, kembali diagendakan pada akhir tahun 2020. Namun ditolak lagi karena alasan wabah Covid-19.

“Masih banyak cara lain. Kami tidak akan pernah diam,” tegas Abdul Hayat.

“Jika pemkab masih belum ada progres, kami akan turun sendiri pada pemerintah pusat. Ini demi kebaikan para petambak,” sambung dia.

Menurutnya, keinginan aksi merupakan keperluan mendesak yang harus dijalankan. Sebab, para petambak sudah tidak kuat menahan garamnya yang tidak laku. Ditambah lagi, petambak garam hingga saat ini masih digantung oleh belum adanya penetapan undang-undang nelayan dan perlindungan petambak garam.

Langkah selanjutnya, dirinya hanya berkordinasi dengan PT Garam dengan Pemkab Sumenep melalui pesan di aplikasi media sosial mengenai keharusan memperjuangkan kenaikan harga garam.

Harga garam saat ini senilai Rp250 hingga Rp350 per kilogram, dinilai sangat merugikan petambak, karena tidak mampu menutup modal awal produksi.

“Intinya, harga garam sangat tidak berpihak pada para petambak,” tukasnya.

Sebelumnya, petambak garam bernama Suharto mengungkap, dari awal menggarap hingga sewa lahan bisa menghabiskan ongkos senilai Rp200 hingga Rp300 juta. Tetapi, jika hanya melanjutkan, atau memiliki lahan dan hanya membeli geomembran, menghabiskan modal senilai Rp50 juta.

“Kami sudah sangat rugi dalam panen garam ini,” pungkasnya. (imd/waw)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *