Dewi Ummiyati, Patahkan Mitos Aktivis Selalu Dapat Nilai Jelek

  • Whatsapp

Denganmu PMII//Pergerakanku//Ilmu dan bakti//ku berikan//Adil dan makmur kuperjuangkan//
Untukmu satu tanah airku//Untukmu satu keyakinanku//begtitulah kutipan Mars PMII. Bagi seorang Dewi Ummiyati, Ketua Kopri PMII IAIN Madura,  aktif di pergerakan akan sangat berguna ketika disesuaikan dengan potensinya sehingga bisa bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

KHOYRUL UMAM SYARIF, KOTA

Siang itu, sosok yang periang dan ramah itu, menyambut Kabar Madura dengan senyuman. Ia akan berbagi pengalamannya menjadi aktivis. Ya, dia memang aktivis. Tepatnya, ia adalah Ketua Korpri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAIN Madura.

Sosok yang lahir di Sumenep, 10 November 1996 itu berhasil mematahkan anggapan bahwa menjadi aktivis artinya harus mengorbankan nilai akademik. Buktinya, ia  berhasil lulus di IAIN Madura nilai 3,5.

Pengalamannya itu menjadi kebanggaan tersendiri baginya sebab bisa menuntaskan kuliahnya dengan penuh tanggung jawab. Tidak Cuma itu sekarang dia sedang menlanjutkan S-2nya di Universitas Tronojoyo Madura mengambul jurusan Akuntansi Forensik. Untuk berada di tahapan itu wanita yangg bercita-cita menjadi pengusaha tersebut, menjalani pengalaman pendidikannya dengan penuh untuk sekolah tingkat dasar di selesaikandi Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah lulus pada tahun 2011, unutk jenjang Sekolah menengah pertamanya dirampungkan di Mts Sumber Mas lulus pada tahun 2013, dan untuk sekolah mengah atasnya di selesaikan di MA Sumber Mas Sumenep pada tahun 2015. Dan untuk S1-nya lulus pada tahun 2019.

Selain dirinya aktif diberbagai ektra kampus dia telah ikut beberapa organisasi intra kampus yang meliputi UKK LPM Acivita IAIN Madura, UKM PI dan riset IAIN Madura, Iqda IAIN Madura, Hima akuntasi IAIN Madura, KSPM IAIN Madura, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Ekonomi dan bisnis (Ebis) IAIN Madura.

Ia mengaku tidak akan meninggalkan dunia akademis. Ia ingin menguasai ilmu yag dipelajari dengan baik. Aktif di organiasi bukan alasan untuk kemudian meninggalksn proses belajar yang ditekuninya.

“Jadi jika kita aktif organisasi merupakan bonus dari akdemisi kita,”paparnya.

Untuk bisa melaksanakan aktitivitasnya menjadi seorang akademisi sekaligus menjadi aktivis yaitu ada langkah yang ditempuh yaitu mangatur waktu seefektif munkin. Focus pada target yang dtargetkan melalui upaya apapun asalkan sesuai dengan norma dan agama.

Dia termotivasi oleh untuk menjadi orang yang sukses namun tetap aktif di berbagai organisasi. Adapun tujuannya Ingin mengangkat martabat perempuan yang dianggap selalu lemah oleh sebagian kalangan.

“Bukan kita dimarjinalkan melainkan kita yang menganggap diri kita begitu,” jelasnya.

Dia berharap untuk wanita semasanya ataupun yang berada di bawahnya tidak ada lagi kata menyerah dan takut untuk berproses di organisasi. Sebab organisasilah yang mampu mengantarkan kepada gerbang kesuksesan (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *