oleh

Desertasi Iskandar Dzulkarnain Ungkap Ketimpangan Pegaraman yang Terjadi Sejak Era Kolonioal

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Madura, selama ini selalu disebut-sebut sebagai “Pulau Garam”. Huub De Jonge, seorang antropolog asal Belanda yang konsen meneliti massyarakat Madura, menyatakan dalam bukunya, “Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura” (2011), bahwa garam Madura bisa mensejahtarakan rakyat Madura.

Narasi ini terus dikampanyekan hingga hari ini. Banyak orang Madura yang bangga dengan potensi garam di pulau ini.

MOH. ROYCHAN FAJAR, SUMENEP

Namun hari ini, narasi tersebut disanggah. Kesejahteraan rakyat Madura dengan pulau garamnya hanyalah mitos. Sanggahan ini dilakukan oleh Iskandar Dzulkarnain, dengan desertasinya yang bertajuk, “Deindustrialisasi Garam: Formasi Sosial dan Kesenjakalaan Agraria Masyarakat Pegaraman Madura”.

Melalui desertasinya, mahasiswa doktoral Institut Pertanian Bogor (IPB) yang biasa disapa Dadang ini menyatakan, tambak garam yang selama ini dibangga-banggakan oleh sebagian besar masyarakat Madura, justru menjadi sarang eksploitasi dan marginalisasi rakyat Madura.

Sebagaimana diakui oleh Dadang, dalam desertasinya, memang banyak terjadi aksi-aksi ketidakadilan di dunia pegaraman. Pada titik inilah, menurut Dadang, kemudian terjadi apa yang ia sebut “deindustrialisasi garam”, yakni melanggengkan keterpurukan rakyat pegaraman.

“Problem ini berlangsung dalam masa yang sangat panjang. Sejak abad 18, saat kolonialisme Belanda, bahkan berlanjut hingga hari ini,” ungkapnya.

Kondisi ketimpangan struktural seperti ini bukan hadir tanpa perlawanan. Berdasarkan disertasinya, Dadang menjelaskan bahwa perlawanan masyarakat pegaraman berlangsung karena adanya pengalihfungsian lahan, relokasi, dan monopoli yang dilakukan terhadap masyarakat pegaraman Madura, terutama perampasan lahan yang dilakukan oleh Kolonialisme Belanda melalui ‘reorganisasi total’ pegaraman pada tahun 1937 dan pemerintahan Orde Baru melalui ‘modernisasi dan renovasi’ pegaraman di tahun 1975.

Perlawanan masyarakat pegaraman Madura berupa, perlawanan keseharian, perlawanan kolektif dan perlawanan kultural.

Dalam promosi doktoralnya, yang berlangsung secara online, Kamis (25/3/2021), Dr. Drs. Satyawan Sunito, salah satu penguji di luar komisi, menyanjung desertasi ini. Ia merasa ironi bahwa dalam masayrakat pegaraman, sebagaiamana hasil desertasi Dadang, ternyata terdapat carita sedih, tentang eksploitasi dan marginalisasi rakyat pegaraman karena sistem pegaraman yang berlangsung sangat kapitalistik sejak era kolonial Belanda hingga saat ini.

Desertasi Dadang ini, berhasil membuka mata banyak orang di Madura, bahwa di balik narasi-narasi pegaraman rakyat Madura, yang selama ini berlangsung sangat populis, ada sejibun problem kerakyatan yang selama ini nyararis tak diketahui oleh sebagian besar masyarakat Madura. (waw)

 

Komentar

News Feed