oleh

Di Bawah Umur, Dua Pelaku Pemerkosaan Diperlakukan Berbeda

Kabarmadura.id/Bangkalan– Kasus pemerkosaan di Kokop mulai masuk tahap P1. Dua orang pelaku pemerkosaan bergilir yang masih di bawah umur akan mendapatkan hukuman berbeda dengan keenam pelaku lainnya.

Kedua tersangka yang berusia di bawah umur tersebut adalah Z  berusia 14 tahun dan R berusia 17 tahun. Kasatreskrim Polres Bangkalan, AKP Agus Sobarnapraja menyampaikan, karena keduanya masih dalam kategori anak, maka peradilannya menggunakan sistem peradilan anak.

Hal itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak, yakni berupa Anak Berhadapan Hukum (ABH). Karena keduanya melakukan kejahatan terhadap orang dewasa, maka bukan undang-undang perlindungan anak yang diterapkan meski di bawah umur.

“Jadi dia akan melakukan proses peradilan terpisah, mulai dari pemberkasan hingga penahanannya. Tidak disamakan dengan tersangka yang dewasa,” ujar dia, Senin (13/7/2020).

Dia menjelaskan, untuk proses pemberkasannya harus lebih cepat dari tersangka yang sudah dewasa. Sedangkan untuk putusan pidananya juga lebih ringan dari yang lain. Sebab, dua tersangka masih di bawah umur, sehingga kemungkinan ada keringanan setengah hukuman dari putusan orang dewasa.

Terlebih, kata AKP Agus, kedua tersangka di bawah umur ini mengaku tidak menyetubuhi korban. Pelaku R mengaku hanya memegangi tangan korban dan memegang payudaranya. Sedangkan Z hanya ikut membawa korban ke atas bukit.

“Proses pemberkasan dua minggu sudah harus P-21 (berkas sudah lengkap) dan hukumannya dikurangi 1/2 dari pidana putusan,” jelasnya.

Selain itu, dalam proses persidangan kedua tersangka itu juga akan digelar terpisah dan berbeda serta akan didampingi oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas). Sehingga dalam persidangannya nanti hakim tidak akan memakai toga, tetapi menggunakan pakaian preman atau pakaian biasa.

“Dan setiap sidang si anak ini akan didampingi oleh Bapak,” terangnya.

Terpisah pendamping korban koordinator Pendamping Psikologi Perempuan dan Anak (PPPA) di Bangkalan, Mutmainah menerangkan, saat pemerkosaan terjadi,  korban ditutup mata dan mulutnya. Sehingga, korban tidak mengenali satu-satu dari 8 tersangka.

“Korban tidak bisa melihat juga karena kondisi gelap dan korban hanya mengingat salah satu nama ketika dari 8 korban menyebut salah satu nama tersangkanya,” jelasnya..

Bahkan, korban mengingat hanya 7 orang. Akan tetapi, dia juga ragu bahwa yang memerkosanya 7 orang. Jika kedua pelaku di bawah umur itu tidak ikut menyetubuhi korban, Mutmainah mengatakan, pihak kepolisianlah yang bisa menguak kebenaran masing-masing peran pelaku.

“Hanya pihak kepolisian yang bisa membuktikan itu, sebab, korban sendiri sudah meninggal. Jadi sulit membuktikan kedua pelaku di bawah umur ini ikut menyetubuhi juga atau tidak,” tandasnya. (ina/pai)

Komentar

News Feed