oleh

Dia Bulan Sekaligus Matahari

Oleh Baqir Madani*

Menginjak tanggal pertama di bulan molod[1] ini, sayup-sayup salawat dibawa angin dari pelosok-pelosok desa kita. Aku melihat senyummu yang mengembang. Sepertinya kau mulai menyadari, ini tanggal pertama di bulan kelahiran Baginda Nabi.

“Pasti sebentar lagi datang tamu untuk mengundang Ayah. Jangan lupa membawa berkat[2] yang banyak ya, Yah?” mata polosmu berbinar. Persis mata anak kucing yang butuh belaian.

Kau rupanya sudah benar paham, jika bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah, undangan acara molodan[3] akan berdesakan. Kalau sudah mendekati tanggal dua belas, dalam hari dan jam yang sama bisa diisi oleh dua sampai tiga undangan. Begitulah tradisi yang berlaku di kampung kita ini. Sebagai bentuk syukur atas kelahiran Rasulullah, setiap keluarga akan bergantian merayakan molodan dengan bersama-sama membaca kitab Maulid Diba’i atau Maulid Barzanji. Dimulai sejak tanggal satu, berakhir di tanggal tiga puluh bulan molod.

“Mengapa kalau bulan molod akan banyak undangan, Yah?” di usiamu yang menginjak angka sembilan tahun, kau mulai ingin tahu banyak hal. Baiklah. Aku kemudian mengajakmu ke ruang depan. Aku rasa, ini waktu dan momen yang tepat untuk mengenalkan sosok Rasulullah kepadamu.

Aku duduk di atas sofa, merenggangkan lipatan sarung agar bisa duduk lebih leluasa. “Ini adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad. Kita merayakan molodan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran beliau.”

“Apakah ayah juga akan merayakannya?” kau berdiri menghadapku.

“tentu saja,” sambil menepuk kedua pundakmu.

“Dia ‘kan bukan anggota keluarga kita,” menatapku polos. Penuh rasa ingin tahu. Aku tersenyum. Senang mempunyai anak cerdas sepertimu. Aku menarikmu agar juga duduk dia atas sopa. Sambil mengingat-ingat pelajaran dari ustaz tentang Nabi Muhammad, dulu, sewaktu di pesantren. Aku mulai bercerita. Kau mendengarkan dengan saksama.

***

Sebelum ini, kau belum pernah mendengat nama Bani Quraizah, bukan? Mereka adalah nama suku di zaman Rasulullah. Semua golongan laki-laki dibunuh. Golongan perempuan dan anak-anak ditawan dan hartanya dirampas. Sangsi tiu terpaksa Rasulullah jatuhkan tersebab mereka mengkhianati perjanjian.

Semuanya berawal dari lelaki yang bernama Huyai bin Akhtab. Dia adalah lelaki dari suku Bani Nazir. Satu suku yang sebelumnya telah mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah. Sebab pengkhianatan itu, mereka diusir dari Madinah. Dendam yang membara di hati Huyai bin Akhtab telah mendorongnya untuk mengumpulkan massa dari suku lain. Ia hendak menyerang Madinah dengan kekuatan sekutu yang besar. Ia mulai menghasut suku Quraisy dan Gatafan untuk bersatu menyerang Madinah. Tak luput, ia juga menghasut suku Bani Quraizah. Suku yang sebenarnya tengah berdamai dengan Rasulullah. Bala tentara dari gabungan suku tersebut disebut Ahzab. Hal itulah pemantik perang bernama Perang Ahzab atau Perang Khandak.

Malam itu, Rasulullah pulang dengan membawa kemenangan menghadapi kelompok Ahzab. Beliau lelah. Meletakkan senjata dan hendak mandi. Namun, belum sempat mengguyur air ke tubuh, Jibril datang dengan tiba-tiba sambil membersihkan debu di kepala, bekas debu seusai berjibaku dalam Perang Ahzab yang baru saja selesai.

“Kau meletakkan senjata?” Tanya Jibril, “demi Allah, kami para malaikat belum meletakkannya. Keluarlah menuju mereka!”

Jari telunjuk Jibril mengarah ke tempat suku Bani Quraizah tinggal. Rasulullah bergegas mengumpulkan para shahabat dan menuju Bani Quraizah untuk memberi balasan atas pengkhianatan mereka. Genderang perang ditabuh. Api peperangan di langit Kota Madinah kembali menyala.

Di tempat lain, Ka’ab bin Asad, kepala suku Bani Quraizah tampak gelisah. Sebentar lagi, tentara Islam akan mencabik-cabik suku yang ia pimpin.

“Lebih baik kita menerima agama Muhammad dan masuk Islam. Ini menjadi pilihan terbaik demi keselamatan kita bersama,” ucap Ka’ab bin Asad dengan bibir bergetar ketakutan.

“Tidak. Kami tidak akan meninggalkan ajaran taurat!” Tolak kaum Bani Quraizah mantap.

“Kalau begitu, sebelum melakukan perlawanan, lebih baik anak-anak dan istri kita dibunuh. Kalau kita kalah, kita mati dengan tanpa membawa beban dan kekhawatiran. Kalau kita menang, kita akan mendapatkan anak dan istri yang baru.”

Mereka semua saling bertukar tatap. Menelan ludah. Getir dengan apa yang akan mereka hadapi sebentar lagi.

Hampir satu bulan kaum Muslimin mengepung perkampungan Bani Quraizah. Akhirnya mereka menyerah tanpa melakukan perlawanan berarti. Rasulullah memerintahkan Sa’ad bin Muad untuk menghukum mereka.

“Aku memutuskan agar para petempur mereka dibunuh. Anak-anak dan perempuan ditawan dan harta dibagi-bagikan,” keputusan Sa’ad bin Muad tegas. Ia teringat, kalau Kaum Ahzab menang dengan bantuan dari Bani Quraiah—yang letak kampungnya sangat strategis untuk menyerang Madinah—niscaya umat Islam akan dibumihanguskan tanpa sisa.

Sa’ad bin Muad kemudian bergegas membawa para tahanan eksekusi mati itu ke sebuah lubang di pinggir Pasar Madinah. Mereka semua dikubur di sana.

“Sungguh engkau telah memutuskan sesuai keputusan Allah untuk mereka,” sabda Rasulullah menyetujui keputusan Sa’ad bin Muad.

***

“Apakah Rasulullah itu orangnya keras?” kau kembali mengajukan pertanyaan, di tengah ceritaku yang sebenarnya belum usai.

“Ya, jika menyangkut urusan agama dan umat Islam, beliau akan berlaku tegas, kepada siapa pun. Itulah sebab, mengapa beliau dijuluki matahari.”

“Mengapa harus matahari?”

“Sebab sinar matahari akan menyengat siapa saja yang berani menantangnya, tanpa pandang bulu. Maka manusia membuat rumah, sebagai simbol kekalahannya menghadapi sinar matahari.”

Kau mengangguk. Aku tersenyum.

***

Waktu itu, Rasulullah bergegas menuju Masjid Nabawi yang baru dibangun. Beliau biasa lewat di depan rumah seorang perempuan lansia. Saat itu Rasulullah heran, biasanya lansia itu akan menunggu Rasulullah di depan pintu rumahnya. Setiap Rasulullah lewat, ia akan meludahi Rasulullah dengan ludah yang penuh kebencian. Namun, pada waktu itu, Rasulullah tidak menemukannya berada di depan rumah.

Seusai beribadah, Rasulullah mencari informasi kepada para tetangga mengenai kabar si lansia.

“Wahai Muhammad, perempuan tua yang kau maksud, saat ini sedang berbaring sakit di rumahnya.”

Tanpa pikir panjang, Rasulullah segera berbelok menuju rumah si lansia untuk menjenguknya. Setelah dibukakan pintu, si lansia kaget bukan kepalang.

“Aduhai, betapa luhur budi manusia ini,” gumam si lansia dalam hati, terkesima dengan akhlak Rasulullah yang terlampau agung. “Padahal setiap hari aku meludahinya, tetapi ia menjadi orang pertama yag menjengukku.” Matanya berkaca-kaca, menahan haru yang luar biasa.

“Wahai Muhammad, mengapa kau masih menjengukku? Apakah kau tidak tahu bahwa akulah perempuan yang setiap hari meludahimu.”

Rasulullah tersenyum. Bersahaja. “Aku yakin, kau meludahiku karena belum tahu mengenai kebenaranku. Seandainya kau mengetahuinya, aku yakin kau tidak akan pernah melakukannya,” sabda Rasulullah dengan wajah berseri.

Tubuh lansia itu tiba-tiba bergetar. Ia sesenggukan. Air mata menetes dari kedua tepi matanya yang keriput. “Saksikanlah wahai Muhammad. Sejak saat ini, aku benar-benar beriman atas agamamu,” ucapnya terbata. Pintu hidayah itu telah dibuka.

***

“Begitulah budi Rasulullah yang luhur, Nak. Semestinya kau menjadikannya idola.”

Kau mengangguk pelan. Lalu menatap ruang kosong. Sepertinya kau sedang memutar kembali dua kisah yang barusan aku tuturkan.

“Itulah sebab, mengapa beliau dijuluki bulan?”

“Mengapa harus bulan?” rasa penasaranmu belum usai rupanya.

“Sebab sinar bulan tidak pernah menaruh dendam kepada siapa pun. Bulan selalu bersahabat dengan siapa pun. Ia senantiasa memberikan cahaya kepada siapa saja yang membutuhkan di kegelapan malam. Makanya, tidak ada seorang pun yang silau menatap sinar bulan. Bahkan bulan selalu memaafkan awan yang setiap saat meredupkan sianarnya.”

Setelah hening sesaat, aku mengangkat wajahmu. Oh, kau ternyata sudah terlelap tidur seusai mendengar ceritaku. Aku menggendongmu, membawamu ke dalam kamar untuk dibaringkan di atas ranjang.

Di telingamu yang tengah terlelap, aku bisikkan sebait syair yang setiap malam Jumat aku baca. Berharap kau meniru teladannya.

Anta syamsun anta badrun[4]….”

Sidogiri, 12 Rabiul Awal, 1442. Hadiah ulang tahun untuk Rasulullah.

 

[1] Sebutan orang Madura untuk bulan Rabiul Awal.

[2] Makanan yang dibawa sehabis acara Maulid Nabi.

[3] Sebutan orang Madura untuk acara Maulid Nabi.

[4] Salah-satu bait dalam kitab Maulid Diba’i yang artinya: “(Rasulullah) engkau bulan, engkau matahari.”

Komentar

News Feed