oleh

Di Balik Jargon Sumenep Barokah, FJ dan Mas Kiai Target Jamin Kesejahteraan

KABARMADURA.ID, Sumenep – Sumenep Barokah bermakna jaminan kesejahteraan bagi masyarakat Sumenep. Tawaran pasangan Fattah Jasin (FJ) sebagai calon bupati (cabup) dan Kiai Ali Fikri Warits (Mas Kiai) itu, disesuaikan dengan sumber alam di Sumenep yang melimpah, harus mampu menyejahterakan masyarakat.

Sebagai calon wakil bupati (cawabup) Sumenep, keduanya berkomitmen memaksimalkan kinerja dengan target barokah menjamin kesejahteraan masyarakat di Kota Keris ini.

Jargon yang memang menarik ketika disandingkan dengan segala kekayaan yang dimaksud, secara jangka pendek atau tidak membutuhkan waktu terlalu lama sudah bisa dicapai. Salah satunya adalah memberikan jaminan peningkatan pembangunan dan pemberdayaan, baik di daratan dan kepulauan.

Artinya, ada upaya menyatukan dua demensi yang selama ini masih belum tercapai sepenuhnya dalam konsep pemerataan. Salah satu contoh adalah penerangan atau aliran listrik di kepulauan atau sebagian wilayah Sumenep yang terkadang hanya dinikmati selama 12 jam.

Terdapat lima poin inti makna yang tersirat dalam jargon itu. Kelimanya sudah menyebar di berbagai media sosial dan banner-banner yang terpampang di berbagai pelosok Sumenep.

Lima poin itu di antaranya, fokus pada infrastruktur yang bisa berwujud akses jalan, terlebih di kepulauan, termasuk pembangunan dermaga, transportasi laut, termasuk gedung yang menjamin pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

“Yang kedua itu pengembangan ekonomi, mulai dari pengembangan UMKM. Artinya daya beli terhadap produk lokal akan terus difasilitasi, agar semakin tinggi, dan tentunya pemasukan akan lebih bagus. Termasuk pembinaan mutu dan peningkatan produksinya,” kata Gus Acing, sapaan akrab Fattah Jasin, Kamis (1/10/2020).

Makna selanjutnya dari jargon tersebut ialah mengembangkan sumber daya manusia (SDM), salah satunya yaitu dengan memberikan legalitas formal terhadap pesantren-pesantren di Sumenep.

Sebab yang menjadi indeks pembangunan manusia (IDM) rendah khususnya di Sumenep, adalah banyaknya produk pendidikan yang sebenarnya mampu, tapi secara formalitas masih belum tersentuh.

Selain itu, Sumenep Barokah mempunyai refleksi pada budaya Sumenep yang masih kental dengan nuansa religius.

Lebih dalam lagi FJ akan menonjolkan identitas tersebut melalui tradisi lokal, mulai dari kebiasaan yang kental dengan simbolis keraton, Asta Tinggi, dan simbolis santri yang memang titisan raja-raja Sumenep.

“Terakhir atau yang kelima itu, adalah pembenahan atau reformasi birokrasi salah satunya adalah membangun rumah elektronik, sehingga semua pelayanan terutama pengurusan izin itu bisa dilakukan satu pintu, secara online. Tapi kelima makna itu sesuai dengan kebutuhan prioritas daerah-daerah di Sumenep,” imbuhnya.

Sementara untuk solusi terhadap masalah yang dialami masyarakat Sumenep terkait stabilitas harga tembakau dan garam, FJ juga sudah mempunyai konsep.

Untuk kasus tembakau yang belum berpihak kepada petani, pihaknya akan memfasilitasi dengan pabrikan.

“Saya itu punya teman yang ketika musim tembakau membeli ke petani, alhasil dia mempunyai hasil yang berlipat-lipat setelah menjual ke pabrikan, istilah mafia dan sebagainya saya tidak tahu. Berarti kan harga tembakau bagus seandainya dari petani ke pabrikan, dan kami akan mengubah praktik tersebut,” paparnya.

Upaya lainnya, akan memperhatikan secara serius bibit unggul, pupuk yang bagus, obat pertanian, dan sarana penunjang lain yang bisa mempertahankan kualitas produksi pertanian, termasuk tembakau.

Persoalan garam, FJ akan kembali ke masa kejayaan petani garam sekitar tahun 1970, di mana seluruh petani mempunyai sinergitas dan komunitas ini akan juga diterapkan di kasus tembakau. Tetapi untuk mengatasi harga garam, adalah mengembalikan hak masyarakat untuk bertani.

Apalagi aktivitas masyarakat Sumenep itu 60 persen di desa, sehingga konsep meratakan pembangunan dan memberdayakan desa itu adalah visi misi yang bisa dicapai dan dinikmati dalam jangka panjang.

“Nah ini tentunya akan menyadarkan PT Garam, PT itu tugasnya menyerap bukan juga memproduksi garam seperti petani, mereka membeli. Jangan terkesan menyaingi warga. Nah fasilitas itu juga menjadi atensi dan bagian makna Sumenep Barokah,” pungkasnya. (ara/waw)

Komentar

News Feed