Desa Sukolilo Barat Tawarkan Wisata Kutai

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MEMPESONA: Pengunjung saat menikmati wisata kuliner pantai di Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Bangkalan, kemarin.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Kegigihan masyarakat dalam membangun wisata pantai di sekitar laut selatan sudah terwujud. Setelah sekitar 10 tahun terbentangnya Jembatan Suramadu, wisata Kuliner Pantai Sukolilo Barat (Kutai Sukbar) di Kecamatan Labang menjadi destinasi pantai pertama di daerah laut selatan. Bibir pantai yang kemudian disulap seolah menjadi restoran apung membuat banyak wisatawan tertarik dan mengunjungi wisata buatan tersebut.

Laut yang menjadi batas antara pulau Madura dan kota metropolitan Surabaya membuat fenomena alam dan pembangunan menjadi sesuatu yang berbeda dan menarik untuk dikunjungi.

Bacaan Lainnya

Rencana pembuatan wisata itu sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. Saat itu keinginan dan cita cita warga begitu kuat. Tetapi akhirnya sempat hilang beberapa saat lantaran kesulitan mendapatkan dana untuk membangun wisata.

Kesulitan itu membuat warga hampir patah semangat untuk memulai kembali pembangunan. Sehingga kemudian sempat hanya menjadi cerita. Setelah awal tahun 2020 kepala desa memberikan peluang besar alokasi dana desa (DD) untuk membangun wisata. Sehingga kemudian rencana dimulai kembali. ”Kami seolah naik turun dipermainkan memiliki semangat ingin memajukan desa ini,” kata Moh Sauki salah satu perangkat desa.

Berdasarkan keinginan warga, wisata tersebut dibangun seperti rumah makan apung yang memiliki spot foto menarik Jembatan Suramadu dari sisi timur, serta menyuguhkan bangunan Kota Surabaya. Tetapi ternyata belum semuanya bisa terwujud. ”Saat itu kami ingin membangun dengan konsep yang sudah besar, tapi ternyata tidak jadi,” ceritanya.

Pada saat awal pembukaan wisata tersebut warga bersorak sorai menyerukan kemenangan seolah mendapatkan rezeki yang besar. Bahkan pada saat pembukaan wisata buatan itu sempat penuh. Bahkan hingga beberapa hari setelah pembukaan. ”Kami seolah bermimpi, masih belum menyangka, lingkungan yang awalnya padat penduduk bisa memiliki tempat wisata seperti ini,” terang lelaki yang menjadi salah satu pengelola wisata itu.

Warga yang sebelumnya membantu melakukan pembangunan memiliki inisiatif akan terus mengembangkan wisata yang saat ini hanya mengelola satu cafe itu. Tetapi kemudian banyak keluarga dan pemuda ikut andil untuk melengkapi fasilitas yang kurang.

”Mulai dari yang menyewakan kamar mandi, jasa foto dan lain lain yang juga menguntungkan,” terangnya

Sauki berharap agar semangat warga dalam membangun desa bisa terus berkembang. Sehingga ke depan desa lebih berkembang dan terus memiliki inovasi perkembangan.

”Saya dan warga harus tetap optimis, karena kami ingin terus berkembang,” pungkasnya. (km59/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *