Di Balik Kesuksesan PCNU Sumenep Meraih Dua Penghargaan PWNU Award

  • Whatsapp
KM/Ist-MEMBANGGAKAN: PCNU Sumenep meraih dua penghargaan sekaligus dari PWNU Jatim dalam PWNU Award 2019.

Lakpesdam dan BMT NU Jadi Sumber Kemaslahatan

Selasa (2/7), Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep memboyong dua penghargaan sekaligus, yaitu kategori Lakpesdam dan BMT. Dua penghargaan itu tidak serta merta didapatkan begitu saja tanpa perjuangan, kerja keras,  dan kerja sama semua pihak. Akan tetapi, apa sebenarnya yang telah mereka lakukan sebelumnya?

Moh Tamimi, Sumenep

Ketua PCNU Sumenep A Pandji Taufiq mengungkapkan, sudah selayaknya PCNU Sumenep, khususnya Lakpesdam NU dan BMT NU mendapatkan penghargaan tersebut karena keduanya benar-benar bekerja, berkontribusi, untuk kemaslahatan masyarakat, terutama warga nahdliyin.

Ketua PCNU yang dua kali menjabat berturut-turut tersebut menegaskan, sejak dibentuknya Lakpesdam pada masa KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur, di Sumenep sendiri Lakpesdam tidak pernah fluktuatif, pergerakannya terus hidup dari waktu ke waktu. Demikian juga dengan BMT NU, koperasi yang berawal dari Kecamatan Gapura tersebut terus tumbuh berkembang mengelola keuangan dan memberdayakan umat.

“Penghargaan yang sesungguhnya adalah dari masyarakat, bukan dari instansi. Akan tetapi, penghargaan dari instansi bisa dijadikan motivasi untuk terus melakukan kebaikan,” ungkap ketua PCNU Sumenep yang akrab disapa Pandji tersebut saat ditemui di kediamannya, Rabu (3/7).

Direktur Lembaga Kajian dan Pembangunan Sumber Daya  Manusia  (Lakpesdam) Ahmad Saheri mengungkapkan, perjuangannya dalam menjalankan roda lembaga yang dipimpinnya memang tidaklah mudah, banyak hal yang harus dikorbankan, baik tenaga maupun materi.

Adapun yang menjadi kelebihan Lakpesdam NU Sumenep disbanding Lakpesdam di kabupaten lainnya, berdasarkan penilaian dewan juri Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU), adalah banyaknya kegiatan, kemandiriannya dalam mengelola lembaga, dan out put dari acara yang diselenggarakan.

“Misalnya, teman-teman tidak hanya mengorbankan waktu dan tenaganya untuk suksesnya sebuah kegiatan, tetapi juga materi. Misalnya sumbangan singkong, sumbangan kacang, saya rasa itu yang sulit kita temukan,” ungkap Ahmad saat dihubungi, Rabu (3/7).

Ahmad mencontohkan ketika membuat kegiatan Tawajuhan Aswaja, dalam kegiatan itu untuk konsumsi mereka sumbangan makanan-makanan lokal, selain sebagai bentuk kemandirian, hal itu secara tidak langsung juga sebagai bentuk pemberdayaan terhadap para petani dengan cara memanfaatkan hasil taninya.

Selain itu, Lakpesdam ini dianggap berhasil dalam menebarkan dan mengkader para penggerak paham Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah yang segmentasinya adalah para pemuda NU, salah satunya dari kegiatan Tawajuhan Aswaja tersebut. Selain itu, demi membuat para kaum muda melek tentang keuangan pemerintahan, diadakan sekolah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang diselenggarakan selama tiga hari. Ahmad mengaku, menjaring kaum muda supaya menjadi penggerak ini bukan perkara mudah, butuh kekuatan ekstra.

Tidak jauh berbeda kisahnya dengan perjuangan Ahmad Saheri, halangan dan rintangan juga berhasil dihadapi oleh Manajer Baitul Mal wat Tamwil Nuansa Umat (BMT NU) Masyudi. Awal karirnya dalam mengembangkan dan mengelola keuangan warga nahdliyin tidak semulus dan segampang yang orang kebanyakan kira, apalagi kalau hanya melihat aset BMT NU saat ini yang tembus Rp234 miliar.

Tahun 2002, Masyudi dipercaya Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Gapura menjadi Ketua Lembaga Perekonomian. Dengan banyaknya program pada saat itu, pihaknya memutuskan untuk mendirikan BMT NU pada tahun 2004 yang salah satu tujuannya adalah membantu masyarakat dalam masalah keuangan. Yudi, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa pada waktu itu di daerahnya banyak praktik rentenir yang mencekik rakyat.

Bermodalkan uang Rp400 ribu rupiah, Yudi mengendarai motornya sendiri dari satu orang ke orang yang lain, dari satu rumah ke rumah yang lain untuk menawarkan jasanya, simpan-pinjam uang. Akan tetapi, niat tulusnya membantu masyarakat tidak mendapat sambutan baik dari rentenir yang selama ini memeras keringat saudaranya, intimidasi kerap didapatkan oleh Masyudi karena dianggap mengganggu bisnisnya.

“Pada awalnya sih iya, ada beberapa intimidasi. Waktu itu hp, WA, masih jarang, jadi ada yang berupa surat kaleng dan semacamnya. Terutama dari mereka yang menjalankan praktik rentenir,” kenang Manager BMT NU tersebut saat dihubungi, Rabu (3/7).

Saat ini kehadiran BMT NU yang digagas oleh warga nahdliyin Sumenep benar-benar terbukti meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebanyak 10 persen omset BMT NU diberikan kepada NU untuk dipergunakan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program.

Ketua PCNU, Direktur Lakpesdam, dan Manager Koperasi Syariah Simpan Pinjam (KSSP) BMT NU berharap, agar NU ke depannya bisa berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik di bidang perekonomian maupun sumber daya manusia. Penghargaan dari PWNU Jatim ini bisa dijadikan motivasi untuk terus berbuat lebih terhadap kemaslahatan masyarakat. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *