oleh

Di Balik Proses Kreatif R Nike Dianita Febrianti

Kabarmadura.id/Bangkalan-Karya tidak mengenal jenis kelamin. Siapa yang mampu melahirkan yang terbaik, maka dia adalah orang yang hebat, apapun jenis kelaminnya. Seperti R Nike Dianita Febrianti.

Oleh: Moh. Saed, Bangkalan

  1. Nike Dianita Febrianti dilahirkan di Bangkalan, 2 Februari 1993. Ia tinggal di Jalan Pemuda Kaffa 76b Junok Bangkalan Madura. Ia menyelesaikan studi S1 Pendidikan Sendratasik di Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2015. Saat ini menjadi pembina sanggar teater Argasa SD Negeri Gading 1 Surabaya dan sanggar Pantomim SD Negeri Pacar Kembang 4 Surabaya. Selain itu, ia juga aktif di Komunitas Masyarakat Lumpur dan Orkes Keroncong Paddhang Tresna.

Sejak dulu, ia suka berkarya. Karya puisinya tergabung dalam antologi bersama Bunga Emellie (2012). Menerbitkan antologi puisi tunggal Di Balik Persimpangan Jalan (2015). Karya puisinya lolos dan tergabung dalam antologi bersama Tifa Nusantara 3 (2016). Menerbitkan antologi puisi tunggal Yang Tak Begitu Perempuan (2016).

Karya lain adalah di bidang teater: sutradara teater dalam naskah Sotoba Komachi (Malam Terakhir) karya Yukio Mishima (2012) , karya dan sutradara dalam pertunjukan non realis Siapa Aku (2014), menjadi sutradara teater realis dalam naskah Tongseng karya Agung Widodo (2013), sutradara teater realis dalam naskah Luka Livia karya Joko Sucipto (2016), sutradara dalam pertunjukan teater Perempuan dan Kapal yang Hilang.

Prestasi yang pernah diraih di antaranya: 3 penyaji terbaik lomba musikalisasi puisi Pekan Seni Pelajar KabuupayjBangkalan (2008), Juara Favorit Lomba Musikalisasi Puisi se-Gerbang Kertasusila (Surabaya 2008), menjadi Penyaji Tamu Musikalisasi Puisi memperingati Bulan Bahasa (Universitas Airlangga 2008), Penyaji Tamu Musikalisasi Puisi dalam Kongres I Bahasa Madura Internasional (Pamekasan 2008), meraih Juara 1 Lomba Baca Puisi STKIP PGRI Bangkalan (2009), Juara 2 Lomba Baca Puisi se-Madura dalam rangka Dies Natalis Sanggar Makan Ati (Pamekasan 2009), Juara 1 Lomba Musikalisasi Puisi Balai Bahasa Jawa Timur (Sidoarjo 2009), Juara 3 Lomba Yel-yel BKKBN se-Jawa Timur (Tulung Agung 2010), menjadi Penyaji Tamu Pertunjukan Sastra (Festival Seni Surabaya, 2010), Penyaji Tamu Orkestra Madura (Taman Budaya Yogyakarta, 2010), Juara 1 Lomba Baca Puisi untuk Gus Dur se-Jawa Timur (Surabaya 2011), Duta PIK-R Jawa Timur dalam Ajang Kreativitas Remaja (Bogor 2011), Juara 1 Festival Pantomim se-Jawa Timur (Surabaya 2012), meraih 5 Penyaji Terbaik Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional (Solo 2013),  Juara 3 Lomba Baca Puisi Peksiminal se-Jawa Timur (Surabaya 2013), bersama Teater Sendratasik mendapat Rekor Muri Pantomim On The Train Jakarta-Surabaya (2013).

Dalam dunia teater, ia mendapat bimbingan dari Teater Garasi di Yogyakarta selama 2 bulan. Selepas dari Garasi, ia sempat ditanyakan untuk melakukan apa. Akhirnya ia menciptakan karya teater yang didasari oleh masalah di Bangkalan sendiri khususnya kaum nelayan. Judul karya teraebut adalah Perempuan dan Kapal yang Hilang.

“Perempuan dan Kapal yang Hilang itu mengangkat kisah nyata dari istri seorang pelaut yang berlayar ke luar negeri. Sehingga saya dapat mengilustrasikan para pelayar di Kabupaten Bangkalan. Bahkan di Bangkalan  sampai ada satu kampung semua para lelakinya itu pergi berlayar ke luar negeri sehingga ini menjadi ide yang sangat menarik bagi saya,” ujarnya.

Dari situlah ia kemudian tertarik untuk mengangkat kehidupan perempuan nelayan yang ditinggal berlayar oleh suaminya hingga berhari-hari.

“Jadi saya tidak terjebak untuk mengangkat tentang pelayarnya maka akan hilang isu perempuannya. Saya pelajari, saya survei bagaimana untuk mengangkat isu perempuannya. Dari situlah saya mendapatkan ide yang melahirkan Perempuan dan Kapal yang Hilang,” ungkapnya.

Untuk selanjutnya ia melakukan riset ke lapangan tentang seorang istri yang menunggu di rumah apa yang mereka alami, dan apa yang mereka rasakan, apa yang terjadi sebenarnya dengan jarak yang jauh, karena ketika sang suami berangkat berlayar bukan hanya satu atau dua bulan melainkan ada yang sampai satu tahun. Ketika sang istri di tinggal pergi berlayar ada apa dengan itu semua apakah mereka bahagia atau sebaliknya  di balik kata mewah.

Hasil riset dan survei yang telah dilakukan tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan penulisan naskah teater, dengan judul Perempuan  dan Kapal yang Hilang. (pai)

Komentar

News Feed