Di Balik Karya Maufiqurrahman, Dosen IAI Al Khairat

  • Whatsapp

Kabarmadura.id-Orang besar dihargai dengan karyanya, orang yang besar adalah mereka yang tumbuh dengan keputusannnya sendiri, sehinga karakter yang kuat pasti akan melekat bagi mereka yang berbakat yang muaranya dengan hasil karya berbentuk tulisan Maufiqurrahman, dosen IAI Al Khairat, Palengaan, Pamekasan.

KHOYRUL UMAM SYARIF, KOTA

Pengahargaan terbesar dalam dunia ini adalah bagi mereka yang punya pengetahuan yang cukup, kemudian ide kreatifnya dituangkan berbentuk karya nyata yang bisa dibaca dan dirasakan manfaatnya oleh banyak.

Di awal menulis, sangatlah sulit mendapat ide yang akan dituangkan. Namun setelah sekian lama dijalani dengan tekun dan berusaha dengan sungguh-sungguh, lahir ada tiga buku bacaan; novel berjudul Ciuman Terakhir Ayah, Serpihan Kata KH A. Busyro Karim, Nilai Pendidikan Sufistik KH Imam Zarkasyi (sebagai editor), Kesetaraan dalam Pendidikan Pesantren (dalam proses terbit) dan ada berkisar 10 karya tulis di jurnal bereputasi.

Tujuannnya dalam menulis, supaya ide beriannya bisa dikenal oleh banyak orang. Sehingga bisa sebagai salah satu rujukan bagi yang berkenan dan secara khusus agar bisa mewariskan karya berbentuk tulisan kepada anak bangsa.

Pria yang akrab disapa Mufiq ini bercerita, saat mondok dulu di Nurul Huda Pakandangan Sumenep, setiap tulisannya dimuat di surat kabar dan di majalah ternama. Dari hasil karyanya itu, dia mendapat kompensasi berupa uang dari pengasuhnya.

Hingga kini sosok yang memotivasi dirinya  untuk berkarya adalah Kyai Saifurrahman, selain sebagai pengasuh, juga sebagai orang mengerti terhadap keadaannya dalam melejitkan potensinya.

“Kyai Saifurrahman Nawawi (almarhum) pimpinan Pondok Nurul Huda Pakandangan beliau yang menghargai tulisan saya walaupun hanya dengan sedikit uang. Setiap tulisan saya masuk koran, beliau kasih uang ke saya,” ungkapnya.

Untuk menjalani itu semua, sosok gigih ini memegang prinsip yang diberikan oleh orangtuanya, yaitu sebesar apa pun persoalannya, sekecil apa pun masalahnya, jangan sampai mudah mengeluh.

Dia berharap kepada pemuda yang sedang belajar atau sedang menempuh pendidikan mulai jenjang paling bawah hingga paling atas, supaya terus belajar dengan giat agar bisa mengahasilkan karya yang nyata berbentuk tulisan. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *