Di Pamekasan, Waktu Warga Makan di Warung hanya 20 Menit

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) DITERITBKAN: Anggota Satpol PP Pamekasan dan Polisi sedang menyisir pedagang yang masih beroperasi di atas pukul 20.00.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN -Penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Pamekasan lebih fleksibel dari pada sebelumnya. Sebab, Kabupaten Pamekasan dalam zonasi penyebaran Covid-19 tergolong zona kuning.

Kini penerapan PPKM di Pamekasan menggunakan PPKM level 3. Sebelumnya diterapkan PPKM darurat.

Bacaan Lainnya

Kendati mulai fleksibel, Satgas Covid-19 Kabupaten Pamekasan terus menerapkan sejumlah aktivitas penertiban. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pamekasan getol menyisir pertokoan dan pedagang kaki lima (PKL) yang beroperasi di atas pukul 20.00 WIB.

Sebanyak 15 orang personel Satpol PP diterjunkan setiap hari. Mereka bergabung dengan anggota kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kepala Satpol PP Pamekasan Kusairi menyebutkan, ada 55 sampai 60 aparat gabungan yang dikerahkan setiap harinya, guna menegakkan PPKM. Mulai dari penyekatan di perbatasan, pemantauan di posko PPKM, hingga penyisiran ke sejumlah titik.

Mantan Camat Tlanakan itu menjelaskan, pada PPKM level 3 ini masyarakat diperbolehkan berbelanja di pertokoan dan tempat makan. Namun, waktu berbelanja mereka dibatasi sampai 20 menit. Aturan itu lebih ringan dibanding sebelumnya yang hanya memperbolehkan masyarakat menggunakan pesan antar.

“Tapi kami tidak menjaga pembeli selama 20 menit. Kami hanya memberikan penyadaran. Agar mereka patuhi itu,” ungkap Kusairi.

Mantan Camat Batumarmar itu menuturkan, dalam praktiknya, penegakan PPKM dilakukan secara humanis. Yakni, dengan tetap mengedepankan budaya ketimuran. Pihaknya sengaja berusaha menghindari terjadinya ketegangan antara pihaknya dengan masyarakat.

Kusyairi hanya mengimbau agar masyarakat patuhi aturan.

“Karena kami belajar dari yang viral di media sosial itu. Jadi, anggota kami dorong untuk tidak represif,” ucap Kusairi.

Di lain pihak, Marjami (45), seorang penjual rujak dan gorengan di Jalan Dirgahayu mengaku sangat merasakan dampak penerapan PPKM.

Semula dia bisa mendapatkan omset Rp50 ribu sampai Rp80 ribu setiap hari. Kini dia harus ikhlas dengan omset Rp15 rinu sampai Rp20 setiap harinya. Karena setiap pukul 20.00 dia diminta menutup dagangannya oleh aparat.

“Saya jualan hanya dari pukul 3 sore. Suami saya pekerjaannya hanya pengayuh becak,” ungkap warga Kelurahan Bugih itu. (ali/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *