Desa Payudan Dundang Susun RADes Damai Wahid Foundation

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) KOMPAK: Desa Payudan Dundang saat menggelar FGD susun RADES Damai Wahid Foundation

KABARMADURA.ID, GULUK-GULUK-Pada Desember 2017 silam, Desa Payudan Dundang, Kecamatan Guluk-Guluk resmi mendeklarasikan diri sebagai desa damai dalam Program Desa Damai Wahid Foundation.

Program desa damai ini merupakan sebuah program yang mengedepankan mekanisme komunitas yang responsif gender. Tujuannya untuk mempromosikan komunitas yang damai dan keadilan gender di desa atau kelurahan.

Bacaan Lainnya

Empat tahun berlalu, desa damai Payudan Dundang terus mengupayakan terwujudnya desa yang damai dan inklusif difasilitasi oleh Wahid Foundation.

Untuk mewujudkan hal tersebut, sejumlah pihak yang terdiri dari beberapa elemen masyarakat, di antaranya aparatur desa, Bhabinkamtibmas, kelompok perempuan, kelompok pemuda, pemuka agama dan masih banyak elemen masyarakat lainnya yang berada di bawah naungan kelompok kerja (pokja) desa damai Payudan Dundang, diberikan training.

Hal itu sebagai penguatan kapasitas oleh Wahid Foundation pada 26-28 Februari lalu di Surabaya, yakni berupa pemahaman dan tambahan wawasan terkait pentingnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Sekaligus wawasan tentang mekanisme hukum yang sesuai dengan kearifan lokal dan mengedepankan pendekatan yang humanis untuk mendeteksi dan menyelesaikan konflik-konflik sosial yang ada.

Gayung bersambut, pada Rabu, (17/03/2021) Pokja Desa Damai Payudan Dundang langsung tancap gas melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama elemen masyarakat lainnya untuk menyusun Rencana Aksi Desa (RADes) desa damai untuk mengimplementasikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip perdamaian dan berkeadilan gender di desa mereka.

“Dengan adanya Pokja ini, saya harap bisa menambah gagasan dan pandangan- pandangan ke depan untuk membangun masyarakat yang sejahtera, aman, damai, lahir dan batin.” kata Muchlis, Sekretaris Desa Damai Payudan Dundang dalam sambutannya.

Sementara itu, Program Officer Wahid Foundation, Fanani, menjelaskan pentingnya terlaksananya penyusunan RADes tersebut. Menurutnya, rencana aksi desa selaras dengan Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial Tahun 2014-2019 (RAN P3AKS) dan juga Rencana Aksi Nasional Penanggulangan dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan (RAN PE) yang mengarah pada terorisme.

Selain itu, lanjut Fanani, terlaksananya Program Desa Damai di Desa Payudan Dundang dan dua desa lainnya di Malang dan Batu diharapkan menjadi pelopor bagi desa lainnya di Jawa Timur.

“Harapannya tiga desa ini bisa menjadi pelopor di antara desa-desa yang lain,” katanya memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan FGD tersebut.

Ditambahkan, Wahid Foundation akan mendorong pemerintah setempat melaksanakan program yang sama.

“Nanti kita akan ada diskusi dengan dinas pemerintahan terkait, bahwa desa ini sudah melaksanakan rencana aksi nasional yang ada di pusat melalui RADes. Syukur-syukur, nanti bisa bareng dengan yang di Malang dan Batu. Kita suarakan di provinsi dan akhirnya bisa menjadi inspirasi untuk pemerintah provinsi untuk melaksanakan aksi semacam ini di seluruh desa di Jawa Timur.” paparnya.

Sementara itu Fasilitator Perwakilan Wahid Foundation di Sumenep, Ulfa mengatakan telah menghasilkan beberapa poin. Di antaranya, pencegahan penggunaan narkoba di kalangan anak muda, pencegahan pernikahan dini, deteksi konflik sosial dan keagamaan, dan juga edukasi tentang pentingnya penggunaan teknologi.

Desa damai yang diinisiasi Wahid Foundation sejak 2017 menjadi semacam inisiatif masyarakat akar rumput untuk berkomitmen menjaga dan menumbuhkan toleransi dan perdamaian di lingkungan masing-masing.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengapresiasi program Desa Damai, bisa dijadikan prototype mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian secara partisipatif.

Pada saat bersamaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga mengakui program desa damai bisa menjadi semacam contoh nyata bagaimana gerakan global Women Peace and Security (WPS) atau perempuan, perdamaian dan keamanan digerakkan dalam level komunitas untuk mempromosikan keadilan gender di masyarakat. (ong/mam)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *