Desa Kertagena Tengah Pertahankan Penghasil Gula Siwalan, Potensial Kembangkan Minyak dan Gas

  • Whatsapp

KABARMADURA.ID, Pamekasan -Meski berada di daerah pelosok di Kabupaten Pamekasan, Desa Kertagena Tengah memiliki keunggulan tersendiri dibanding desa-desa lain di Pamekasan. Berada di wilayah perbukitandi Kecamatan Kadur, desa ini memiliki banyak potensi sumber daya alam (SDA).

Salah satu potensi besar lain yang dimiliki Desa Kertagena Tengah, berupa sumber gas bumi dan minyak mentah. Kedua potensi SDA yang saat ini dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat setempat itu, merupakan bekas peninggalan Belanda yang sudah dibor.

Saat ini potensi besar SDA itu belum dieksplor secara profesional. Kepala Desa Kertagena Tengah Suto Abdurrahman mengaku, belum menemui pihak yang berkapabilatas di bidang itu, di samping lahan yang memiliki sumber minyak bumi dan gas itu merupakan lahan milik perorangan.

Dirinya mengungkap, sesekali pemilik lahan yang terdapat sumber minyak mentah itu, menjual minyak yang dihasilkan kepala kalangan terbatas dengan harga Rp4 ribu per liter.

“Untuk sumber gas, sekarang dimanfaatkan pemilik lahan memenuhi kebutuhan gas untuk memasak. Caranya ya tradisional, hanya menyambungkan pipa kecil dari lubang gas ke dapur untuk memasak,” jelasnya kepada Kabar Madura, Kamis (25/2/2021).

POTENSI BESAR: Kepala Desa Kertagena Tengah Suto Abdurrahman menunjukkan salah satu sumber daya alam (SDA) di desanya berupa sumber gas.

Untuk memaksimalkan eksplorasi potensi desa itu, Suto saat ini mulai menghidupkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diberi nama BUMDes Sejahtera Abadi. Meski belum bergerak secara konkret mengeksplor potensi SDA, BUMDes ini sudah mampu menyumbang pendapatan asli desa (PADes) Rp10 juta per tahun melalui usaha foto copy, toko alat tulis kantor (ATK) dan agen BRILink.

Melalui BUMDes tersebut, Suto berkeinginan untuk mengelola sejumlah potensi alam yang dimiliki oleh desa, mulai pertanian berupa aneka produk olahan siwalan, peternakan, hingga potensi alam berupa sumber minyak bumi dan gas.

Untuk olahan Siwalan sendiri, Pemdes saat ini tengah berupaya mengembangkan potensi di sektor pertanian itu menjadi produk unggulan desa, bahkan menjadi produk unggulan Kabupaten Pamekasan.
Bukan hanya diolah menjadi minuman berupa legen, olahan siwalan diproyeksikan menjadi produk gula semut atau gula kristal merah yang layak dipasarkan di took-toko modern.

Bentuk keseriusan Pemdes Kertagena Tengah dalam mengembangkan produk olahan desa itu, dibuktikan dengan mendatangkan empat jenis mesin pengolah gula, mulai dari mesin penepung, pengayak, perajang, dan oven.
Selain itu, Suto juga mengirimkan tiga warganya untuk mengikuti pelatihan yang bekerjasama dengan Rumah Mesin Jogjakarta untuk meningkatkan kemampuan SDM dalam meningkatkan kualitas produksi produk olahan gula merah.

MEYAKINKAN: Kepala Desa Kertagena Tengah Suto Abdurrahman menunjukan paket mesin pengolah gula siwalan menjadi gula merah kristal.

Keunggulan lain di Desa Kertagen itu juga sungai yang riam. Suto berkeyakinan, aliran sungai itu bisa dijadikan objek wisata arum jeram yang bisa memikat para wisatawan pecinta alam.

“Meski hasilnya belum sempurna, tapi kami terus mencoba untuk memproduksi gula semut merah lebih berkualitas,” yakinnya.

Memiliki luas wilayah 451,684 hektare, desa yang dihuni 4.141 jiwa berdasarkan sensus penduduk Desember 2020 ini, tidak hanya menjadikan potensi SDA sebagai prioritas utama pembangunan, kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian utama Pemdes Kertagena Tengah.

Itu dibuktikan dengan banyaknya lembaga Pendidikan yang ada di desa yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Sumenep ini. Tercatat, 4 pendidikan anak usia dini (PAUD), 4 taman kanak-kanak (TK), 4 sekolah dasar negeri (SDN), 2 sekolah menengah pertama (SMP), 1 madrasah tanawiyah (MTs), 1 sekolah menengah atas (SMA), 1 sekolah menengah kejuruan (SMK), 1 madrasah aliyah (MA), dan 9 madrasah diniyah (MD), berada di desa ini.

Banyaknya lembaga Pendidikan formal du desa yang terbagi menjadi 11 dusun ini juga didukung sarana ibadah yang cukup banyak. Terhitung, 8 masjid dan 28 musalla atau langgar yang berada di Desa Kertagena Tengah.

Suto menyampaikan, banyaknya lembaga pendidikan itu menandakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan tinggi, serta mudah untuk mencari SDM di desa terasebut.

“Tidak sulit kalau mencari SDM di sini,” ujarnya.

Tidak hanya pendidikan, desa yang sebagian besar penduduknya berporfesi sebagai petani dan peternak ini, juga memberikan sarana layanan desa yang prima. Terdapat sebuah perpustakaan esa (Perpusdes) mini yang diberi nama Perpusdes Pelita Hati sebagai saran pendukung bagi pelajar yang ingin mengembangkan wawasan.

Di samping itu, ada tiga kategori pos pelayanan keluarga berencana – kesehatan terpadu (Posyandu), mulai dari posyandu balita, remaja dan lansia sebagai penunjang layanan Kesehatan masyarakat.Sejak Suto memimpin Desa Kertagena Tengah, pemerintah desa (Pemdes) setempat mulai memiliki balai desa sendiri. Kantor yang dibangun pada medio 2017 hingga 2020 itu, memiliki dua lantai yang dilengkapi dengan aula yang cukup luas, serta sarana olahraga.

“Kami akan maksmimalkan segala kemampuan untuk mengeksplor seluruh potensi desa demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (idy/pin/*) 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *