Desa Klampis Barat Diharapkan Menjadi Kawasan Penghasil Petis

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) SEDAP: Olahan petis ikan di Desa Klampis Barat mulai menggeliat di pasar tradisional. Usaha turun temurun itu berhasil merambah kesuksesan.

KABARMADURA.ID | Produksi petis milik UD Dua Bersaudara kini mulai merambah memetik kesuksesan. Para pengusaha kecil itu awalnya hanya meneruskan usaha yang sudah dilakukan oleh pendahulunya secara turun temurun, hanya saja di masa kini, proses produksi dilakukan lebih inovatif dan juga pengembangan kemasan dan pemasaran produk lebih diperluas.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Petis yang biasanya menjadi teman ketika hendak menyantap rujak tentu laku keras dikalangan pemuda. Sehingga bukan hal yang aneh, jika produksi petis itu bisa mencapai 500 botol setiap hari.

Nur Mawaddah pemilik usaha petis yang merupakan generasi ke 7 mengatakan, proses pembuatan petis tidak sulit dan tidak lama seperti yang dibicarakan masyarakat pada umumnya.

Sebab, petis yang awalnya hanya berbahan dasar kuah ikan tongkol dan ikan layar itu hanya perlu dimasak hingga mengental. Lalu kemudian hanya tinggal menyesuaikan rasa. Jika dirasa sudah pas, maka petis akan berhenti diaduk dan akan disiapkan untuk masuk ke dalam botol kemasan.

“Saya sudah lupa generasi ke berapa, tapi ini sudah sejak dahulu sejak orang tua nenek dan buyut saya, sudah ada produksi petis ini,” katanya menceritakan.

Kata Mawaddah, petis yang diproduksi oleh dirinya dibandrol dengan harga yang wajar, yakni setiap botol rasa original dijual dengan harga Rp10 ribu, kemudian jika dengan pedas atau ekstra pedas, dirinya hanya menaikkan harga hingga menjadi Rp 15 ribu setiap botolnya.

“Ini jadi lebih praktis, jadi tidak usah ditambah air lagi, cukup ditambahkan cabai sesuai selera pedas konsumen,” tuturnya.

Mawadah bisa saja merasakan keuntungan hingga Rp3 juta sampai 5 juta rupiah dalam satu bulan produksi. Sebab, selain bahan dasar, dirinya sudah mempekerjakan dua orang karyawan yang membantunya mengolah petis tersebut.

“Kalau dikurangi gaji karyawan dan modal, ya bisa saja minimal untung tiga sampai lima juta dalam sebulan, kalau ada pesanan nambah, ya bisa naik,” terangnya.

Menurutnya produk olahan yang kini sudah dijual dipasar tradisional secara langsung dan juga pemesanan melalui aplikasi WhatsApp. Sehingga dengan mudah pesanan bisa disiapkan sebelum diambil konsumen.

Selain itu, kata perempuan usia 40 tahun itu, dirinya menginginkan agar Desa Klampis Barat mampu bersaing menjadi desa yang memiliki produksi kuliner. Bahkan nanti bisa dikembangkan dan bersaing dengan produk kuliner lainnya.

“Tentu jika kami mampu menjadikan produk kami terkenal, maka akan lebih banyak orang yang akan datang di desa kami untuk melihat langsung pembuatannya,” pungkasnya.

Redaktur: Mohammad Khairul Umam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *