oleh

Desa Potoan Daya Sediakan Lahan Pemakaman Khusus Korban Covid-19

Kabarmadura.id/Pamekasan/Palengaan–Pemerintah Desa Potoan Daya, Kecamatan  Palengaan, Pamekasan membuat gerakan antisipasi kejadian adanya warga meninggal karena terinfeski Covid-19, dengan menyediakan lahan pemakaman khusus jenazah terinfeksi Covid-19.

Kepala Desa Potoan Daya, Moh. Rofiuddin menyampaikan, langkah yang dilakukannya merupakan kesepakatan bersama pemerintah desa dan sejumlah tokoh di desanya. Hal itu, berawal dari meluapnya rasa prihatin terhadap hilangnya rasa empati sejumlah warga di beberapa daerah lain yang menolak jenazah pasien Covid-19 untuk dimakamkan.

Lebih lanjut, penyiapan lahan di desanya tersebut, juga karena hingga kini penyediaan lahan secara khusus sebagai antisipasi masih belum ditegaskan oleh pemerintah Pamekasan.

“Menyediakan lahan kan bukan spekulasi atau doa bahwa akan ada warga yang meninggal karena terinfeksi Covid-19. Ini bagian dari antisipasi jika sampai ada kejadian, warga sudah legawa dan menghormati yang meninggal sebagai syahid sebagaimana fatwa MUI,” ucap Rofiuddin.

Selain menyediakan lahan khusus sebagai antisipasi adanya warga yang meninggal karena terinfeksi Covid-19, Desa Potoan Daya juga menyediakan satu rumah sebagai tempat  bagi warganya yang harus menjalani perawatan dan isolasi.

“Itu berangkat dari tidak adanya empati sebagian warga negara terhadap korban terutama tenaga medis. Langkah ini sebagai edukasi kepada masyarakat setempat akan pentingnya berempati dan mawas diri untuk tidak mengaggap remeh wabah ini,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Fathorrahman yang sekaligus mantan kepala Desa Potoan Dajah mengatakan, lahan yang dijadikan pemakaman khusus korban meninggal akibat Covid-19 di Desa Potoan Daya, merupakan kelanjutan dari kebijakannya saat masih menjabat sebagai kepala Desa Potoan Daya.

Diceritakan Fathor, tahun 2010 pihaknya menambah luasan lahan pemakaman umum bagi masyarakat setempat. Kini, lahan tersebut saat ini  dipersiapkan sebagai pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19.

Ia juga menyayangkan atas apa yang telah terjadi di sejumlah daerah tentang penolakan warga terhadap jenazah pasien Covid-19, terlebih lagi, yang ditolak salah satunya merupakan tenaga medis yang merawat pasien Covid-19.

Dia sangat menyesali tindakan yang dilakukan oleh sekelompok warga tersebut, sebab menurutnya, warga muslim yang meninggal karena suatu wabah penyakit maka ia mati syahid.

“Saat menjabat kepala desa dulu pada tahun 2010 saya menambah tanah pemakaman umum di Desa Potoan Dajah, sehingga diteruskan sekarang oleh adik saya, dia punya ide demikian, karena dia terharu melihat adanya penolakan jenazah Covid-19 di daerah lain,” ulasnya. (km53/bri/waw)

Komentar

News Feed