oleh

Di Balik Keberhasilan Uzlifatul Laily Menjadi Juara Lomba Menulis Nasional

Kabarmadura.id/Sumenep-Menulis adalah sebuah proses. Begitulah yang selalu diyakini oleh Uzlifatul Laily, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep. Keyakinan itulah yang membuatnya terus menulis hingga saat ini dan meraih prestasi nasional baru-baru ini. Ya, mahasiswa tingkat akhir program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IQT) tersebut berhasil menjadi juara 2 lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Alif.id.

OLEH: FATHORRAHMAN, SUMENEP

Bagi Uzlifatul Laily, prestasi yang diraih tersebut bukan akhir dari prosesnya dalam dunia tulis menulis. Ia akan tetap menulis, berhasil menjadi juara lomba atau tidak, dimuat di media massa atau ditolak. Sudah puluhan lomba yang diikuti dan hanya sedikit yang berhasil dijuarai. Puluhan karya dikirimkan ke media massa, tetapi hanya sedikit saja yang dimuat. Baginya, hal itu merupakan bagian dari proses yang harus dilalui oleh penulis.

Ia tidak menampik bahwa ia pernah merasa putus asa saat karya-karya yang ditulisnya ditolak oleh redaktur maupun disisihkan oleh juri lomba. Namun, beruntunglah, ia selalu punya sahabat dan guru yang mengingatkan dan meyakinkannya agar tetap bertahan dalam dunia tulis menulis. Ia kembali diyakinkan bahwa menulis membutuhkan proses panjang, sebuah keterampilan yang perlu terus diasah, bukan sesutu yang given.

“Guru-guru saya selalu berpesan, kunci keberhasilan dalam menulis adalah menulis, menulis dan menulis. Mereka juga sering menceritakan proses kreatif penulis-penulis besar. Dari situlah saya tahu bahwa proses yang saya jalani masih belum ada apa-apanya dibanding mereka,” ujarnya saat ditemui Kabar Madura, Selasa (30/6/2020).

10 Tahun Berproses

Ia mengakui, proses menulis yang dijalani cukup panjang. Ia mulai belajar menulis sejak duduk di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Hidayah Lanjuk Manding, sekitar tahun 2010 silam. Ketertarikannya dalam dunia tulis menulis dimulai sejak ia rutin dibelikan buku bacaan oleh kakaknya yang saat itu menjadi mahasiswa. Selain rajin membelikan buku bacaan, sang kakak juga mendorongnya untuk menulis catatan harian. Buah konsistensi menulis catatan tersebut langsung diraih pada tahun 2011, yakni dengan meraih juara 2 lomba menulis cerita tentang nabi Muhammad Saw se-Kecamatan Manding.

Selepas MTs, ia mondok di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan Putri dan melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Annuqayah. Di pondok inilah, ia bertemu dengan banyak orang yang menginspirasi. Guru-gurunya di sekolah maupun di pesantren banyak yang menekuni dunia tulis menulis. Kegiatan seminar, diskusi, maupun pelatihan menulis rutin digelar. Hal itulah yang membuatnya bersemangat untuk belajar menulis. Pada jenjang ini, ia bersama kawan-kawannya pernah menjadi finalis lomba karya tulis ilmiah (LKTI) tingkat SMA se- Indonesia di UDINUS Semarang tahun 2016 silam.

Sejak menjadi menjadi mahasiswa, proses menulisnya terus berkembang. Ia sangat beruntung bisa kuliah di INSTIKA karena berkesempatan belajar kepada para dosen yang memiliki tradisi menulis yang kuat.

“Di INSTIKA saya belajar menulis kepada K Mushthafa, K Maimun, Bu Ulya, Pak Fathurrosyid, Pak Asyari dan lainnya. Sampai sekarang, saya tetap menyetor tulisan ke K Maimun hampir setiap minggu,” ujarnya.

Untuk itu, ia sangat berterima kasih kepada guru-guru yang telah mengajarinya selama ini. Walaupun ia tahu, sekarang ia belum sepenuhnya menjadi penulis, tetapi masih dalam tahap belajar menulis. Ia merasa, apa yang diraih saat ini bukanlah sebuah pencapaian, namun bagian dari proses panjang yang harus dijalaninya untuk masa depan. (pai)

Komentar

News Feed