oleh

Dewan Pendidikan Sampang Tuntut Program Keaksaraan Fungsional Dihentikan

Tidak Efektif, Perlu Terobosan baru

Kabarmadura.id/SAMPANG-Sejak beberapa tahun terakhir, program keaksaraan fungsional (KF) yang bertujuaan menuntaskan buta aksara yang digalakkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang. Namun hingga kini, masih banyak warga yang belum bisa baca dan tulis, khususnya yang berdomisili di wilayah pedesaan.

Atas kondisi tersebut, anggota Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Sampang Zainuddin meminta Disdik harus melakukan evaluasi terkait keberhasilan dan efektifitas program KF. Selain itu, Disdik Sampang juga harus mengevaluasi program kejar paket. Sebab angka buta aksa tetap tinggi, belum ada penerunan yang signifikan.

“Kami kira program KF dan kejar paket ini perlu dievaluasi dan ditinjau ulang, seperti aspek efektivitas dan keberhasilannya, karena beberapa dekade terakhir, penurunan angka buta aksara relatif kecil, belum sebanding dengan besaran anggaran yang dikeluarkan,”pintanya.

Menurut data yang dimilikinya, warga Sampang yang tidak bisa baca tulis masih sekitar 46.000 jiwa. Dengan demikian, Disdik harus bekerja ektra untuk menuntaskannya, dengan membuat terobosan program yang betul-betul efektif, lebih subtansial dan terbukti menurunkan angka buta aksara secara cepat.

Yang terpenting, kata Zainuddin, harus ada evaluasi pencapaian program itu. Jika tidak terbukti, maka harus dicarikan solusi yang lebih akurat dan terbukti.

“Jangan terus dipaksakan, akan tetapi diganti dengan program lebih baik lagi. Kalau sudah tidak terbukti berhasil menekan kasus buta aksara, untuk apa program KF dan kejar paket ini dijalankan terus, harus cari terobosan baru. Disdik harus bersungguh-sungguh, jangan hanya program sekedar terealiasi, tetapi hasilnya minim,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kapala Disdik Sampang Moh. Jupri Riyadi yang dikonfirmasi melalui Kabid Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Subairiyanto berdalih, tidak mudah menuntaskan buta aksara, butuh waktu yang relatif lama, harus diupayakan secara bertahap. Setiap tahun target pemberantasan buta aksara sudah sekitar 2 ribu jiwa.

Upaya pemberantasan buta aksara itu, berdasarkan kriteria, seperti usia, faktor kesehatan, penglihatan dan daya fikir serta umur di atas 59 tahun ke atas sudah tidak dijadikan prioritas. Biasanya, pemberantasan buta aksara ini difokuskan pada warga yang masih sedikit produktif, memiliki kesehatan, penglihatan dan daya fikir yang masih bisa diandalkan.

Jumlah warga buta aksara tersebar di sejumlah daerah, namun mayoritas berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Karang Penang, Kecamatan Sokobanah dan Kecamatan Ketapang. Namun demikian, pihaknya mengklaim, penuntasan buta aksara tersebut tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke instasnsinya, butuh dukungan lintas sektor dan semua elemen masyarakat.

“Untuk penuntasan buta aksara ini, tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah, butuh dukungan dan peran aktif dari semua elemen untuk bersama-sama menuntaskan,” tukasnya. (sub/waw)

Komentar

News Feed