oleh

Developer Gemar Habisi Lahan Produktif

Kabarmadura.id/SUMENEP-Sebuah perusahaan pengembang asal Sumenep yang membangun perumahan di areal persawahan, mendapat kritik dari pengamat agraria Kiai A. Dardiri Zubairi. Sebab, perumahan di Desa Babbalan, Kecamatan Batuan tersebut, berdiri di atas lahan produktif.

Koordinator Barisan Ajaga Tanah Ajaga Na’potoh (Batan) Sumenep tersebut mengungkit komitmen pemerintah. Menurutnya, jika pemerintah benar-benar serius ingin mempertahankan wilayah lahan produktif di Sumenep, seharusnya cepat memberikan zonasi yang lebih jelas dan menyeluruh se-Kabupaten Sumenep.

Dengan zonasi lahan produktif yang matang, tidak ada pihak yang mudah mengatakan bahwa itu lokasinya tidak masuk lahan pertanian produktif berkelanjutan. Sebagaimana diketahui,

Seperti yang diketahui, Kabupaten Sumenep sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2018 Tentang Lahan Pertanian  Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dalam perda tersebut, lahan seluas 20.860,0 2 hektare masuk kategori produktif.

Sayangnya, tidak ditindaklanjuti dengan pembuatan peraturan bupati (perbup), padahal, menurut Dardiri, keadaan lahan produktif di Sumenep sudah sangat darurat, apalagi dalam beberapa tahun mendatang. Sekarang saja, sudah sering terjadi banjir karena kurangnya daerah resapan air.

“Itulah yang menjadi kekurangan perda itu menurut saya, zonasinya tidak jelas di mana, seharusnya bisa terbuka kepada publik,” ungkapnya saat dihubungi Kabar Madura, Rabu (27/3).

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep Bambang menyebut, daerah Babbalan tidak termasuk dalam Perda LP2B.

“Jadi kita sudah punya peta di Kecamatan Batuan dan Kecamatan Kota, artinya kita tidak semabarang melakukan rekomendasi, mana yang masuk LP2B mana yang tidak masuk LP2B,” jelasnya.

Padahal, lahan tersebut adalah lahan pertanian. Hal itu diperkuat warga setempat. Kepada Kabar Madura, seorang petani di sekitar lokasi membenarkan bahwa sebelum dibangun perumahan, lokasi tersebut adalah areal persawahan padi saat penghujan dan tembakau saat musim kemarau.

Bahkan, di daerah tersebut, sudah ada tanah yang dijual seharga lebih dari Rp1 miliar, dan tanah tanah tersebut juga akan dibangun perumahan.

“Iya dahulu adalah sawah yang ditanami padi,” ungkapnya saat mencari rumput untuk pakan ternak dan mewanti-wanti agar namanya tidak dikorankan. (mad/rei/waw)

Komentar

News Feed