Di Hari Santri, MH Said Abdullah Resmikan Masjid, Singgung Kerja Kerasnya Kawal Dana Abadi Pesantren Berbuah Manis

  • Whatsapp

KABARMADURA.ID;SUMENEP-Hadir bersama keluarga besarnya, MH Said Abdullah meresmikan Masjid Abdullah Syechan Baghraf di Desa Legung Timur Kecamatan Batang-Batang, Jumat (22/10).

Peresmian Masjid yang diberi nama orang tuanya tersebut merupakan Masjid kelima selama beberap tahun terakhir. Antara lain adalah Masjid di Giliraja, di Desa Jabaan, dua Masjid Desa Braji dan Desa Legung Timur.

Disampikan Ketua Banggar DPR RI tersebut, bukan tanpa alasan dirinya memilih membangun Masjid di Pondok Pesantren (Ponpes) Darut Toyyibah di Desa Legung Timur Kecamagan Batang-Batang, karena pada tahun 1984 silam, pernah mengabdi menjadi ustaz di lembaga tersebut.

“Saya dua tahun setengah di sini. Bahkan Saya yang memberi nama Pondok Pesantren Darut Toyyibah dan saya yang memberi nama Madrasah Lughatul Islamiyah,” jelasnya.

Untuk itu, antara dirinya dengan Ponpes teraebut, punya sejarah yang panjang, termasuk dengan pengasuhnya, yakni Nyai Toyyibah.

“Jadi bukan soal pilihan kenapa saya mendirikan Masjid di sini. Ini kewajiban saya untuk mengembangkan Ponpes ini,” tuturnya.

Kemudian, dirinya memilih peresmian Masjid tepat pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini dan bahkan tepat di hari kelahiran politisi senior PDI Perjuangan itu, hal itu rupnya sudah direncanakan.

“Memang saya sengaja. Tapi sebenarnya, pada HSN itulah paling tepat karena itu adalah tonggak perjuangan sejarah yang melekat di republik ini. Bahwa santri adalah yang terdepan dalam menjaga NKRI,” paparnya.

Pada peresmian Masjid itu pula, Said menyinggung tentang dana abadi untuk pesnatren. Menurutnya, bahwa para ulama dan santri berdiri di tonggak paling depan dalam menjaga NKRI. Maka sudah seyogyaknya bagi negara, pemerintah, masyarakat, dan elemen lainnya bergotong royong untuk mengisi dana abadi untuk ponpes.

“Jangan hanya pemerintah, tapi juga korporasi-korporasi besar yang asetnya triliunan juga ikut rembuk masuk di dana abadi pesnatren. Itu penting, pantingnya adalah untuk tidak meninggalkan jejak sejarah perjuangan para santri kita. Tentunya, dalam menghadapi era global ke depan,” katanya.

Untuk penggunaan abadi pesantren, Said memaparkan, diantaranya untuk institusi pesantren, untuk meningkatkn SDM santri, yakni bisa dikirim ke berbagai lembaga pendidikan internasional dengan beasiswa santri nasional.

Untuk dana abadi pesantren sendiri, per tahun sebesar Rp10 triliun. Jangka waktunya hingga sepuluh tahun ke depan, hingga nanti totalnya mencapai Rp100 triliun untuk dana abadi pesantren itu sendiri.

“Ini bagian dari kewajiban negara untuk meletakkan santri pada posisi yang sama dengan pendidikan yang lain,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *